Minggu, 18 Februari 2018

perencanaan usaha sapi perah

PERENCANAAN USAHA SAPI PERAH
Disusun Sebagai Tugas Terstruktur Mata Kuliah Kewirausahaan I











Disusun oleh : KUSWORO
NIM : 15021001


PROGAM STUDI PETERNAKAN
FAKULTAS AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA
2017

I. PENDAHULUAN
Sapi adalah hewan ternak terpenting sebagai sumber daging, susu, ternaga kerja dan kebutuhan lainnya. Sapi menghasilkan sekitar 50% kebutuhan daging dunia, 95% kebutuhan susu dan 85% kebutuhan kulit. Sapi berasal dari famili bovidae seperti halnya bison, banteng, kerbau (bubalus), kerbau afrika (syncherus), dan anoa.
Domestikasi sapi mulai dilakukan sekitar 400 tahun SM. Sapi diperkirakan berasal dari asia tengah, kemudian menyebar ke eropa, afrika dan seluruh wilayah asia. Menjelang akhir abad ke 19, sapi ongole dari india dimasukkan ke pulau sumba dan sejak saat itu pulau tersebut dijadikan pembiakan ongole murni. Pada tahun 1957 telah dilakukan perbaikan mutu genetik sapi Madura dengan jalan menyilangkannya dengan sapi red deen. Persilangan lain yaitu antara sapi lokal (PO) dengan sapi perah Frisian Holstein di grati guna memperoleh sapi perah jenis baru yang sesuai dengan iklim dan kondisi di Indonesia.
Sapi perah merupakan sapi yang dipelihara untuk diambil susunya sebagai produksi utama sedangkan anak dan induk afkir sebagai hasil sampingannya. Susu sapi merupakan salah satu sumber protein hewani yang dibutuhkan tubuh.
Usaha sapi perah adalah salah satu jenis usaha yang sangat potensial. Dan selain itu pemasaran dan perawatan sapi perah relatif mudah, serta secara ekonomis budidaya sapi perah mampu menghasilkan keuntungan.  Pendapatan dari susu sapi perah bersifat harian dan untuk melakukan pembayaran susu sapi tersebut sudah jelas dan pasti mekanismenya. Manfaat lain yang dapat diambil dari usaha sapi perah tersebut yaitu dari kotoran sapi yang masih bisa dimanfaatkan untuk bahan baku energy biogas, dan limbah  dari biogas masih dapat digunakan lagi menjadi pupuk kandang.
Jenis sapi perah yang unggul dan paling banyak dipelihara adalah sapi FH dari belanda, sapi shorhorn dari inggris, brown swiss dari swizterland, droughtmaster dari india. Dari hasil survei menunjukkan bahwa jenis sapi perah yang paling cocok dan menguntungkan untuk dibudidayakan di Indonesia adalah Frisien Holstein.

II. Teknis Budidaya
a. Bibit
jenis sapi yang cocok dipelihara yaitu sapi FH. Sapi ini memiliki ciri – ciri yaitu kulit berwarna belang hitam putih, produksi susu tinggi, pada sapi jantan biasanya agak ganas sedangkan sapi betinanya jinak.
Berikut syarat - syarat yang harus dipenuhi dalam pemilihan bibit sapi perah :
1. Produksi susu tinggi
2. Umur 3,5 – 4,5 tahun dan sudah pernah beranak
3. Berasal dari keturunan yang memiliki produksi susu tinggi
4. Bentuk tubuh seperti baji
5. Jarak antara kedua kaki depan dan kedua kaki belakang cukup lebar
6. Jumlah puting tidak lebih dari 4 dan letaknya simetris
7. sehat dan tidak cacat
b. Perkandangan
Ketika hendak membudidayakan sapi perah, pembuatan andang harus disesuaikan dengan jenis sapi yang dipelihara. Kandang sapi perah harus berlokasi jauh dari pemukiman. Selain itu, kandang  sapi juga harus terletak paling tidak 10 meter jauhnya dari rumah. Kandang juga harus mendapat sinar matahari terutama sinar matahari pagi.
Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris. Sedangkan pada kandang tipe ganda penempatannya dilakukan pada dua baris yang saling berhadapan. Diantara kedua baris tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.
Ukuran kandang untuk sapi pejantan 2 x 2,5 m, untuk sapi betina 1,8 x 2 m, dan kandang pedet cukup 1 x 1,5 m per ekor. Temperatur di sekitar kandang sekitar 25 – 400C dan kelembaban sekitar 75%.
c.  Pakan
Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat. Pakan hijauan berupa rumput gajah, kinggras,odot, rumput benggala. Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan. Pemberian hijauan sebanyak 10% dari bobot badan dan pakan tambahan sebanyak 1 – 2% dari bobot badan. Sapi laktasi memerlukan pakan tambahan sebanyak 25% hijauan dan konsentrat yang cukup dalam ransumnya. Konsentrat sebaiknya diberikan pada pagi hari dan sore hari sebelum sapi diperah. Selain pakan, sapi harus diberi air minum sebanyak 10% dari berat badan per hari. Pemberian minum sebaiknya secara adlibitum agar ternak tidak dehidrasi.
Pemeliharaan utama adalah pemberian pakan yang cukup dan berkualitas, serta menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak yang dipelihara. Pemberian pakan secara kereman dikombinasikan dengan penggembalaan di awal musim kemarau. Pada musim hujan sapi dikandangkan dan pakan diberikan sesuai dengan kebutuhan ternak. Penggembalaan bertujuan untuk memberi kesempatan bergerak pada sapi guna memperkuat kakinya.
d. Perawatan Ternak
Ternak dimandikan 2 hari sekali. Seluruh sapi induk dimandikan setiap hari setelah kandang dibersihkan dan sebelum pemerahan susu. Kandang dibersihkan setiap hari dan kotoran kandang sebaiknya di kumpulkan di tempat lain agar dapat dimanfaatkan menjadi pupuk.
e. Reproduksi
Reproduksi merupakan suatu hal yang yang sangat menentukan keuntungan sapi perah. Untuk memperoleh hasil yang maksimal, sapi harus beranak setahun sekali dan menghasilkan susu setiap tahun selama 300 hari. Oleh karena itu, pengaturan perkawinan sapi harus tepat waktu.
f. Perlakuan dan Pemeliharaan Pedet
Pedet yang baru lahir di biarkan menyusu pada induknya selama satu hari untuk mendapatkan kolostrum, dan hari berikutnya dipisah dengan induknya. Kemudian pedet diberi susu dengan jumlah :
- umur 2 hari diberikan 2 liter susu : 3x pemberian
- umur 3 – 6 hari diberikan 3 liter susu : 3x pemberian
- umur 1 – 3 minggu diberikan 4 liter susu : 3x pemberian
- umur 3 – 6 minggu diberikan 5 liter susu : 3x pemberian
- umur 1,5 – 2 bulan diberikan 4 liter susu : 3x pemberian
- umur 2 – 2,5 bulan diberikan 3 liter susu : 2x pemberian
- umur 2,5 – 3 bulan diberikan 2 liter susu : 2x pemberian
- umur 3 – 3,5 bulan diberikan 1 liter susu : 2x pemberian
Mulai umur satu bulan susu yang diberikan ditambah konsentrat 0,25 kg dan bila sudah mau memakannya mulai ditambah sedikit demi sedikithingga umur 3,5 bulan, saat disapih jumlah konsentrat mencapai 1 kg. Selanjutnya jumlah konsentrat ditambah sedikit demi sedikit hingga umur 6 bulan mencapai 1,5 kg, pada umur 1 tahun mencapai 2 kg,dan pada umur 1,5 tahun mencapai 3 kg.
g. Teknik Pemerahan Susu Sapi
Beberapa jam setelah sapi beranak mulailah keluar iar susunya. Kira – kira tiga jam setelah beranak hendaknya diperah kalau anaknya tidak disusukan pada induknya. Sampai hari ke 5 – 7 susu masih mengandung kolostrum dan harus diberikan kepada anaknya. Pemerahan berikutnya dilakuakan 2 – 3 kali sehari tergantung jumlah susu yang dihasilkan sapi yang bersangkutan. Sebelum sapi diperah, sapi dibersihkan atau dimandikan terlebih dahulu terutama didaerah ambing harus bersih.

Cara pemerahan dibagi menjadi dua yaitu tradisional dan modern.
1. Tradisional
Siapkan alat – alat yang digunakan untuk keperluan ( kain lap, ember bersih, tempat duduk, vaselin, bila perlu tali kecil).
- Ambing yang sudah dicuci di lap hingga kering. Kemudian diraba – raba (diurut pelan) dari atas kebawah untuk merangsang turunnya air susu, sebaiknya dengan air hangat.
- Urut tiap putting dengan menggunakan vaselin untuk mengeluarkan susu, pancaran pertama dibuang.
- Kemudian dilakukan pemerahan yang sebenarnya, 2 puting secara bergantian, sampai tidak keluar air susunya. Susu ditampung di ember. Kemudian ambing dicuci dan di lap.
- Susu hasil pemerahan di pindah ke milk can sambil di liter dan disaring. Kemudian lakukan pencatatan, dan susu siap dipasarkan.
2. Modern
Pemerahan modern menggunakan mesin pemerah susu. Pemerahan dilakukan dengan membuat tekanan vakum pada penampung dan susu diperah keddalam penampung melalui unit perah. Pemerahan dengan mesin perah akan mengurangi kontak susu dengan tukang perah dan lingkungan kandang, sehingga susu hasil perahan lebih bersih dan higienis. Selain itu juga jumlah sapi dan kapasitas pemerahan jauh lebih tinggi. Adapun model mesin perah susu yaitu portable milking mechine, bucket milking mechine, dan flat barn dan herringbone milking mechine.
h. Kesehatan Ternak
Sanitasi dan tindakan preventif harus dilakukan agar sapi terbebas dari penyakit. Apabila ditemukan ternak yang sakit sebaiknya diobati. Penyakit yang sering menyerang ternak perah yaitu :

a. Mastitis
Mastitis adalah penyakit radang ambing yang disebabkan oleh bakteri yang penularannya melalui putting dan kemudian berkembang biak di dalam kelenjar susu. Penularan penyakit ini bisa terjadi akibat kebersihan saat pemerahan dan kebersihan lingkungan yang jelek, kesalahan mesin perah, kesalahan manajemen pemerahan atau adanya luka pada putting. Gejala penyait ini yaitu ditandai dengan pembengkakan pada ambing dan putting, air susu berubah warnanya menjadi merah karena adanya darah atau bercampur nanah, terjadi penurunan produksi susu.Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan dan memenuhi syarat dalam pemerahan. Pengobatan dapat menggunakan antibiotik atau dengan memakai jasa dokter hewan.
b. Bruselosis
Bruselosis ini adalah penyakit reproduksi yang menyebabkan kemajiran. Penyebab nya adalah bakteri brucella abortus. Penyakit ini bersifat zoonosis. Penularannya dapat melalui saluran pencernaan, saluran reproduksi, selaput lender atau kulit yang luka. Gejalanya yaitu keguguran janin antara bulan ke 5 – 8, ambing yang terserang terjadi mastitis. Pengendalian dari penyakit ini yaitu dengan kombinasi antara kebersihan, manqjemen beternak yang baik, dan vaksinasi.
c. Bloat atau Tympani
Bloat merupakan penyakit alat pencernaan yang disertai adanya penimbunan gas dalam lambung akibat proses fermentasi berjalan cepat. Pembesaran rumenoretikulum oleh gas yang terbentuk, bisa dalam bentuk busapersisten yang bercampur isi rumen (kembung primer) dan gas bebas yang terpisah dari ingesta(kembung sekunder). Kembung dapat menyebabkan kematian. Penyebab darikembung yaitu akibat fermentasi makanan yang berlebihan, pemberian leguminosa secara berlebihan, pemberian konsentrat yang terlalu banyak, mengkonsumsi rumput yang terlalu muda atau masih dalam keadaan basah. Gejala klinis yaitu ternak gelisah, sisi perut sebelah kiri nampak membesar dan kencang, apabila bagian perut ditepuk akan mengeluarkan bunyi, kesulitan bernafas, nafsu makan menurun drastis, mata merah, pulsus nadi meningkat. Pencegahannya yaitu dengan tidak membiarkan ternak dalam kondisi terlalu lapar, menghindari pemberian leguminosa maksimal 50%, ternak degembalakan, menghindari pemberian rumput yang masih terlalu muda dan rumput yang masih basah. Pengobatan dapat dilakukan dengan memberikan minyak goring, minyak kayu putih atau minyak atsiri melalui mulut maupun dicampur air hangat, memberikan obat – obatan seperti anti bload, thympanol, menggunakan jasa dokter hewan.
III. Panen
a. Hasil Utama
Hasil utama dari budidaya sapi perah adalah susu yang dihasilkan oleh induk betina. Pemasaran susu dapat melalui koperasi susu atau IPS.
b. Hasil Tambahan
Selain susu sapi, hasil lain yang didapat dari budidaya sapi perah yaitu anak sapi dan sapi afkir. Kotoran ternak juaga dapat dijadikan pupuk kandang.
IV. Analisa Usaha
Untuk anda yang ingin terjun ke usaha sapi perah, sebaiknya anda melakukan analisa usaha terlebih dahulu sebagai sarana antisipasi akan terjadinya kerugian. Disini saya akan memberikan gambaran mengenai analisa usaha sapi perah untuk mengetahui biaya tetap, biaya variable dan kelayakan finansial yang dilakukan dengan cara pendekatan untuk skala usaha 10 ekor dengan sapi yang siap diproduksi, untuk jangka waktu 1 tahun.
a. Biaya Tetap
No
Biaya tetap atau investasi
Harga

1
Pembuatan Kandang
Rp.   40.000.000

2
Pembelian Sapi 12 ekor x Rp. 20.000.000
Rp. 240.000.000

3
Peralatan Perah
Rp.    4.000.000

4
Perlengkapan Lainnya
Rp.    2.000.000


Total Biaya Tetap
Rp. 286.000.000


b. Biaya Variabel per tahun
No
Biaya Variabel
Harga

1
Pakan hijauan 8 kg x 12 ekor x Rp. 300 x 365 hari
Rp. 10.512.000

2
Konsentrat 2 kg x 12 ekor x Rp. 2.700 x 365 hari
Rp. 23.652.000

3
Biaya IB dan keswan 12 ekor x Rp. 45.000
Rp.      540.000

4
Tenaga Kerja untuk 2 orang 12 x Rp.600.000
Rp. 14.400.000

5
Biaya lainnya
Rp.   2.200.000


Total
Rp. 51.304.000


c. Pendapatan
No
Pendapatan
Harga

1
Susu 10 liter x 12 ekor x 300 hari x Rp. 4000
Rp. 144.000.000

2
Pedet 8 ekor x Rp. 6.000.000
Rp.   48.000.000

3
Sapi Afkir 12 ekor x Rp. 13.000.000
Rp. 156.000.000


Total
Rp. 348.000.000


d. Pendapatan apabila dipelihara selama 1 tahun
 Keuntungan = Pendapatan – Biaya Total
= Rp. 348.000.000 – ( Rp.286.000.000 + Rp. 51.304.000 )
= Rp. 348.000.000 – Rp. 337.304.000
= Rp. 10.696.000
Pendapatan peternak selama 1 tahun yaitu Rp. 10.696.000
Pendapatan peternak selama sebulan yaitu Rp 10.696.000 : 12 = Rp. 891.333.333


e. Pendapatan apabila dipelihara selama 5 tahun
1. Biaya total
a. Total Biaya Tetap = Rp. 286.000.000
b. Total Biaya Variabel 5 tahun x Rp. 51.304.000 = Rp. 256.520.000
Total Biaya = Rp. 542.520.000
2. Pendapatan Total
a. Penjualan susu 5 tahun x Rp. 144.000.000 = Rp. 720.000.000
b. Penjualan pedet 5 tahun x Rp. 48.000.000 = Rp. 240.000.000
c. Penjualan Afkir 12 ekor x Rp. 13.000.000 = Rp. 156.000.000
Total Pendapatan = Rp. 1.116.000.000
Keuntungan selama 5 tahun = Total Pendapatan – Total Biaya
= Rp. 1.116.000.000 – Rp. 542.520.000
= Rp. 573.480.000
Jadi pendapatan peternak selama 5 tahun Rp. 573.480.000
Pendapatan peternak per tahun Rp. 573.480.000 : 5 = Rp. 114.696.000
Pendapatan peternak per bulan  Rp 114.696.000 : 12 = Rp. 9.558.000
Jadi keuntungan dapat dimaksimalkan apabila sapi perah dipelihara selama 5 tahun.
BEP harga = Total Biaya : Total Pendapatan
= 542.520.000 : 1.116.000.000
= 0,49

R/C = Total Pendapatan : Total Biaya
= 1.116.000.000 : 542.520.000
= 2,06

V. Analisis Ekonomi Budidaya
a. Analisis Usaha Budidaya
Usaha ternak sapi perah di Indonesia masih bersifat subsisten oleh peternak kecil dan belum mencapai usaha yang berorientasi ekonomi. Rendahnya tingkat produktivitas ternak tersebut lebih disebabkan oleh kurangnya modal, serta pengetahuan / keterampilan  peternak yang mencakup aspek reproduksi, pemberian pakan, pengelolaan hasil pasca panen,  penerapan system recording, pemerahan dan kesehatan ternak. Selain itu pengetahuan peternak mengenai aspek tata niaga harus ditingkatkan sehingga keuntungan yang diperoleh sebanding dengan pemeliharaannya.
b. Gambaran Peluang Agribisnis
Usaha peternakan sapi perah keluarga memberikan keuntungan jika jumlah sapi yang dipelihara minimal sebanyak 6 ekor, walaupun tingkat efisiensinya dapat dicapai dengan minimal pengusahaannya sebanyak 2 ekor dengan rata – rata produksi susu sebanyak 15 ltr/hari. Upaya untuk meningkatkan pendapatan petani melalui pembudidayaan sapi perah tersebut dapat juga dilakukan dengan melakukan diversifikasi usaha. Selain itu melakukan upaya kooperatif dan integrative dengan petani lainnya.





Daftar Pustaka
Akoso budi tri. 1996. Kesehatan Sapi. Yogyakarta : kanisius.
Djarijah, Siregar Abbas. 1996. Usaha Ternak Sapi. Yogyakarta : Kanisius.
Makin Moch. 2011. Tata Laksana Peternakan Sapi Perah. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Pane, Ismed. 1986. Pemuliaan Ternak Sapi. Jakarta : PT Media.
Umar H. 2003. Studi Kelayakan Bisnis. Jakarta : gramedia.

1 komentar: