Minggu, 18 Februari 2018

LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI DAGING DAN KULIT
“NUGGET AYAM”

Disusun Oleh :
KUSWORO


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Daging didefinisikan sebagai semua jaringan hewan yang sesuai untuk dimakan dan tidak menyebabkan gangguan kesehatan bagi yang memakannya. Daging dikenal sebagai bahan pangan yang bernilai gizi tinggi namun mempunyai sifat mudah rusak. Oleh karena itu usaha pengolahan penanganan merupakan cara untuk mengurangi kerusakan daging pasca panen sekaligus memperoleh nilai tambah dari produk yang dihasilkan (Syahrianasabil, 2013).
Chicken nugget merupakan salah satu produk olahan makanan setengah jadi terbuat dari gilingan daging ayam dengan campuran bumbu –bumbu. Pembuatan chicken nugget memanfaatkan daging ayam yang berkuaalitas rendah atau memanfaatkan potongan ayam relatif kecil dan tidak beraturan, kemudian dilekatkan kembali menjadi bentuk yang lebih besar. Chicken nugget yang terbuat dari daging ayam sangat digemari oleh masyarakat, akan tetapi tidak semua lapisan masyarakat dapat menikmatinya karena harganya relatif mahal. Sehingga lebih baik membuat chicken nugget sendiri yang dapat dicampurkan bahan – bahan yang sesuai dengan selera, kualitas yang lebih baik dengan biaya yang perlu dikeluarkan tidak semahal dengan membeli chicken nugget yang siap makan (Nasution, 2012).

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui cara mengolah hasil ternak yaitu pembuatan nugget dari daging ayam agar hasil olahan ternak bernilai ekonomis dan gizi yang tinggi.

C. Manfaat
Manfaat dari praktikum ini adalah memberikan pengetahuan kepada mahasiswa tentang pembuatan nugget ayam, dan dapat menciptakan inovasi, kreasi, dan mengembangkan kemandirian mahasiswa.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Nugget Ayam dan Karasteristiknya
Nugget ayam kaya akan asam amino lisin, yaitu suatu asam amino esensial yang kadarnya sangat rendah pada bahan makanan pokok, seperti beras, jagung, ubi, sagu, dan lain – lain. Mengkonsumsi nasi dengan menggunakan nugget ayam sebagai lauknya merupakan hal yang sangat tepat ditinjau dari segi gizi. Nugget ayam sesekali juaga baik untuk dijadikan sumber protein untuk mendukung proses tumbuh kembang anak – anak balita. Nugget ayam juga merupakan bahan pangan sumber niasin (vitamin B3), vitamin B6, asam pantotenat dan riboflavin (vitamin B2), dengan sumbangan masing – masing terhadap kebutuhan per hari mencapai 68, 34, 16, dan 16 %. Selain itu nugget ayam juga sumber mineral selenium, fosfor dan zink (Amertaningtyas, 2003).
Nugget dibuat dari daging ayam (65%) dengan penambahan pati (20%) dan bumbu – bumbu seperti garam, bawang putih, merica dan air (15%). Menurut Hiu (1991), bahwa penambahan pati atau tapioka berfungsi sebagai binding (pengikat) dan  shaping (pembentuk) serta berperan mengurangi biaya produksi. Tapioka adalah pati dari singkong, kandungan aminopeliktinnya tinggi, tidak mudah menggumpal, daya letaknya tinggi, tidak mudah pecah atau rusak, suhu gelatinisasi yang relatif rendah. Suhu gelatinisasi tapioka berkisar 52 – 640C. Gelatinisasi merupakan proses pengembangan granula pati yang terjadi akibat dari pemanasan yang terjadi pada proses pembuatan nugget dimana pemanasan dilakukan pada suhu sekitar 950 C selama 50 menit (Nurzainah, 2006).
Pembuatan chicken nugget pada umumnya hanya menggunakan daging dari bagian dada. Daging dari bagian ini banyak disukai konsumen karena kandungan lemaknya rendah, serabut dagingnya seragam dan warnanya yang terang. Namun hal ini akan mengakibatkan tingginya biaya produksi yang pada akhirnya akan menyebabkan tingginya harga jual produk chicken nugget. Oleh karena itu perlu diupayakan alternatif pembuatan chicken nugget dengan tanpa mengurangi nilai gizi maupun daya terima konsumen dengan cara pembuatan chicken nugget dari berbagai bagian karkas broiler, sehingga bisa menekan biaya produksi yang pada akhirnya akan lebih bisa diterima konsumen karena harganya yang terjangkau (Sutaryo, 2006).
Rasa nugget sangat bervariasi, tergantung dari komposisi bahan dan jenis bumbu yang digunakan. Pada dassarnya nugget merupakan suatu produk olahan daging berbentuk emulsi, yaitu emulsi minyak di dalam air, seperti halnya produk sosis dan bakso. Nugget dibuat dari daging giling yang diberi bumbu, dicampur bahan pengikat, kemudian dicetak membentuk tertentu, dikukus, dipotong, dan diselimuti perekat tepung (batter) dan dilumuri tepung roti (breading). Selanjutnya digoreng setengah matang dan dibekukan untuk mempertahankan mutunya selama penyimpanan. (Nasution, 2012).
B. Bahan Tambahan Pembuatan Nugget
Bumbu – bumbu adalah bahan yang sengaja ditambahkan dan berguna untuk meningkatkan konsistensi, nilai gizi, cita rasa, mengendalikan keasaman dan kebasaan, memantapkan bentuk dan rupa produk (winarno et al, 1980). Pembuatan nugget memerlukan bahan pembantu yaitu garam, gula, bawang putih dan merica (Aswar, 1995). Garam merupakan komponen bahan makanan yang ditambahkan dan digunakan sebagai penegas cita rasa dan bahan pengawet. Penggunaan garam tidak boleh terlalu banyak karena akan menyebabkan terjadinya penggumpalan (salting out) dan rasa produk menjadi asin. Garam biasanya terdapat secara alamiah dalam makanan atau ditambahkan pada waktu pengolahan dan penyajian makanan. Makanan yang mengandung kurang dari 0,3% dari berat daging yang digunakan (Aswar, 1995).
Bawang putih (Allium sativum L.) berfungsi sebagai penambah aroma serta untuk meningkatkan cita rasa produk. Bawang putih merupakan bahan alami yang ditambahkan ke dalam bahan makanan guna meningkatkan selera makan serta untuk meningkatkan daya awet bahan makanan. Bau yang khas dari bawang putih berasal dari minyak volatil yang mengandung komponen sulfur (Palungkun dan Budiarti, 1992).
Susu bubuk skim dan tepung adalah bahan pengikat yang memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dan dapat meningkatkan emulsifikasi lemak dibandingkan dengan bahan pengisi. Bahan pengikat dalam adonan emulsi dapat berfungsi sebagai bahan pengemulsi. Bahan pengikat juga berfungsi mengurangi penyusutan pada waktu pengolahan dan meningkatkan daya ikat air. Protein dalam bentuk tepung dipercaya dapat memberikan sumbangan terhadap sifat pengikatan. Pengikat terdiri menurut asalnya bahan dari bahan pengikat yang berasal dari hewan dan tumbuhan. Bahan pengikat hewani antara lain susu bubuk skim dan tepung ikan, merica atau lada (paperningrum) termasuk divisi spermatophyta yang sering ditambahkan dalam bahan pangan. Tujuan penambahan merica adalah sebagai penyedap masakan dan memperpanjang daya awet makanan. Lada sangat digemari karena memiliki dua sifat penting yaitu rasa pedas dan aroma khas. Rasa pedas merica disebabkan oleh adanya zat piperin dan piperanin, serta chavicia yang merupakan persenyawaan dari piperin dengan alkaloida (Rismunandar, 1993).
C. Pembuatan Nugget
Pembuatan nugget mencakup lima tahap, yaitu penggilingan yang disertai oleh pencampuran bumbu, es dan bahan tambahan, pengukusan dan pencetakan, pelapisan perekat tepung dan pelumuran tepung roti, penggorengan awal (pre-frying) dan pembekuan (Aswar, 2005). Tahapan pembuatan nugget sebagai berikut :
Penggilingan
Penggilingan daging diusahakan pada suhu dibawah 150C, yaitu dengan menambahkan es pada saat penggilingan daging (Tatono, 1994). Pendinginan ini bertujuan untuk mencegah denaturasi protein aktomiosin oleh panas. Pada proses penggilingan daging terjaddi gesekan – gesekan yang dapat menimbulkan panas. Air yang ditambahkan ke dalam adonan nugget pada waktu penggilingan daging dalam bentuk serpihan es. Air es yang digunakan untuk mempertahankan temperatur selama pendinginan. Air es selain berfungsi sebagai fase pendispersi dalam emulsi daging, juga berfungsi untuk melarutkan protein sarkoplasma dan sebagai pelarut garam yang akan melarutkan protein myofibril (Afrisanti, 2010).
Pengukusan
Pengukusan menyebabkan terjadinya pengembangan granula – granula pati yang disebut gelatinisasi. Gelatinisasi merupakan peristiwa pengembangan granula pati sehingga granula tersebut tidak dapat kembali seperti keadaan semula (Winarno, 1997). Mekanisasi gelatinisasi, diawali oleh granula pati akan menyerap air yang memecah kristal amilosa dan memutuskan ikatan – ikatan struktur heliks dari molekul tersebut. Penambahan air dan pemanasan akan menyebabkan amilosa berdisfusi keluar glanula, sehingga granula tersebut hanya mengandung sebagian amilopektin dan akan pecah membentuk suatu matriks dengan amilosa yang disebut gel (Winarno, 1997).
Batter dan Breading
Menurut Fellow (2000), bahwa perekat tepung (batter) adalah campuran yang terdiri dari air, tepung pati, dan bumbu – bumbu yang digunakan untuk mencelupkan produk sebelum dimasak. Pelumuran tepung roti (breading) merupakan bagian yang paling penting dalam proses pembuatan produk pangan beku dan industri pangan yang lain. Coating adalah tepung yang digunakan untuk melapisi produk – produk makanan dan dapat digunakan untuk melindungi produk dari dehidrasi selama pemasakan dan penyimpanan. Breading dapat membuat produk menjadi renyah, enak dan lezat. Nugget termasuk salah satu produk yang pembuatannya menggunakan batter dan breading. Batter yang digunakan dalam pembuatan nugget berupa tepung halus dan berwarna putih, bersih dan tidak mengandung benda – benda asing. Tepung roti harus segar, berbau khas roti, tidak berbau tengik dan asam, warnanya cemerlang, serpihan rata, tidak berjamur dan tidak mengandung benda – benda asing (BSN, 2002).
Penggorengan
Penggorengan merupakan proses termal yang umum dilakukan orang dengan menggunakan minyak atau lemak pangan. Bahan pangan yang digoreng mempunyai permukaan luar berwarna coklat keemasan. Warna yang muncul disebabkan karena reaksi pencoklatan (Maillard) (ketaren, 1986). Reaksi maillard terjadi antara protein, asam amino, dan amin dengan gula aldehida dan keton, yang merupakan penyebab terjadinya pencoklatan selama pemanasan atau penyimpanan dalam waktu yang lama pada bahan pangan berprotein. Penggorengan awal (pre-frying) adalah langkah yang terpenting dalam proses aplikasi batter dan breading. Tujuan penggorengan adalah untuk menempelkan perekat tepung pada produk sehingga dapat diproses lebih lanjut dengan pembekuan selanjutnya didistribusikan kepada konsumen. Penggorengan awal akan memberikan warna pada produk, membentuk kerak pada produk setelah digoreng, memberikan penampakan goreng pada produk serta berkontribusi terhadap rasa produk (Fellow, 2000).
D. Bahan Pengikat
Bahan pengikat memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dan dapat
meningkatkan emulsifikasi lemak dibandingkan dengan bahan pengisi. Bahan pengikat adonan emulsi dapat berfungsi sebagai bahan pengemulsi (Afrisanti, 2010). Bahan pengikat juga berfungsi mengurangi penyusutan pada waktu pengolahan dan meningkatkan daya ikat air. Protein dalam bentuk tepung dipercaya dapat memberikan sumbangan terhadap sifat pengikatan. Pengikat terdiri menurut asalnya bahan dari bahan pengikat yang berasal dari hewan dan tumbuhan. Bahan pengikat hewani antara lain susu bubuk skim dan tepung ikan (Afrisanti, 2010).
E. Bahan Pengisi
Bahan pengisi merupakan sumber pati yang ditambahkan dalam produk restrukturisasi untuk menambah bobot produk dengan mensubtitusi sebagian daging sehingga biaya dapat ditekan (Rahayu, 2007). Fungsi lain dari bahan pengisi adalah membantu meningkatkan volume produk. Menurut Winarno (1997) bahwa pati terdiri atas dua fraksi yang dapat terpisah dengan air panas. Fraksi terlarut disebut amilosa dan fraksi tidak terlarut disebut amilopektin. Fraksi amilosa berperan penting dalam stabilitass gel, karena sifat hidrasi amilosa dalam pati yang dapat mengikat molekul air dan kemudian membentuk massa yang elastis. Stabilitas ini dapat hilang dengan penambahan air yang berlebihan. Bahan pengisi yang umum digunakan pada pembuatan nugget adalah tepung (Afrisanti, 2010).
F. Organoleptik
Pengujian organoleptik merupakan bidang ilmu yang mempelajari cara – cara pengujian karakteristik bahan pangan dengan menggunakan indra manusia diantaranya indera penglihatan, pembau, perasa, peraba, dan pendengar (Djalal, 2008). Sifat sensoris ini tidak dapat dikenal dengan mudah, dapat dirassakan tapi sulit dilukiskan. Kesulitannya dalam memilih pernyataan yang tepat secara utuh yang dapat memperjelas sifat tersebut. Uji organoleptik yang dilakukan pada percobaan ini memakai difference test dengan metode scoring. Pada metode ini sampel yang akan diuji telah diberi kode terlebih dahulu. Panelis independent akan menguji warna, rasa, aroma, mouth feel dan finger feel dari chicken nugget bahan uji, dan mencatat hasilnya berdasarkan tingkat skala yang diberikan (Marsudi, 2008).
Pada uji organoleptik nugget, warna yang dihasilkan aadalah kecoklat – coklatan. Menurut (Marsudi, 2008) bahwa warna kecoklat – coklatan yang timbul akibat penggorengan tersebut disebabkan oleh adanya reaksi maillard, yaitu reaksi antara asam amino pada protein dengan karbohidrat. Sedangkan untuk rasa juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menyatakan bahwa rassa suatu bahan makanan sebenarnya dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti suhu, konsentrasi satu komponen dan interaksi dari faktor – faktor lainnya. Reaksi antara protein dan karbohidrat yang menghasilkan warna kecoklat – coklatan juga akan berpengaruh pada rasa chicken nugget yang dihasilkan.


BAB III
MATERI DAN METODE

A. Materi
Alat :
Panci kukus
Wajan penggorengan
Pisau + talenan
Loyang
Blander
Kompor
Mangkuk + piring
Sendok + garpu
Nampan

Bahan :
Daging Ayam Giling 250 g
Tepung Panir 50 g
Tepung sagu 50 g
Telur 2 butir
Susu 1 sdm
Merica ½ sdt
Bawang Putih 3 siung
Air 50 ml
Kaldu ½ sdm
 Garam 1 sdm
Minyak goreng

B. Metode
Campur ayam giling, susu bubuk dan tepung panir halus. Aduk rata menggunakan blander.

Masukkan telur, air, kaldu bubuk, garam, bawang putih. Kemudian aduk rata dan tambahkan tepung sagu.

Tuang dalam loyang yang sudah diolesi minyak dan dialas plastik.

Kukus diatas api kecil selama 30 menit sampai matang. Biarkan dingin. Potong sesuai selera.

Celupkan dalam putih telur, kemudian gulingkan di atas tepung panir agak kasar.
   
Goreng dalam minyak yang sudah dipanaskan sampai matang warna agak kecoklatan.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Berdasarkan hasil praktikum pembuatan nugget didapatkan berat setelah dikukus yaitu 495 gram. Dan berat sesudah digoreng yaitu 529 gram. Hasil dari pengamatan secara organoleptik pada nugget memiliki warna kuning keemasan, tekstur lembut dan renyah, dan rasa daging ayam sedikit terasa, gurih, bumbunya pas.

B. Pembahasan
Pada proses pembuatan nugget, pertama dilakukan penimbangan yang berfungsi untuk mengetahui berat awal dari bahan baku yang digunakan. Setelah itu dilakukan proses penghancuran daging dengan penambahan es batu, hal ini dilakukan untuk menjaga suhu dari daging, hal ini dikarenakan apabila suhu daging terlalu panas, akan menyebabkan lemak mencair, dan akan mengganggu stabilitas dari emulsi yang terbentuk. Penggilingan daging sebaiknya pada suhu dibawah 150C. Caranya yaitu bisa dengan menambahkan es pada saat penggilingan daging atau bisa juga dengan membekukan daging itu terlebih dahulu. Pendinginan ini bertujuan untuk mencegah denaturasi protein aktomiosin oleh panas, karena pada proses penggilingan terjadi gesekan – gesekan yang menimbulkan panas. Tahap penggilingan sebaiknya daging dicampur dengan garam untuk mengestrak aktomiosin sehingga akan terbentuk produk dengan stabilitas emulsi yang baik.
Selanjutnya dilakukan proses pencampuran dengan bumbu – bumbu penyedap. Proses pencetakan dilakukan dalam loyang, dan setelah itu dilakukan proses pengukusan selama 30 menit, yang bertujuan untuk mematangkan nugget ayam. Pelapisan (coating) dengan cara pelapisan basah (wet coating) dan pelapisan kering (dry coating) sejenis tepung roti/ breader hingga permukaannya tertutup rata. Proses pendinginan berfungsi untuk mendapatkan tekstur dari nugget yang kompak dan keras. Proses penggorengan nugget dilakukan pada suhu 1000C. Ketika penggorengan, minya harus dapat menutupi seluruh dari permukaan nugget, hal ini bertujuan agar seluruh permukaan nugget matang sempurna.
Bahan utama pembuatan nugget adalah daging. Daging yang digunakan bervariasi, misalnya daging sapi atau daging ayam. Daging ayam yang digunakan bisa berasal dari semua bagian ayam yang dapat dimakan misalnya bagian dada, bagian paha, ataupun kulit ayam dengan penambahan bahan pengisi dan bumbu – bumbu untuk meningkatkan cita rasa (Nasution, 2012).
Tepung tapioka banyak digunakan sebagai bahan pengisi (filler) yang ditambahkan pada produk olahan daging karena dapat membentuk gel yang bening, lentur, dan tidak berbau sehingga dapat digunakan sebagai perekat yang kuat. Kadar pati tapioka yang lebih tinggi dan suhu gelatinisasi yang lebih rendah dibandingkan jagung dan terigu. Tepung tapioka sebagai bahan pengisi berfungsi untuk mengikat air, memperbaiki tekstur, memperbaiki kekenyalan dan elastisitas produk. Penambahan pati akan membuat tekstur produk lebih kompak karena ikatan yang terbentuk lebih kuat. Pati akan mengalami gelatinisasi pada saat proses pemanasan. Gel yang terbentuk akan berikatan dengan protein daging sehingga membentuk matriks protein – pati dan akan dihasilkan produk daging yang saling melekat dan kompak.
Penambahan air bertujuan untuk melarutkan protein yang larut air. Membuat larutan garam untuk melarutkan protein yang mudah larut dalam garam, sebagai fase kontinyu dalam emulsi daging, dan mempermudah penetrasi bahan. Air juga berfungsi untuk mempertahankan juiceness dan keempukan produk.
Bawang putih berfungsi sebagai bumbu penyedap. Bawang putih memiliki senyawa penimbul aroma yaitu sulfur sehingga dapat menambah cita rasa makanan. Bawang putih juga berfungsi sebagai zat antimikroba.
Garam yang digunakan adalah garam dapur. Garam berfungsi sebagai penambah cita rasa pada nugget dan mencegah pembentukan serta pertumbuhanjamur pada produk akhir yang dihasilkan. Jumlah garam yang ditambahkan dalam pembuatan nugget umumnya sebesar 2%.
Merica berfungsi sebagai penyedap dalam pembuatan nugget ayam dengan memberikan rasa pedas. Komponen yang memberi rasa pedas khas merica adalah piperine, piperanine, dan piperylin.
Breading adalah proses pelapisan nugget dengan tepung panir dan putih telur, dilakukan untuk memudahkan proses penggorengan dimana jika nugget ayam tidak dilapisi oleh tepung panir maka nugget yang digoreng akan lengket. Sebelum melakukan proses penggorengan biasanya dilakukan proses pre-frying. Ini dilakukan agar tepung panir yang telah melapisi nugget dapat terikat (Nasution, 2012).
Produk nugget dapat dibuat dari daging sapi, ayam, ikan dan lain sebagainya, tetapi yang populer di masyarakat adalah nugget ayam. Bahan baku daging untuk nugget dapat menggunakan bagian daging dari karkas. Jenis daging ini bernilai ekonomis rendah (misalnya karena cacat, bukan karena telah rusak atau tidak segar) jika dijual dalam bentuk utuh. Dengan dibuat ke dalam bentuk nugget maka nilai ekonomisnya menjadi jauh lebih tinggi.
 CCP pada proses pembuatan nugget yaitu proses penghancuran, proses pembekuan, proses pengukusan dan proses penggorengan karena dalam proses tersebut terdapat pengendalian proses yang harus diperhatikan dan akan berpengaruh terhadap keamanan pangan. Dimana penghancuran bahan jangan terlalu halus, pengukusan harus optimal agar didapat proses gelatinisasi yang diinginkan serta pemasakan diusahakan suhu dan waktu tidak terlalu lama agar di dapat warna nugget dan kematangan yang diingikan.
Berdasarkan SNI mengenai syarat mutu nugget, dapat disimpulkan bahwa nugget yang dibuat dilaboratorium dari segi organoleptik telah memenuhi syarat yang ada dalam SNI tersebut.


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Produk nugget dapat dibuat dari daging sapi, ayam, ikan dan lain – lain. Bahan baku daging untuk nugget dapat menggunakan bagian daging dari karkas.
2. Nugget dibuat dari daging giling yang diberi bumbu, dicampur bahan pengikat, kemudian dicetak membentuk tertentu, dikukus, dipotong, dan diselimuti tepung perekat dan dilumuri tepung roti. Selanjutnya digoreng setengah matang dan dibekukan untuk mempertahankan mutunya selama penyimpanan.
3. Dari hasil praktikum didapatkan berat setelah dikukus yaitu 495 gram. Dan berat sesudah digoreng yaitu 529 gram.
4. Hasil dari pengamatan secara organoleptik pada nugget memiliki warna kuning keemasan, tekstur lembut dan renyah, dan rasa daging ayam sedikit terasa, gurih, bumbunya pas.

B. Saran
Selama proses pembuatan nugget ayam sebaiknya dilakukan secara higienis dan sesuai prosedur yang telah ditetapkan, serta harus lebih teliti dalam penambahan bahan tambahan dan prosedurnya.



DAFTAR PUSTAKA

Afrisanti, D.W. 2010. Kualitas Kimia dan Organoleptik Nugget Daging Kelinci dengan Penambahan Tepung Tempe. Surakarta : Universitas Sebelas Maret.

Amertaningtyas. 2003. Peran Bawang Putih (Allium Sativum) dalam Meningkatkan Kualitas Daging Ayam Pedaging. Surabaya : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.

Aswar. 1995. Pembuatan Fish Nugget dari Ikan Nila Merah (Oreochromis Sp.). Bogor : Institut Pertanian Bogor.

Badan Standarisasi Nasional. 2002. Nugget Ayam. SNI 01-6683-2002. Jakarta : Badan Standarisasi Nasional.

Lawrie, R. A. 1995. Ilmu Daging. Jakarta : Universitas Indonesia Press.

Legowo, A., Nurwantoro dan Sutaryo. 2005. Analisis Pangan. Semarang : Universitas Diponegoro.

Mannulang, M dan Tatono, E. 1994. Pengaruh Bahan Pengikat dan Emulsifiet Terhadap Mutu Nugget Ikan (Scromboeromorus Commersoni) Selama Penyimpanan Pada Suhu Beku. Buletin Teknologi dan Industri Pangan 6 (1) : 42 – 51.

Marsudi, F. 2008. Kajian – Kajian Sifat Kimia dan Organoleptik Chicken Nugget dengan Variasi Tepung Sukun (Artocarpus Communis). Yogyakarta : Fakultas Pertanian INTAN Yogyakarta.

Nasution, Fakhrul Arifin. 2012. Chicken Nugget. http://fakhrulaceh. Blogspot.com/2012/12/laporan-praktikum-pembuatan-chicken.html. Diakses tanggal : 26 oktober 2017.

Palungkun, R dan A. Budiarti. 1992. Bawang Putih Dataran Rendah. Jakarta : Penebar Swadaya.

Soeparno. 1992. Ilmu dan Teknologi Daging. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Sughita. 1995. Perubahan Sifat Fisik Daging Ayam Broiler Post Mortem Selama Penyimpanan Temperatur Ruang. Sumedang : Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran.

Winarno, F. G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.



Uji organoleptik. Meliputi : uji warna, tekstur, dan rasa.

LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI PENGOLAHAN DAGING DAN KULIT
“Uji Organoleptik Kulit”




Disusun Oleh :
KUSWORO (15021001)


PROGRAM STUDI PETERNAKAN
FAKULTAS AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA
2017

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kulit kambing merupakan salah satu bagian dari makhluk hidup yang dapat dimanfaatkan. Sekarang ini kulit hewan banya dimanfaatkan sebagai produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Produk – produk yang menggunakan bahan kulit diantaranya adalah sepatu, ikat pinggang, tas, sarung tangan golf, dan lain sebagainya.
Bahan kulit yang berasal dari hewan tersebut tentunya tidak bisa begitu saja bisa dimanfaatkan, karena harus melalui proses penyamakan terlebih dahulu. Penyamakan kulit pada dasarnya adalah proses pengubahan struktur kulit mentah yang mudah rusak oleh aktifitas mikroorganisme, kimiawi atau fisik menjadi kulit tersamak yang lebih tahan lama. Mekanisme ini pada prinsipnya adalah pemasukan bahan-bahan tertentu kedalam jalinan serat kulit sehingga terjadi ikatan kimia antara bahan penyamak dengan serat kulit.

 Sumber bahan penyamak ini bermacam-macam sehingga akan berbeda-beda pula dalam kekuatan dan sifat, warna konsentrasi dan kualitasnya. Hasil kulitnya pun sangat berbeda, bahkan dari penyamak berbagai macam kulit, antara lain kulit yang keras empuk, warna tetap atau terang, berat dan ringan. penyamakan tersebut dapat digunakan dalam berbagai kombinasi untuk memperoleh berbagai efek.
Kulit jadi (tersamak) berasal dari kulit mentah yang sebelumnya telah diawetkan lalu diolah melalui proses yang bertahap mulai dari proses soaking (perendaman) sampai proses finishing (penyelesaian). Dimana kesemua proses tersebut pada akhirnya memberikan karakter tertentu pada kulit jadinya yang disesuaikan dengan tujuan peruntukannya dengan cara penambahan bahan – bahan tertentu pada saat proses.

Pada akhirnya kulit jadi akan dijual ke pasaran. Tentunya pasar menginginkan kualitas kulit jadi yang terbaik agar kulit jadi tersebut dapat digunakan sesuai dengan fungsi dari jenis artikelnya masing – masing.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pengujian organoleptik adalah pengujian yang didasarkan pada proses penginderaan. Bagian organ tubuh yang berperan yaitu mata, telinga, indera pencicip, indra pembau, dan indra peraba atau sentuhan. Kemampuan alat indera memberikan kesan atau tanggapan dapat dianalisis atau dibedakan berdasarkan jenis kesan. Luas daerah kesan adalah gambaran dari sebaran atau cakupan alat indera yang menerima rangsangan. Kemampuan memberikan kesan dapat dibedakan berdasarkan kemampuan alat indera  memberikan reaksi atas rangsangan yang diterima. Kemampuan tersebut meliputi kemampuan mendeteksi (detection), mengenali (recognition), membedakan (discrimination), membandingkan (scalling), dan kemampuan menyatakan suka atau tidak suka (hedonik) (Saleh, 2004).
Rahayu (2001) mengatakan bahwa untuk melaksanakan penilaian organoleptik diperlukan panel. Dalam penilaian suatu mutu atau analisis sifat-sifat sensorik suatu komoditi, panel bertindak sebagai instrumen atau alat. Panel ini terdiri dari orang atau kelompok yang bertugas menilai sifat atau mutu komoditi berdasarkan kesan subjektif. Orang yang menjadi anggota panel disebut panelis.
Pengujian organoleptis merupakan suatu pengujian yang dilakukan dengan menggunakan panca indra atau dilakukan secara visual, dan dibantu dengan alat yang sederhana, alat panca indera yang biasa digunakan dalam pemeriksaan kualitas kulit secara organoleptis adalah mata, perasa, pengecap, dan pencium dalam pengujian ini sifat-sifat yang diuji meliputi penampakan nerf, keadaan kulit, bagian daging (SNI, 06-0234-89).
Menurut Jayusman dalam diktat penuntun praktikum ilmu bahan II secara garis besar tujuan dilakukannya pengujian terhadap suatu kulit samak adalah pertama, untuk menentukan mutu atau kualitas secara umum karena melalui suatu analisa atau pengujian dapat ditentukan contoh kulit yang diuji tersebut bermutu baik, sedang, atau kurang. Kedua, untuk mencari kesalahan atau kekurangan dalam proses penyamakan kulit karena dari hasil uji ini dapat dilihat kekurangan yang terdapat pada hasil penyamakan kulit sehingga dapat ditentukan pada proses – proses apa saja yang menyebabkan terjadinya kesalahan tersebut dan dapat diperbaiki pada proses berikutnya sehingga kulit yang dihasilkan menjadi lebih baik berkualitas baik. Ketiga adalah untuk meniru atau mengikuti proses – proses produksi kulit yang berkualitas baik sehingga untuk mengetahui proses produksinya dilakukan pengujian terlebih dahulu terhasil kulit tersebut setelah mengetahui karakteristiknya baru dilakukan penyusunan rancangan proses, melakukan proses percobaan, kemudian hasilnya diuji dan terus dilakukan penyempurnaan sampai didapat hasil yang diinginkan.

Dalam melakukan pengujian terhadap kulit samak secara umum ada 4 cara pengujian yaitu pengujian organoleptis, fisik, kimiawi, dan mikrobiologis. Namun dalam standar industri indonesia untuk bermacam – macam produk kulit samak persyaratan yang dicantumkan hanya persyaratan organleptis, fisis dan untuk persyaratan mikrobiologis tidak dicantumkan hal ini dikarenakan syarat organoleptis, fisis dan kimiawi saling berhubungan atau mendukung.

Pengujian organoleptis merupakan suatu pengujian yang dilakukan dengan menggunakan panca indra atau dilakukan secara visual dan dibantu dengan alat yang sederhana. Dalam pengujian ini sifat – sifat yang diuji meliputi kelepasan nerf, keadaan kulit, keadaan cat, kelentingan, dan ketahanan sobek (Purnomo, 1997).


BAB III
MATERI DAN METODE

A. Materi
Alat dan Bahan
1. Kain 4. Lakban hitam
2. Kulit kambing krom 5. Penggaris
3. Air 6. Gunting

B. Metode
1. Uji Kelepasan Nerf
Melipat kulitdengan bagian nerf di dalam dengan cara ditekan ke dalam dengan jari tangan, hingga membentuk kerutan – kerutan.

Membuka lipatan dan diamati.

2. Uji Keretaakan Nerf
Melipat kulit sejajar garis punggung (bagian nerf diluar).

Pada lipatan  tadi dilipat lagi dengan arah tegak lurus pada lipatan pertama disertai penekanan yang kuat dengan ibu jari.

Membuka lipatan dan diamati, dikatakan retak nerf jika bekas lipatan yang kedua memberikan bekas retak/ pecah.



3. Uji Daya Tekuk
Kulit ditekuk ke dalam dengan bagian nerf di luar (hitung berapa kali tekukan).

Lakukan sampai bagian nerf retak/ cacat.
4. Uji Kelentingan
Kulit dibengkuk menurut garis punggung bagian nerf sebelah luar, ditekan dengan tangan naik turun.

Tekanan dihilangkan agar kulit kembali ke keadaan semula.

5. Uji Ketahanan Gosok
Meletakkan kulit pada meja datar

Menggosokkan kain katun putih pada kulit bagian nerf, kemudian mengamati noda pada  kain.

Melakukan dengan cara yang sama untuk kain katun putih yang dibasahi dengan air, kemudian mengamati noda pada kain.

6. Uji Kelepasan Cat
Meletakkan kulit pada meja datar.

Meletakkan lakban pada kulit bagian nerf.

Menekan selama ± 1 menit, kemudian tarik lakban dengan kuat.

Mengamati cacat pada kulit, ada yang lepas atau tidak.

BAB IV
HASIL PRAKTIKUM

A. Hasil Kulit Kambing Krom
1. Uji Kelepasan Nerf
- Kulit mengkerut
- Tidak ada keretakan

2. Uji Keretakan Nerf
- Kulit tidak mengalami keretakan
- Kulit mengalami pengkerutan

3. Uji Daya Tekuk 2 Menit
- Kulit mengkerut sedikit
- Tidak ada keretakan

4. Uji Kelentingan
- 2 cm membutuhkan waktu 1 detik
- 3 cm tidak kembali ke bentuk semula

5. Uji Ketahanan Gosok
- Pada kain kering, warna kulit menempel pada kain.
- Kain basah
Warna kulit menempel pada kain berwarna pekat menghitam.
Kulit kambing krom menjadi tipis.

6. Uji Kelepasan Cat
- Permukaan kulit kambing krom menempel pada lakban.
B. Hasil Kulit Imitasi
1. Uji Kelepasan Nerf
- Kulit imitasi membentuk lekukan
- Tidak ada keretakan

2. Uji Keretakan Nerf
- Lekukan lebih dalam pada kulit
- Tidak terjadi keretakan

3. Uji Daya Tekuk
- Tidak ada kerutan
- Lekukan tidak jelas

4. Uji Kelentingan
- 2 cm membutuhkan waktu 8,7 detik
- 3 cm membutuhkan waktu 7,3 detik

5. Uji Ketahanan Gosok
- Pada kain kering, kain menempel pada kulit.
- Kain basah, tidak ada perubahan pada kulit

6. Uji Kelepasan Cat
- Warna tidak menemel pada lakban.


BAB V
PEMBAHASAN

Pengujian organoleptis merupakan suatu pengujian yang dilakukan dengan menggunakan panca indra atau dilakukan secara visual dan dibantu dengan alat yang sederhana. Dalam pengujian ini sifat – sifat yang diuji meliputi kelepasan nerf, keretakan nerf, uji daya tekuk, uji kelentingan, uji ketahanan gosok, dan uji kelepasan cat.
Sampel yang diuji yaitu kulit kambing krom dan kulit imitasi. Jadi pada praktikum uji organoleptis ini yaitu untuk membedakan antara kulit kambing yang asli dengan yang imitasi sehingga praktikan dapat mengetahui mana kulit yang asli dan mana yang kulit imitasi.
Uji kelepasan nerf dilakukan dengan melihat fisik dari kulit. Jika kulit yang diuji nerfnya lepas, maka kulit tersebut tidak baik jika digunakan sebagai sepatu karena akan mudah mengelupas jika terkena benda keras. Dari hasil praktikum uji kelepasan nerf yang dilakukan didapatkan bahwa pada kulit kambing krom, kulit mengkerut dan tidak ada keretakan sedangkan pada kulit imitasi, kulit membentuk lekukan dan tidak ada keretakan.
Uji keretakan nerf dilakukan dengan cara melipat kulit sejajar garis punggung dengan bagian nerf di luar. Kemudian lipatan tadi dilipat lagi dengan arah tegak lurus pada lipatan pertama disertai penekanan yang kuat dengan ibu jari. Kemudian lipatan dibuka dan diamati, dikatakan retak apabilabekas lipatan yang kedua memberikan bekas retak/ pecah. Pada uji keretakan didapatkan perbedaan yaitu pada kulit kambing krom, kulit mengalami pengkerutan sedangkan pada kulit imitasi, lekukan lebih dalam pada kulit. Meskipun terjadi perbedaan, tetapi kedua jenis kulit ini sama – sama tidak mengalami keretakan.
Daya tekuk merupakan hasil uji yang ditentukan dalam satuan jumlah, yaitu suatu ukuran untuk menentukan menentukan berapakali sampel kulit yang diuji mampu tahan terhadap tekukan sebesar 1800 sampai tempat tekukan tersebut mengalami retak atau cacat. Pada praktikum uji daya tekuk diperoleh yaitu pada kulit kambing krom uji daya tekuk dilakukan selama 2 menit dan didapatkan hasil kulit mengkerut sedikit dan tidak ada keretakan, sedangkan pada kulit imitasi tidak ada kerutan dan lekukan tidak jelas.
Uji kelentingan dilakukan dengan setengah menggulung kulit, kemudian melihat proses kembalinya. Jika kulit cepat kembalinya maka kulit tersebut lenting, sebaliknya jika kulit tersebut lama kembalinya atau terlalu lemas maka kulit tersebut kurang lenting. Pada praktikum uji kelentingan yang dilakukan didapatkan perbedaan yaitu pada kulit kambing krom untuk lebar 2 cm membutuhkan waktu 1 detik, sedangkan pada kulit imitasi membutuhkan waktu 8,7 detik. Pada uji kelentingan 3 cm didapatkan bahwa pada kulit kambing krom tidak kembali ke bentuk semula, sedangkan pada kulit imitasi membutuhkan waktu selama 7,3 detik.
Uji ketahanan gosok dilakukan dengan menggosok kain yang berwarna terang pada kulit bagian nerf. Uji ini dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan kain kering dan kain di basahi terlebih dahulu. Dari hasil praktikum uji ketahanan gosok didapatkan perbedaan yaitu pada kain kering bahwa kulit kambing krom didapatkan warna kulit menempel pada kain, sedangkan pada kulit imitasi kain menempel pada kulit. Pada kain basah untuk kulit kambing krom didapatkan warna kulit menempel pada kain dan berwarna pekat menghitam, dan kulit kambing menjadi tipis. Sedangkan pada kulit imitasi tidak terjadi perubahan pada kulit.
Uji kelepasan cat dilakukan dengan cara merekatkan lakban pada kulit bagian nerf kemudian ditekan selama kurang lebih 1 menit kemudian ditarik secara kuat. Dari hasil praktikum yang dilakukan didapatkan pada kulit kambing krom permukaan kulit menempel pada lakban, sedangkan pada kulit imitasi warna tidak menempel pada lakban.

KESIMPULAN

Untuk mengetahui kulit kambing krom asli dan kulit imitasi dapat diketahui melalui uji organoleptik. Uji organoleptik tersebut meliputi uji kelepasan nerf, uji keretakan nerf, uji daya tekuk, uji kelentingan, uji ketahanan gosok, dan uji kelepasan cat.
Dari hasil praktikum yang dilakukan didapatkan hasil uji kelepasan nerf yang dilakukan didapatkan bahwa pada kulit kambing krom, kulit mengkerut dan tidak ada keretakan sedangkan pada kulit imitasi, kulit membentuk lekukan dan tidak ada keretakan.
Pada uji keretakan didapatkan perbedaan yaitu pada kulit kambing krom, kulit mengalami pengkerutan sedangkan pada kulit imitasi, lekukan lebih dalam pada kulit. Meskipun terjadi perbedaan, tetapi kedua jenis kulit ini sama – sama tidak mengalami keretakan.
Pada praktikum uji daya tekuk diperoleh yaitu pada kulit kambing krom uji daya tekuk dilakukan selama 2 menit dan didapatkan hasil kulit mengkerut sedikit dan tidak ada keretakan, sedangkan pada kulit imitasi tidak ada kerutan dan lekukan tidak jelas.
Pada praktikum uji kelentingan yang dilakukan didapatkan perbedaan yaitu pada kulit kambing krom untuk lebar 2 cm membutuhkan waktu 1 detik, sedangkan pada kulit imitasi membutuhkan waktu 8,7 detik. Pada uji kelentingan 3 cm didapatkan bahwa pada kulit kambing krom tidak kembali ke bentuk semula, sedangkan pada kulit imitasi membutuhkan waktu selama 7,3 detik.
Pada praktikum uji ketahanan gosok didapatkan perbedaan yaitu pada kain kering bahwa kulit kambing krom didapatkan warna kulit menempel pada kain, sedangkan pada kulit imitasi kain menempel pada kulit. Pada kain basah untuk kulit kambing krom didapatkan warna kulit menempel pada kain dan berwarna pekat menghitam, dan kulit kambing menjadi tipis. Sedangkan pada kulit imitasi tidak terjadi perubahan pada kulit.
Pada praktikum uji kelepasan cat yang dilakukan didapatkan pada kulit kambing krom permukaan kulit menempel pada lakban, sedangkan pada kulit imitasi warna tidak menempel pada lakban.

DAFTAR PUSTAKA

Saleh. 2004. Evaluasi Gizi pada Pengolahan Bahan Pangan. Bandung : Penerbit Institut Teknologi Bandung.
Hermiyati, Indri. 2009. Petunjuk Praktikum Analisa Kimia Kulit. Yogyakarta : Akademi Teknologi Kulit.
Jayusman. Penuntun Praktikum Bahan II Analisa Uji Kulit. Yogyakarta : Akademi Teknologi Kulit.
Purnomo, Edy. 1997. Teknologi Tanning. Yogyakarta : Akademi Teknologi Kulit.
SNI. 06-0234-89. Mutu dan Cara Uji Kulit Boks. Jakarta : Departemen Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia.

padang penggembalaan dan cara penggembalaan hijauan makanan ternak

* Definisi Padang Penggembalaan
Padang penggembalaan (pasture) merupakan suatu areal yang ditumbuhi vegetasi dominan famili rumput – rumputan (graminae) serta tumbuhan lainnya seperti legume yang digunakan sebagai hijauan pakan ternak.
Reksohadiprodjo (1994) menyatakan bahwa padang penggembalaan adalah suatu daerah padangan dimana tumbuh tanaman makanan ternak yang tersedia bagi ternak dan dapat merenggutnya menurut kebutuhannya dalam waktu singkat.
Menurut Yunus (1997) bahwa padang penggembalaan adalah tempat atau lahan yang ditanami rumput unggul dan atau legume (jenis rumput/ legume yang tahan terhadap injakan ternak) yang digunakan untuk menggembalakan ternak.

* Macam – Macam Padang Penggembalaan
Padang Penggembalaan Alami
Merupakan padang penggembalaan yang berupa rumput parennial, produktivitas rendah, floranya relatif belum tersentuh oleh manusia (McLIory, 1976). Menurut reksohadiprodjo (1994) bahwa padang penggembalaan alami tidak ada pohon, belum terjadi campur tangan manusia, manusia hanya mengawasi ternak yang digembalakan, banyak terdapat gulma dan daya tampung rendah.

Padang penggembalaan Buatan
Merupakan padang penggembalaan yang vegetasinya sudah dipilih/ ditentukan dari varietas tanaman yang unggul. Menurut Reksohadiprodjo (1994) bahwa padang penggembalaan buatan adalah tanaman makanan ternak dalam padangan yang telah ditanam, disebar, dan dikembangkan oleh manusia. Padangan dapat menjadi padangan permanen atau diseling dengan tanaman pertanian.

Padang Penggembalaan yang Telah Diperbaiki
Spesies – spesies hijauan makanan ternak dalam padangan belum ditanam oleh manusia, tetapi manusia telah mengubah komposisi botaninya sehingga didapat spesies yang produktif dan menguntungkan dengan jalan mengatur pemotongan/ defoliasi (Reksohadiprodjo, 1994).

Padang Penggembalaan dengan Irigasi
Padang penggembalaan ini biasanya terdapat di daerah sepanjang aliran sungai atau dekat sumber air. Penggembalaan ternak dijalankan setelah padang penggembalaan menerima pengairan selama 2 – 4 hari (Reksohadiprodjo, 1994).

* Cara Penggembalaan
1. Sistem Intensif
Sistem penggembalaan dengan cara melakukan rotasi tiap petak dengan hijauan dibatasi.
2. Sistem Semi Intensif
Sistem penggembalaan dengan cara  melakukan rotasi namun pemilihan hijauan masih bebas.
3. Sistem Ekstensif
Sistem penggembalaan dengan cara menggembalakan ternak dipadangan yang luas tanpa rotasi.
4. Strip Grazing
Sistem penggembalaan dengan cara menempatkan kawat sekeliling ternak yang bisa dipindah.
5. Solling
Sistem Penggembalaan dengan cara hijauan padangan yang dipotong dan diberikan pada ternak di kandang.

macam dan jenis cacing

Macam dan jenis cacing yang sering menyerang ternak
Cacingan atau dalam kamus kedokteran dikenal dengan istilah helminthiasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh adanya infestasi cacing pada tubuh hewan, baik pada saluran percernaan, pernapasan, hati, maupun pada bagian tubuh lainnya. Pada sapi, umumnya infestasi cacing sering ditemukan pada saluran pencernaan dan hati.
Berdasarkan bentuknya, jenis cacing yang dapat menyerang sapi dapat dikelompokkan menjadi 3 golongan yaitu cacing gilig (Nematoda), cacing pita (Cestoda) dan cacing daun atau cacing hati (Trematoda).
Cacing gilig (Nematoda)
Sesuai dengan namanya, cacing gilig memiliki bentuk tubuh yang bulat seperti pipa dengan kedua ujungnya yang meruncing. Sebagian besar cacing ini memiliki ukuran tubuh yang sangat kecil. Beberapa spesies yang dapat menyerang ternak sapi di antaranya Toxocara vitulorum, Oesophagostomum radiatum, Agryostomum vryburgi, Bunostomum phlebotomum, Trichostrongylus spp., Nematodirus spp., Cooperia spp., Ostertagia ostertagi, Haemonchus placei dan Mecistocirrus digitatus.
Namun, dari beberapa spesies tersebut yang paling sering ditemukan kasusnya terutama pada pedet (sapi muda) yaitu spesies Toxocara vitulorum yang penyakitnya dikenal dengan istilah toxocariasis. Cacing yang dikenal juga dengan Neoascaris vitulorum ini habitatnya di dalam usus halus sapi dan berukuran paling besar dibandingkan spesies nematoda lainnya. Cacing jantan berukuran 250 x 5 mm, sedangkan betinanya 300 x 6 mm. Telur cacing T. vitulorum berbentuk bulat dan memiliki ciri khas dinding telur yang tebal.
Kasus toxocariasis dimulai dengan termakannya feses yang mengandung telur cacing T. vitulorum oleh sapi. Selanjutnya telur akan menetas di usus halus dan menjadi larva. Larva kemudian dapat bermigrasi (pindah) ke hati, paru-paru, jantung, ginjal, bahkan plasenta dan masuk ke cairan amnion (ketuban) serta ke dalam kelenjar ambing dan keluar bersama kolostrum. Kolostrum yang diminum oleh pedet akan menjadi sumber penularan cacing T. vitulorum. Sementara, larva yang tetap berada dalam usus akan berkembang menjadi cacing dewasa dan selanjutnya menghasilkan telur yang bisa ikut terbuang bersama feses sapi.
Dilihat dari siklus hidupnya, maka penularan kasus toxocariasis pada sapi dapat terjadi melalui pakan atau air yang terkontaminasi oleh telur maupun larva cacing dan melalui kolostrum yang mengandung larva cacing.


Cacing pita (Cestoda)
Jenis cacing pita yang dapat menyerang sapi ialah spesies Taenia sp., Moniezia sp. dan Echinococcus granulosus. Dari ketiga cacing tersebut, hanya spesies Moniezia sp. yang hidup sampai dewasa dalam tubuh sapi. Namun, serangan cacing pita yang paling umum ditemukan pada sapi terutama oleh genus Taenia, yaitu Taenia saginata.
Serangan cacing pita ini tidak berbahaya bagi ternak sapi itu sendiri karena dalam tubuh sapi telur cacing yang termakan bersama rumput hanya berkembang sampai fase larva. Larva cacing T. saginata yang berada dalam usus sapi selanjutnya akan menembus pembuluh darah dan ikut bersama aliran darah hingga sampai di otot. Selanjutnya, manusia perlu waspada terhadap serangan cacing pita ini, karena larva yang termakan dari daging sapi mentah atau yang dimasak kurang matang dapat berkembang menjadi cacing dewasa dalam usus halus manusia. Cacing pita dewasa akan menyerap sari-sari makanan dalam usus dan dapat menyebabkan penyumbatan usus.
Panjang cacing T. saginata dewasa berkisar antara 4-8 meter dan terdiri atas segmen-segmen yang disebut proglotida. Proglotida yang telah matang, atau disebut juga proglotida gravid, pada cacing dewasa berisi alat reproduksi jantan dan betina serta puluhan ribu telur. Bisa dibayangkan betapa banyaknya telur yang dihasilkan oleh 1 ekor cacing pita dewasa yang selanjutnya siap masuk kembali kedalam tubuh sapi untuk berkembang menjadi bentuk yang siap masuk ke dalam tubuh manusia.


Cacing hati (Trematoda)
Kasus cacingan pada sapi akibat cacing hati (Fasciola sp.) cukup banyak dan sudah tak asing lagi dijumpai di lapangan. Kejadiannya terutama banyak dilaporkan pada saat perayaan Idul Adha, dimana pada waktu tersebut banyak orang yang melakukan penyembelihan hewan kurban khususnya sapi. Terdapat 2 spesies yang cukup penting di dunia, yaitu Fasciola hepatica dan Fasciola gigantica. Namun, spesies yang paling sering ditemukan pada sapi di Indonesia yaitu F. gigantica. Secara umum, cacing hati berbentuk gepeng atau pipih seperti daun, namun untuk spesies F. gigantica tubuhnya lebih memanjang dibandingkan F. hepatica. Sesuai dengan namanya cacing hati berhabitat di hati dan saluran empedu. Infestasi cacing ini dikenal dengan istilah fasciolosis.

Siklus hidup cacing F. gigantica dimulai saat cacing dewasa yang berada di hati dan saluran empedu mengeluarkan telurnya. Telur cacing ini kemudian masuk ke dalam usus halus bagian duodenum bersama cairan empedu dan selanjutnya dikeluarkan bersama feses. Di luar tubuh sapi, telur berkembang menjadi mirasidium. Untuk berkembang ke fase berikutnya, mirasidium memerlukan inang antara, yaitu siput muda Lymnaea rubiginosa.


Di dalam tubuh siput, mirasidium berkembang menjadi sporokista, redia dan serkaria. Selanjutnya serkaria yang memiliki kemampuan berenang akan keluar dari tubuh siput. Setelah menemukan tempat yang cocok, serkaria akan berubah menjadi metaserkaria yang berbentuk kista. Kista dapat berada dalam air maupun menempel pada tanaman. Selanjutnya, air dan tanaman yang mengandung kista ini akan menjadi media penularan bagi ternak sapi lainnya jika termakan.


Faktor Predisposisi (Pemicu) Cacingan
Kasus cacingan yang terjadi pada sapi disinyalir dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menjadi predisposisi (pemicu) penyakit tersebut. Faktor-faktor tersebut di antaranya umur, musim atau kondisi lingkungan, keberadaan vektor (inang antara) dan metode pemeliharaan.
Umur
Jika dilihat dari umur serangannya, kasus cacingan pada sapi dapat menyerang semua umur. Namun, berdasarkan jumlah kasus yang terjadi di lapangan, pedet cenderung memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi terhadap kasus cacingan. Pedet lebih rentan terserang penyakit cacingan karena memiliki daya tahan tubuh yang belum optimal.
Musim atau kondisi lingkungan
Kasus cacingan terutama sering ditemukan pada saat musim hujan atau kondisi lingkungan lembab dan basah yang umumnya disebabkan oleh manajemen pemeliharaan yang kurang baik. Kondisi tersebut menjadi media yang cocok untuk perkembangan telur cacing menjadi bentuk yang siap masuk ke dalam tubuh sapi.
Pada peternakan sapi skala kecil, umumnya sanitasi atau kebersihan kandang masih sangat minim, sehingga kandang lebih sering dalam kondisi yang kotor dan becek. Oleh karena itu, besar kemungkinannya sapi yang dipelihara dalam kandang seperti ini terserang cacingan.


Keberadaan vektor (inang antara)
Beberapa jenis cacing yang menyerang sapi membutuhkan inang antara seperti siput air tawar dalam siklus hidupnya. Pada kondisi yang lembab, hewan ini mampu hidup dan berkembang biak dengan sangat baik. Maka tak heran pada saat musim hujan siput air tawar ini sering kita jumpai karena populasinya yang bertambah banyak. Apabila dikaitkan dengan kasus cacingan pada sapi, kondisi ini tentu saja dapat meningkatkan resiko serangan parasit cacing pada ternak sapi.

Metode pemeliharaan
Jika ditinjau dari metode pemeliharaannya, sapi yang dipelihara dengan sistem tradisional (ekstensif) lebih beresiko terserang penyakit cacingan dibandingkan dengan sapi yang dipelihara dengan sistem yang lebih modern (intensif). Pada pemeliharaan dengan sistem ekstensif, sapi dibiarkan bebas merumput atau mencari makan sendiri di lahan penggembalaan. Padahal tidak jarang tempat-tempat yang dijadikan sebagai lahan penggembalaan tersebut telah terkontaminasi telur atau larva cacing. Sedangkan pada pemeliharaan dengan sistem intensif, sapi sepanjang hari dikandangkan dan pakan diberikan pada waktu tertentu oleh pemilik ternak. Hal ini tentu saja dapat mengurangi resiko sapi untuk kontak dengan telur maupun larva cacing.


Gejala Klinis dan Perubahan Organ (Patologi Anatomi)
Kasus cacingan pada ternak sapi umumnya berjalan secara kronis (dalam waktu yang lama), sehingga pada awal serangan gejalanya sulit untuk diamati. Secara umum sapi yang terserang cacingan badannya kurus, bulu kusam dan berdiri, mengalami diare atau bahkan konstipasi (sulit buang air besar), nafsu makan menurun dan terkadang mengalami anemia.
Berdasarkan kasus yang dilaporkan di lapangan, pedet sapi yang menderita toxocariasis menunjukkan gejala diare dan badannya menjadi sangat kurus. Pernah dilaporkan juga bahwa kasus toxocariasis pada pedet dapat menyebabkan kematian. Pedet yang bertahan hidup biasanya akan mengalami gangguan pertumbuhan. Perubahan patologi anatomi yang ditemukan pada pedet yang mati akibat serangan toxocariasis adalah terjadinya peradangan pada saluran percernaan usus halus.


Sapi dewasa yang terserang toxocariasis umumnya tidak menunjukkan gejala yang jelas. Hanya saja, infestasi cacing T. vitulorum pada sapi perah biasanya akan menurunkan kualitas susu karena mengandung larva cacing ini.


Sementara pada kasus fasciolosis, sering dilaporkan ternak sapi mengalami gangguan pencernaan berupa konstipasi dengan feses yang kering. Pada kasus yang sudah parah, seringkali sapi menunjukkan gejala diare, pertumbuhan yang terhambat bahkan terjadi penurunan produktivitas. Apabila ternak sapi dipotong, dapat kita amati adanya perubahan patologi anatomi terutama pada organ hati. Pada kasus akut (kasus penyakit berjalan singkat) akan ditemui adanya pembendungan dan pembengkakkan hati, permukaan hati biasanya akan mengalami perdarahan titik (ptechie) serta kantong empedu dan usus mengandung darah. Sementara pada kasus kronis, biasanya terjadi penebalan dinding saluran empedu dan pengerasan jaringan hati (serosis hati). Pada saluran empedu biasanya dapat ditemukan parasit cacing bahkan seringkali terdapat batu empedu.

Cara Mendiagnosa Cacingan pada Sapi
Salah satu problem tidak teridentifikasinya kasus cacingan pada sapi yaitu akibat minimnya gejala klinis yang dapat teramati. Bahkan pada kasus cacingan yang masih awal, sapi biasanya masih terlihat sehat tanpa menunjukkan adanya gejala klinis. Selain itu, gejala klinis yang muncul pada kasus cacingan pun merupakan gejala yang sangat umum sehingga kadang masih menyulitkan untuk mengarahkan diagnosa. Terkecuali jika kasus cacingan sudah sangat parah, maka dapat kita temukan adanya cacing dewasa pada feses sapi, terutama untuk cacing yang menyerang saluran pencernaan.
Untuk membantu meneguhkan diagnosa cacingan pada sapi dapat dilakukan melalui uji laboratorium, yaitu uji feses. Pemeriksaan atau uji feses bertujuan untuk mengetahui keberadaan telur cacing secara kualitatif maupun kuantitatif. Selain keberadaan telur, pada feses juga dapat ditemukan keberadaan larva cacing. Lebih jauh lagi, pada uji feses ini dapat diidentifikasi jenis cacing yang menyerang berdasarkan karakteristik telur yang ditemukan. Melalui uji ini juga kasus cacingan pada sapi dapat diidentifikasi sejak dini sehingga pengobatannya pun akan relatif lebih mudah dan kerugian ekonomi yang lebih besar dapat diminimalkan.

Pengendalian dan Penanganan Cacingan
Pengendalian dan penanganan kasus cacingan pada sapi dapat dilakukan dengan cara yang sederhana, yaitu memutus siklus hidup dari parasit cacing tersebut. Cara ini dianggap cukup murah dan sangat efektif untuk memberantas kasus cacingan pada sapi yang selalu berulang dari tahun ke tahun. Beberapa hal yang harus diperhatikan terkait upaya pengendalian dan penanganan kasus cacingan pada sapi di antaranya :
Program pemberian anthelmintika (obat cacing)
Pemberian anthelmintika merupakan langkah utama dalam upaya pengendalian dan penanganan cacingan baik pada pedet maupun sapi dewasa. Pemberian anthelmintika sebaiknya tidak hanya dilakukan pada ternak sapi yang telah dipastikan positif cacingan mengingat hampir sebagian besar sapi terutama yang dipelihara secara tradisional menderita cacingan. Program pemberian anthelmintika sebaiknya dilakukan sejak masih pedet (umur 7 hari) dan diulang secara berkala setiap 3-4 bulan sekali guna membasmi cacing secara tuntas dan memutus siklus hidup parasit tersebut (Agrina, 2011).
Beberapa produk anthelmintika Medion yang dapat digunakan untuk memberantas cacing gilig pada sapi yaitu Nemasol-K, Vermizyn SBK, Wormectin Injeksi dan Wormzol-B. Produk Wormzol-B selain efektif untuk semua stadium cacing gilig, dapat juga digunakan untuk memberantas cacing pita dan cacing hati dewasa pada sapi.


Sanitasi kandang dan lingkungan
Kasus cacingan pada sapi akan menjadi lebih sulit diberantas jika tidak ditunjang dengan sanitasi kandang dan lingkungan yang baik. Upaya yang dapat dilakukan di antaranya menjaga drainase kandang dan lingkungan di sekitarnya sehingga tidak lembab dan becek serta menghindari adanya kubangan-kubangan air pada tanah. Selain itu, tanaman dan rumput-rumput liar di sekitar kadang dibersihkan serta melakukan desinfeksi kandang secara rutin menggunakan Antisep, Neo Antisep, Formades atau Sporades.
Sistem penggembalaan dan pemberian rumput
Saat menggembalakan sapi, sebaiknya hindari tempat-tempat penggembalaan yang becek dan padang rumput yang diberi pupuk kandang tanpa diketahui dengan jelas asal usulnya. Selain itu, ternak sapi sebaiknya tidak digembalakan terlalu pagi karena pada waktu tersebut larva cacing biasanya dominan berada di permukaan rumput yang masih basah. Guna memutus siklus hidup cacing, sebaiknya sistem penggembalaan dilakukan secara bergilir. Artinya sapi tidak terus-menerus digembalakan di tempat yang sama. Pada padang penggembalaan juga dapat ditaburkan copper sulphate untuk mencegah perkembangan larva cacing hati. Untuk sapi yang dipelihara secara intensif, pemberian rumput segar sangat tidak dianjurkan. Sebaiknya rumput dilayukan terlebih dahulu sebelum diberikan pada sapi guna menghindari termakannya larva cacing yang menempel pada rumput.
Populasi inang antara
Mengingat beberapa spesies cacing membutuhkan inang antara seperti siput air tawar untuk kelangsungan hidup cacing hati, maka populasinya menjadi sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pengendalian dan penanganan kasus cacingan. Populasi siput air tawar dapat dikurangi dengan cara memelihara itik atau bebek yang berperan sebagai predator alami inang antara tersebut. Selain itu, lingkungan harus dijaga supaya tidak terlalu lembab dan basah karena kondisi tersebut sangat baik untuk kelangsungan hidup siput air tawar.


Kualitas Pakan
Percaya atau tidak, bahwa kualitas pakan mempengaruhi tingkat kejadian cacingan pada ternak sapi. Kualitas pakan, baik rumput maupun konsentrat, yang baik dapat membantu meningkatkan daya tahan ternak sapi karena nutrisi yang diperlukan tercukupi.
Monitoring telur dan larva cacing
Sebagaimana kita ketahui bahwa penularan kasus cacingan sangat mudah terjadi dan dipengaruhi oleh beberapa faktor predisposisi. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya monitoring secara rutin (2-3 bulan sekali) terhadap telur dan larva cacing melalui uji feses. Untuk menunjang hal tersebut, saat ini Medion telah memiliki laboratorium yang dapat melayani uji tersebut, yaitu MediLab yang telah tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.
Upaya pengendalian dan penanganan cacingan ini sebenarnya sangat sederhana dan dapat dilakukan oleh semua kalangan peternak. Namun, untuk menunjang hal ini diperlukan sebuah komitmen dan kesadaran yang tinggi dari seluruh peternak bahwa upaya pengendalian dan penanganan kasus cacingan perlu dilakukan secara berkelanjutan. Jika kedua modal utama tersebut hanya dimiliki oleh sebagian peternak, maka dapat kita ramalkan tingkat keberhasilan pun menjadi lebih kecil.
Dari seluruh bahasan diatas dapat disimpulkan bahwa penyakit cacingan telah menjadi penyakit ekonomi yang menimbulkan kerugian cukup besar. Guna mengatasi kasusnya yang terus berulang diperlukan pengendalian dan penanganan dengan memutus siklus hidup cacing yang sifatnya berkelanjutan dengan ditunjang oleh komitmen dan kesadaran yang tinggi dari seluruh peternak.
2.1. Fasciolosis
Merupakan penyakit yang disebabkan oleh cacing Fasciola sp. Pada umumnya yang banyak ditemukan di Indonesia adalah Fasciola gigantica. Fasciolosis pada kerbau dan sapi biasanya bersifat kronik, sedangkan pada domba dan kambing dapat bersifat akut. Kerugian akibat fasciolosis ditaksir 20 Milyard rupiah / tahun yang berupa : penurunan berat badan serta tertahannya pertumbuhan badan, hati yang terbuang dan kematian. Disamping itu kerugian berupa penurunan tenaga kerja dan daya tahan tubuh ternak terhadap penyakit lain yang tidak terhitung. Fasciola sp, hidup di dalam hati dan saluran empedu. Cacing ini memakan jaringan hati dan darah.

2.1.1. Siklus Hidup

Telur fasciola masuk ke dalam duodenum bersama empedu dan keluar bersama tinja hospes definitif. Di luar tubuh ternak telur berkembang menjadi mirasidium. Mirasidium kemudian masuk ke tubuh siput muda, yang biasanya genus Lymnaea rubiginosa. Di dalam tubuh siput mirasidium berkembang menjadi sporokista, redia dan serkaria. Serkaria akan keluar dari tubuh siput dan bisa berenang. Pada tempat yang cocok, serkaria akan berubah menjadi metaserkaria yang berbentuk kista. Ternak akan terinfeksi apabila minum air atau makan tanaman yang mengandung kista.

2.1.2. Pengobatan
Pengobatan secara efektif dapat dilakukan dengan pemberian per oral Valbazen yang mengandung albendazole, dosis pemberian sebesar 10 - 20 mg/kg berat badan, namun perlu perhatian bahwa obat ini dilarang digunakan pada 1/3 pertama kebuntingan, karena menyebabkan abortus. Fenbendazole 10 mg/kg berat badanatau lebih aman pada ternak bunting. Pengobatan dengan Dovenix yang berisi zat aktif Nitroxinil dirasakan cukup efektif juga untuk trematoda. Dosis pemberian Dovenix adalah 0,4 ml/kg berat badan dan diberikan secara subkutan.Pengobatan dilakukan tiga kali setahun.

2.2 Nematodosis
            Nematodosis adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing Nematoda atau cacing gilig. Di dalam saluran pencernaan (gastro intestinalis), cacing ini menghisap sari makanan yang dibutuhkan oleh induk semang, menghisap darah/cairan tubuh atau bahkan memakan jaringan tubuh. Sejumlah besar cacing Nematoda dalam usus bisa menyebabkan sumbatan (obstruksi) usus serta menimbulkan berbagai macam reaksi tubuh sebagai akibat toksin yang dihasilkan. Pada ternak ruminansia telah diketahui lebih dari 50 jenis spesies, tetapi hanya beberapa spesies yang mempunyai arti penting secara ekonmis, antara lain sebagai berikut :
a.                  Haemonchus contortus
Penyakit yang disebabkan oleh cacing Haemonchus contortus disebut Haemonchosis. Panjang cacing Haemonchus contortus betina antara 18 – 30 mm dan jantan sekitar 10 – 20 mm. Pada cacing betina secara makroskopis usus yang berwarna merah berisi darah saling melilit dengan uterus yang berwarna putih. Cacing dewasa berlokasi di abomasum domba dan kambing.
Siklus hidup Haemonchus contortus dan Nematoda lain pada ruminansia bersifat langsung, tidak membutuhkan hospes intermediet. Cacing dewasa hidup di abomasum, memproduksi telur. Telur dikeluarkan oleh ternak bersama-sama pengeluaran feses. Di luar tubuh hospes, pada kondisi yang sesuai, telur menetas dan menjadi larva. Larva stadium L1 berkembang menjadi L2 dan selanjutnya menjadi L3 , yang merupakan stadium infektif. Larva infektif menempel pada rumput-rumputan dan teringesti oleh domba. Selanjutnya larva akan dewasa di abomasum.


Pengobatan yang bisa diberikan berupa kelompok benzilmidazole, antara lain albendazole dengan dosis 5 – 10 mg/kg berat badan, mebendazole dengan dosis 13,5 mg/kg berat badan dan thiabendazole dengan dosis 44 – 46 mg/kg berat badan. Albendazole dilarang dipakai pada 1/3 kebuntingan awal. Mebendazole dan thiabendazole aman untuk ternak bunting, tetapi thiabendazole sering menyebabkan resistensi.

b. Toxocara vitulorum (Neoascaris vitulorum)
            Cacing Toxocara vitulorum termasuk klas Nematoda yang memiliki kemampuan lintas hati, paru-paru dan plasenta. Ukuran panjang cacing betina adalah sebesar 30 cm dan lebar 25 cm, warna kekuning-kuningan dengan telur agak bulat dab memiliki dinding yang tebal. Habitat cacing adalah pada sapi dan kerbau serta berlokasi di usus kecil.
            Telur dalam tinja tertelan oleh sapi atau kerbau dan menetas di usus halus menjadi larva. Larva kemudian bermigrasi ke hati, paru-paru, jantung, ginjal dan bisa ke plasentadan masuk ke cairan amnion serta masuk ke dalam kelenjar mammae dan keluar bersama kolustrum. Upata pengobatan cacing ini adalah dengan pemberian piperazin. Pengobatan secara teratur pada anak sapi dan menjaga kebersihan kandang merupakan tindakan pencegahan yang diharuskan.

c.                   Oesophagostomum sp.(cacing bungkul)
Cacing bungkul dewasa hidup di dalam usus besar. Disebut cacing bungkul karena bentuk larva cacing ini dapat menyebabkan bungkul-bungkul di sepanjang usus besar. Ukuran rata-rata cacing bungkul dewasa betina antara 13,8 – 19,8 mm dan Jantan antara 11,2 – 14 5 mm. Gejala klinis yang ditemukan antara lain kambing kurus, napsu makan hilang, pucat, anemia dan kembung. Tinja berwarna hitam, lunak bercampur lendir atau darah segar.

d.                   Bunostomum sp (cacing kait)
Lokasi hidup cacing kait adalah di dalam usus halus kambing dan domba. Panjang caing jantan kira-kira 12 – 17 mm dan betina kira-kira 19 – 26 mm. Dikenal dengan cacing kait karena pada bagian ujung depan (kepala) cacing membengkok ke atas sehingga berbentuk seperti kait. Gejala klinis yang bisa diamati antara lain ternak mengalami anemia, terlihat kurus, kulit kasar, bulu kusam, napsu makan turun, tubuh lemah. Tinja lunak dengan warna coklat tua. Perlu diketahui bahwa cacing Bunostomum sp menempel kuat pada dinding usus. Cacing memakan jaringan tubuh dan darah, sehingga walaupun jumlah cacing hanya sedikit, namun ternak cepat menunjukkan gejala klinis yang nyata.




2.3. Cestodosis
Cacing Moniezea merupakan cacing Cestoda yang sering menyerang kambing. Cacing ini memiliki panjang tubuh bisa mencapai 600 cm dan lebar 1 – 6 cm. Bentuk cacing pipih, bersegmen dan berwarna putih kekuningan. Cacing ini jarang menimbulkan masalah, kecuali jika menyerang anak kambing yang sangat muda dan dalam jumlah yang besar. Tungau digunakan sebagai inang antara bagi cacing.

2.3.1. Siklus Hidup
            Cacing pita dewasa hidup dalam usus kambing dan domba akan melepaskan segmen yang masak bersama tinja, segmen tersebut pecah dan melepaskan telur . Telurtelur cacing dimakan oleh tungau tanah yang hidup pada akar tumbuhan. Telur-telur dalam tubuh tungau menetas menjadi larva. Kambing/domba memakan tungau bersamasama akar tanaman, seingga larva akan tertelan dan tumbuh menjadi dewasa di usus.

2.3.2. Pengobatan
Bisa diberikan preparat obat, antara lain : albendazole, oxfendazole 5 mg/kg berat badan, cambendazole 20 – 25 mg/kg berat badan, fenbendazole 5 – 10 mg/kg berat badan atau mebendazole 13,5 mg/kg berat badan.

perencanaan usaha sapi perah

PERENCANAAN USAHA SAPI PERAH
Disusun Sebagai Tugas Terstruktur Mata Kuliah Kewirausahaan I











Disusun oleh : KUSWORO
NIM : 15021001


PROGAM STUDI PETERNAKAN
FAKULTAS AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA
2017

I. PENDAHULUAN
Sapi adalah hewan ternak terpenting sebagai sumber daging, susu, ternaga kerja dan kebutuhan lainnya. Sapi menghasilkan sekitar 50% kebutuhan daging dunia, 95% kebutuhan susu dan 85% kebutuhan kulit. Sapi berasal dari famili bovidae seperti halnya bison, banteng, kerbau (bubalus), kerbau afrika (syncherus), dan anoa.
Domestikasi sapi mulai dilakukan sekitar 400 tahun SM. Sapi diperkirakan berasal dari asia tengah, kemudian menyebar ke eropa, afrika dan seluruh wilayah asia. Menjelang akhir abad ke 19, sapi ongole dari india dimasukkan ke pulau sumba dan sejak saat itu pulau tersebut dijadikan pembiakan ongole murni. Pada tahun 1957 telah dilakukan perbaikan mutu genetik sapi Madura dengan jalan menyilangkannya dengan sapi red deen. Persilangan lain yaitu antara sapi lokal (PO) dengan sapi perah Frisian Holstein di grati guna memperoleh sapi perah jenis baru yang sesuai dengan iklim dan kondisi di Indonesia.
Sapi perah merupakan sapi yang dipelihara untuk diambil susunya sebagai produksi utama sedangkan anak dan induk afkir sebagai hasil sampingannya. Susu sapi merupakan salah satu sumber protein hewani yang dibutuhkan tubuh.
Usaha sapi perah adalah salah satu jenis usaha yang sangat potensial. Dan selain itu pemasaran dan perawatan sapi perah relatif mudah, serta secara ekonomis budidaya sapi perah mampu menghasilkan keuntungan.  Pendapatan dari susu sapi perah bersifat harian dan untuk melakukan pembayaran susu sapi tersebut sudah jelas dan pasti mekanismenya. Manfaat lain yang dapat diambil dari usaha sapi perah tersebut yaitu dari kotoran sapi yang masih bisa dimanfaatkan untuk bahan baku energy biogas, dan limbah  dari biogas masih dapat digunakan lagi menjadi pupuk kandang.
Jenis sapi perah yang unggul dan paling banyak dipelihara adalah sapi FH dari belanda, sapi shorhorn dari inggris, brown swiss dari swizterland, droughtmaster dari india. Dari hasil survei menunjukkan bahwa jenis sapi perah yang paling cocok dan menguntungkan untuk dibudidayakan di Indonesia adalah Frisien Holstein.

II. Teknis Budidaya
a. Bibit
jenis sapi yang cocok dipelihara yaitu sapi FH. Sapi ini memiliki ciri – ciri yaitu kulit berwarna belang hitam putih, produksi susu tinggi, pada sapi jantan biasanya agak ganas sedangkan sapi betinanya jinak.
Berikut syarat - syarat yang harus dipenuhi dalam pemilihan bibit sapi perah :
1. Produksi susu tinggi
2. Umur 3,5 – 4,5 tahun dan sudah pernah beranak
3. Berasal dari keturunan yang memiliki produksi susu tinggi
4. Bentuk tubuh seperti baji
5. Jarak antara kedua kaki depan dan kedua kaki belakang cukup lebar
6. Jumlah puting tidak lebih dari 4 dan letaknya simetris
7. sehat dan tidak cacat
b. Perkandangan
Ketika hendak membudidayakan sapi perah, pembuatan andang harus disesuaikan dengan jenis sapi yang dipelihara. Kandang sapi perah harus berlokasi jauh dari pemukiman. Selain itu, kandang  sapi juga harus terletak paling tidak 10 meter jauhnya dari rumah. Kandang juga harus mendapat sinar matahari terutama sinar matahari pagi.
Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris. Sedangkan pada kandang tipe ganda penempatannya dilakukan pada dua baris yang saling berhadapan. Diantara kedua baris tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.
Ukuran kandang untuk sapi pejantan 2 x 2,5 m, untuk sapi betina 1,8 x 2 m, dan kandang pedet cukup 1 x 1,5 m per ekor. Temperatur di sekitar kandang sekitar 25 – 400C dan kelembaban sekitar 75%.
c.  Pakan
Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat. Pakan hijauan berupa rumput gajah, kinggras,odot, rumput benggala. Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan. Pemberian hijauan sebanyak 10% dari bobot badan dan pakan tambahan sebanyak 1 – 2% dari bobot badan. Sapi laktasi memerlukan pakan tambahan sebanyak 25% hijauan dan konsentrat yang cukup dalam ransumnya. Konsentrat sebaiknya diberikan pada pagi hari dan sore hari sebelum sapi diperah. Selain pakan, sapi harus diberi air minum sebanyak 10% dari berat badan per hari. Pemberian minum sebaiknya secara adlibitum agar ternak tidak dehidrasi.
Pemeliharaan utama adalah pemberian pakan yang cukup dan berkualitas, serta menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak yang dipelihara. Pemberian pakan secara kereman dikombinasikan dengan penggembalaan di awal musim kemarau. Pada musim hujan sapi dikandangkan dan pakan diberikan sesuai dengan kebutuhan ternak. Penggembalaan bertujuan untuk memberi kesempatan bergerak pada sapi guna memperkuat kakinya.
d. Perawatan Ternak
Ternak dimandikan 2 hari sekali. Seluruh sapi induk dimandikan setiap hari setelah kandang dibersihkan dan sebelum pemerahan susu. Kandang dibersihkan setiap hari dan kotoran kandang sebaiknya di kumpulkan di tempat lain agar dapat dimanfaatkan menjadi pupuk.
e. Reproduksi
Reproduksi merupakan suatu hal yang yang sangat menentukan keuntungan sapi perah. Untuk memperoleh hasil yang maksimal, sapi harus beranak setahun sekali dan menghasilkan susu setiap tahun selama 300 hari. Oleh karena itu, pengaturan perkawinan sapi harus tepat waktu.
f. Perlakuan dan Pemeliharaan Pedet
Pedet yang baru lahir di biarkan menyusu pada induknya selama satu hari untuk mendapatkan kolostrum, dan hari berikutnya dipisah dengan induknya. Kemudian pedet diberi susu dengan jumlah :
- umur 2 hari diberikan 2 liter susu : 3x pemberian
- umur 3 – 6 hari diberikan 3 liter susu : 3x pemberian
- umur 1 – 3 minggu diberikan 4 liter susu : 3x pemberian
- umur 3 – 6 minggu diberikan 5 liter susu : 3x pemberian
- umur 1,5 – 2 bulan diberikan 4 liter susu : 3x pemberian
- umur 2 – 2,5 bulan diberikan 3 liter susu : 2x pemberian
- umur 2,5 – 3 bulan diberikan 2 liter susu : 2x pemberian
- umur 3 – 3,5 bulan diberikan 1 liter susu : 2x pemberian
Mulai umur satu bulan susu yang diberikan ditambah konsentrat 0,25 kg dan bila sudah mau memakannya mulai ditambah sedikit demi sedikithingga umur 3,5 bulan, saat disapih jumlah konsentrat mencapai 1 kg. Selanjutnya jumlah konsentrat ditambah sedikit demi sedikit hingga umur 6 bulan mencapai 1,5 kg, pada umur 1 tahun mencapai 2 kg,dan pada umur 1,5 tahun mencapai 3 kg.
g. Teknik Pemerahan Susu Sapi
Beberapa jam setelah sapi beranak mulailah keluar iar susunya. Kira – kira tiga jam setelah beranak hendaknya diperah kalau anaknya tidak disusukan pada induknya. Sampai hari ke 5 – 7 susu masih mengandung kolostrum dan harus diberikan kepada anaknya. Pemerahan berikutnya dilakuakan 2 – 3 kali sehari tergantung jumlah susu yang dihasilkan sapi yang bersangkutan. Sebelum sapi diperah, sapi dibersihkan atau dimandikan terlebih dahulu terutama didaerah ambing harus bersih.

Cara pemerahan dibagi menjadi dua yaitu tradisional dan modern.
1. Tradisional
Siapkan alat – alat yang digunakan untuk keperluan ( kain lap, ember bersih, tempat duduk, vaselin, bila perlu tali kecil).
- Ambing yang sudah dicuci di lap hingga kering. Kemudian diraba – raba (diurut pelan) dari atas kebawah untuk merangsang turunnya air susu, sebaiknya dengan air hangat.
- Urut tiap putting dengan menggunakan vaselin untuk mengeluarkan susu, pancaran pertama dibuang.
- Kemudian dilakukan pemerahan yang sebenarnya, 2 puting secara bergantian, sampai tidak keluar air susunya. Susu ditampung di ember. Kemudian ambing dicuci dan di lap.
- Susu hasil pemerahan di pindah ke milk can sambil di liter dan disaring. Kemudian lakukan pencatatan, dan susu siap dipasarkan.
2. Modern
Pemerahan modern menggunakan mesin pemerah susu. Pemerahan dilakukan dengan membuat tekanan vakum pada penampung dan susu diperah keddalam penampung melalui unit perah. Pemerahan dengan mesin perah akan mengurangi kontak susu dengan tukang perah dan lingkungan kandang, sehingga susu hasil perahan lebih bersih dan higienis. Selain itu juga jumlah sapi dan kapasitas pemerahan jauh lebih tinggi. Adapun model mesin perah susu yaitu portable milking mechine, bucket milking mechine, dan flat barn dan herringbone milking mechine.
h. Kesehatan Ternak
Sanitasi dan tindakan preventif harus dilakukan agar sapi terbebas dari penyakit. Apabila ditemukan ternak yang sakit sebaiknya diobati. Penyakit yang sering menyerang ternak perah yaitu :

a. Mastitis
Mastitis adalah penyakit radang ambing yang disebabkan oleh bakteri yang penularannya melalui putting dan kemudian berkembang biak di dalam kelenjar susu. Penularan penyakit ini bisa terjadi akibat kebersihan saat pemerahan dan kebersihan lingkungan yang jelek, kesalahan mesin perah, kesalahan manajemen pemerahan atau adanya luka pada putting. Gejala penyait ini yaitu ditandai dengan pembengkakan pada ambing dan putting, air susu berubah warnanya menjadi merah karena adanya darah atau bercampur nanah, terjadi penurunan produksi susu.Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan dan memenuhi syarat dalam pemerahan. Pengobatan dapat menggunakan antibiotik atau dengan memakai jasa dokter hewan.
b. Bruselosis
Bruselosis ini adalah penyakit reproduksi yang menyebabkan kemajiran. Penyebab nya adalah bakteri brucella abortus. Penyakit ini bersifat zoonosis. Penularannya dapat melalui saluran pencernaan, saluran reproduksi, selaput lender atau kulit yang luka. Gejalanya yaitu keguguran janin antara bulan ke 5 – 8, ambing yang terserang terjadi mastitis. Pengendalian dari penyakit ini yaitu dengan kombinasi antara kebersihan, manqjemen beternak yang baik, dan vaksinasi.
c. Bloat atau Tympani
Bloat merupakan penyakit alat pencernaan yang disertai adanya penimbunan gas dalam lambung akibat proses fermentasi berjalan cepat. Pembesaran rumenoretikulum oleh gas yang terbentuk, bisa dalam bentuk busapersisten yang bercampur isi rumen (kembung primer) dan gas bebas yang terpisah dari ingesta(kembung sekunder). Kembung dapat menyebabkan kematian. Penyebab darikembung yaitu akibat fermentasi makanan yang berlebihan, pemberian leguminosa secara berlebihan, pemberian konsentrat yang terlalu banyak, mengkonsumsi rumput yang terlalu muda atau masih dalam keadaan basah. Gejala klinis yaitu ternak gelisah, sisi perut sebelah kiri nampak membesar dan kencang, apabila bagian perut ditepuk akan mengeluarkan bunyi, kesulitan bernafas, nafsu makan menurun drastis, mata merah, pulsus nadi meningkat. Pencegahannya yaitu dengan tidak membiarkan ternak dalam kondisi terlalu lapar, menghindari pemberian leguminosa maksimal 50%, ternak degembalakan, menghindari pemberian rumput yang masih terlalu muda dan rumput yang masih basah. Pengobatan dapat dilakukan dengan memberikan minyak goring, minyak kayu putih atau minyak atsiri melalui mulut maupun dicampur air hangat, memberikan obat – obatan seperti anti bload, thympanol, menggunakan jasa dokter hewan.
III. Panen
a. Hasil Utama
Hasil utama dari budidaya sapi perah adalah susu yang dihasilkan oleh induk betina. Pemasaran susu dapat melalui koperasi susu atau IPS.
b. Hasil Tambahan
Selain susu sapi, hasil lain yang didapat dari budidaya sapi perah yaitu anak sapi dan sapi afkir. Kotoran ternak juaga dapat dijadikan pupuk kandang.
IV. Analisa Usaha
Untuk anda yang ingin terjun ke usaha sapi perah, sebaiknya anda melakukan analisa usaha terlebih dahulu sebagai sarana antisipasi akan terjadinya kerugian. Disini saya akan memberikan gambaran mengenai analisa usaha sapi perah untuk mengetahui biaya tetap, biaya variable dan kelayakan finansial yang dilakukan dengan cara pendekatan untuk skala usaha 10 ekor dengan sapi yang siap diproduksi, untuk jangka waktu 1 tahun.
a. Biaya Tetap
No
Biaya tetap atau investasi
Harga

1
Pembuatan Kandang
Rp.   40.000.000

2
Pembelian Sapi 12 ekor x Rp. 20.000.000
Rp. 240.000.000

3
Peralatan Perah
Rp.    4.000.000

4
Perlengkapan Lainnya
Rp.    2.000.000


Total Biaya Tetap
Rp. 286.000.000


b. Biaya Variabel per tahun
No
Biaya Variabel
Harga

1
Pakan hijauan 8 kg x 12 ekor x Rp. 300 x 365 hari
Rp. 10.512.000

2
Konsentrat 2 kg x 12 ekor x Rp. 2.700 x 365 hari
Rp. 23.652.000

3
Biaya IB dan keswan 12 ekor x Rp. 45.000
Rp.      540.000

4
Tenaga Kerja untuk 2 orang 12 x Rp.600.000
Rp. 14.400.000

5
Biaya lainnya
Rp.   2.200.000


Total
Rp. 51.304.000


c. Pendapatan
No
Pendapatan
Harga

1
Susu 10 liter x 12 ekor x 300 hari x Rp. 4000
Rp. 144.000.000

2
Pedet 8 ekor x Rp. 6.000.000
Rp.   48.000.000

3
Sapi Afkir 12 ekor x Rp. 13.000.000
Rp. 156.000.000


Total
Rp. 348.000.000


d. Pendapatan apabila dipelihara selama 1 tahun
 Keuntungan = Pendapatan – Biaya Total
= Rp. 348.000.000 – ( Rp.286.000.000 + Rp. 51.304.000 )
= Rp. 348.000.000 – Rp. 337.304.000
= Rp. 10.696.000
Pendapatan peternak selama 1 tahun yaitu Rp. 10.696.000
Pendapatan peternak selama sebulan yaitu Rp 10.696.000 : 12 = Rp. 891.333.333


e. Pendapatan apabila dipelihara selama 5 tahun
1. Biaya total
a. Total Biaya Tetap = Rp. 286.000.000
b. Total Biaya Variabel 5 tahun x Rp. 51.304.000 = Rp. 256.520.000
Total Biaya = Rp. 542.520.000
2. Pendapatan Total
a. Penjualan susu 5 tahun x Rp. 144.000.000 = Rp. 720.000.000
b. Penjualan pedet 5 tahun x Rp. 48.000.000 = Rp. 240.000.000
c. Penjualan Afkir 12 ekor x Rp. 13.000.000 = Rp. 156.000.000
Total Pendapatan = Rp. 1.116.000.000
Keuntungan selama 5 tahun = Total Pendapatan – Total Biaya
= Rp. 1.116.000.000 – Rp. 542.520.000
= Rp. 573.480.000
Jadi pendapatan peternak selama 5 tahun Rp. 573.480.000
Pendapatan peternak per tahun Rp. 573.480.000 : 5 = Rp. 114.696.000
Pendapatan peternak per bulan  Rp 114.696.000 : 12 = Rp. 9.558.000
Jadi keuntungan dapat dimaksimalkan apabila sapi perah dipelihara selama 5 tahun.
BEP harga = Total Biaya : Total Pendapatan
= 542.520.000 : 1.116.000.000
= 0,49

R/C = Total Pendapatan : Total Biaya
= 1.116.000.000 : 542.520.000
= 2,06

V. Analisis Ekonomi Budidaya
a. Analisis Usaha Budidaya
Usaha ternak sapi perah di Indonesia masih bersifat subsisten oleh peternak kecil dan belum mencapai usaha yang berorientasi ekonomi. Rendahnya tingkat produktivitas ternak tersebut lebih disebabkan oleh kurangnya modal, serta pengetahuan / keterampilan  peternak yang mencakup aspek reproduksi, pemberian pakan, pengelolaan hasil pasca panen,  penerapan system recording, pemerahan dan kesehatan ternak. Selain itu pengetahuan peternak mengenai aspek tata niaga harus ditingkatkan sehingga keuntungan yang diperoleh sebanding dengan pemeliharaannya.
b. Gambaran Peluang Agribisnis
Usaha peternakan sapi perah keluarga memberikan keuntungan jika jumlah sapi yang dipelihara minimal sebanyak 6 ekor, walaupun tingkat efisiensinya dapat dicapai dengan minimal pengusahaannya sebanyak 2 ekor dengan rata – rata produksi susu sebanyak 15 ltr/hari. Upaya untuk meningkatkan pendapatan petani melalui pembudidayaan sapi perah tersebut dapat juga dilakukan dengan melakukan diversifikasi usaha. Selain itu melakukan upaya kooperatif dan integrative dengan petani lainnya.





Daftar Pustaka
Akoso budi tri. 1996. Kesehatan Sapi. Yogyakarta : kanisius.
Djarijah, Siregar Abbas. 1996. Usaha Ternak Sapi. Yogyakarta : Kanisius.
Makin Moch. 2011. Tata Laksana Peternakan Sapi Perah. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Pane, Ismed. 1986. Pemuliaan Ternak Sapi. Jakarta : PT Media.
Umar H. 2003. Studi Kelayakan Bisnis. Jakarta : gramedia.

cara budidaya lebah madu

BUDIDAYA LEBAH MADU

Pendahuluan
Lebah merupakan insekta penghasil madu yang telah lama dikenal manusia. Sejak zaman purba manusia berburu sarang lebah di goa, lubang pohon dan tempat – tempat lain untuk diambil madunya. Lebah juga menghasilkan produk yang sangat dibutuhkan untuk dunia kesehatan yaitu royal jelly, pollen, malam (lilin), dan sebagainya. Selanjutnya manusia mulai membudidayakan lebah dengan memakai gelondong kayu dan pada saat ini dengan sistem stup.
Di Indonesia sentra budidaya lebah masih ada disekitar jawa barat, jawa tengah dan jawa timur dengan jumlah produksi sekitar 2000 – 2500 ton untuk lebah budidaya. Kalimantan dan Sumbawa merupakan sentra untuk madu dari perburuan lebah di hutan. Sedang untuk sentra perlebahan dunia ada di CIS, jerman, Australia, jepang dan italia.
Jenis Lebah
Lebah termasuk hewan yang masuk dalam kelas insekta famili apini dan genus apis. Spesiesnya  bermacam – macam, yang banyak terdapat di Indonesia adalah A. dorsata, A. cerana, A. Florea. Jenis unggul lebah yang sering dibudidayakan adalah jenis A. melifera. Menurut asal usul nya lebah dibagi menjadi 4 jenis berdasar penyebarannya :
1. Apis Cerana
Diduga berasal dari dataran asia menyebar sampai afganistan, cina maupun jepang.
2. Apis Mellifera
Banyak dijumpai di dataran eropa, misalnya prancis, yunani dan italia serta di daerah mediterania.
3. Apis Dorsata
Memiliki ukuran tubuh paling besar dengan daerah penyebaran sub tropis dan tropis asia seperti Indonesia, philipina, dan sekitarnya.
4. Apis Florea
Merupakan spesies terkecil. Tersebar mulai dari timur tengah, india sampai Indonesia. Di Indonesia orang menyebutnya dengan nama tawon.
Manfaat Lebah
Manfaat beternak lebah yaitu membantu dalam proses penyerbukan bunga tanaman sehingga didapat hasil yang lebih maksimal. Selain itu lebah madu juga memiliki beragam produk yang dihasilkan. Produk yang dihasilkan lebah madu yaitu :
1. Madu
Madu merupakan produk utama yang berasal dari nektar bunga. Merupakan makanan yang sangat berguna bagi pemeliharaan kesehatan, kosmetika, dan farmasi.
2. Royal Jelly
Royal jelly dimanfaatkan untuk stamina dan penyembuhan penyakit, sebagai campuran kosmetika, dan bahan campuran obat – obatan.
3. Pollen
Dimanfaatkan untuk bahan campuran obat – obatan atau untuk kepentingan farmasi.
4. Malam ( lilin lebah )
Dimanfaatkan untuk industri farmasi dan kosmetika sebagai pelengkap bahan campuran.
5. Propolis (perekat lebah)
Digunakan untuk penyembuhan luka, penyakit kulit dan membunuh virus influenza.

Teknis Budidaya
a. Kandang dan Peralatan
Perubahan suhu dalam stup hendaknya tidak terlalu cepat, oleh karena itu ketebalan dinding harus diperhatikan untuk menjaga suhu dalam stup tetap stabil. Biasanya ketebalan kayu yang digunakan setebal 2,5 cm.
Kandang sebaiknya terbuat dari bahan yang tahan terhadap pengaruh hujan, panas, cuaca yang selalu berubah, kokoh dan tidak mudah hancur atau rusak. konstruksi kandang tradisional menggunakan gelodok dari bambu, sedangkan kandang modern menggunakan stup kotak yang lengkap dengan framenya.
Peralatan yang digunakan dalam budidaya lebah terdiri dari : masker, pakaian kerja dan sarung tangan, pengasap, penyekat ratu, sangkar ratu, sapu dan sikat, tempat makan, pondamen sarang, alat – alat kecil, peralatan beternak ratu, dan lain – lain.
b. Pembibitan
1. Pemilihan bibit dan calon induk
Bibit lebah unggul yang ada di Indonesia ada dua jenis yaitu A. cerana (lokal) dan A. mellifera (impor). Ratu lebah merupakan inti dari pembentukan koloni lebah, oleh karena itu pemilihan jenis unggul ini bertujuan agar dalam satu koloni lebah dapat produksi maksimal. Ratu A. cerana mampu bertelur 500 – 900 butir per hari dan A. mellifera mampu bertelur 1500 butir per hari. Untuk mendapatkan bibit unggul, sekarang tersedia 3 paket pembelian bibit lebah :
a. paket lebah ratu terdiri dari 1 ratu dengan 5 lebah pekerja.
b. paket lebah terdiri dari 1 ratu dengan 10.000 lebah pekerja.
c. paket keluarga inti terdiri dari 1 ratu dan 10.000 lebah pekerja lengkap dengan 3 sarang.


2. Perawatan Bibit dan Calon Induk Lebah
Lebah yang baru dibeli dirawat khusus. Satu hari setelah dibeli, ratu dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam stup yang telah disiapkan. Selama 6 hari lebah – lebah tersebut tidak dapat diganggu karena masih pada masa adaptasi sehingga lebih peka terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan. Setelah itu baru dapat dilaksanakan untuk perawatan dan pemeliharaan rutin.
3. Sistem Pemuliabiakan
Pemuliabiakan pada lebah adalah menciptakan ratu baru sebagai upaya pengembangan koloni. Cara yang sudah umum dilaksanakan adalah dengan pembuatan mangkokan buatan untuk calon ratu yang diletakkan dalam sisiran. Tetapi sekarang ini sudah dikembangkan inseminasi buatan pada ratu lebah untuk mendapatkan calon ratu dan lebah pekerja unggul.
4. Reproduksi dan Perkawinan
Dalam setiap koloni terdapat 3 jenis lebah yaitu lebah ratu, lebah jantan dan lebah pekerja. Alat reproduksi lebah pekerja berupa kelamin betina yang tidak berkembang sehingga tidak berfungsi, sedangkan alat reproduksi lebah ratu berkembang sempurna dan berfungsi untuk reproduksi. Proses perkawinan terjadi diawali musim bunga. Ratu lebah terbang keluar sarang diikuti oleh semua pejantan yang akan mengawininya. Perkawinan terjadi di udara, setelah perkawinan pejantan akan mati dan sperma akan disimpan dalam spermatheca (kantung sperma) yang terdapat pada ratu lebah, kemudian ratu kembali ke sarang. Selama perkawinan lebah pekerja menyiapkan sarang untuk ratu bertelur.
5. Proses Penetasan
Setelah kawin, lebah ratu akan mengelilingi sarang untuk mencari sel – sel yang masih kosong dalam sisiran. Sebutir telur diletakkan di dasar sel. Tabung sel yang telah berisi telur akan diisi madu dan tepung sari oleh lebah pekerja dan setelah penuh akan ditutup lapisan tipis yang nantinya dapat ditembus oleh penghuni dewasa.untuk mengeluarkan sebutir telur diperlukan waktu sekitar 0,5 menit, setelah mengeluarkan 30 butir telur, ratu akan istirahat 6 detik untuk makan. Jenis tabung sel dalam sisiran adalah :
- Sel calon ratu. Berukuran paling besar, tak teratur dan biasanya terletak di pinggir sarang.
- Sel calon pejantan. Ditandai dengan tutup menonjol dan terdapat titik hitam ditengahnya.
- Sel calon pekerja. Berukuran kecil, tutup rata dan paling banyak jumlahnya.
Lebah madu merupakan serangga dengan 4 tingkatan kehidupan yaitu telur, larva, pupa dan serangga dewasa. Lama dalam setiap tingkatan punya perbedaan waktu yang bervariasi. Rata – rata waktu perkembangan lebah yaitu :
- Lebah Ratu
Menetas 3 hari, larva 5 hari, terbentuk benang penutup 1 hari, istirahat 2 hari, perubahan larva menjadi pupa 1 hari, pupa / kepompong 3 hari. Total waktu untuk menjadi lebah 15 hari.
- Lebah Pekerja
Menetas 3 hari, larva 5 hari, terbentuk benang penutup 2 hari, istirahat 3 hari, perubahan larva menjadi pupa 1 hari, pupa / kepompong 7 hari. Total waktu untuk menjadi lebah 21 hari.
- Lebah Pejantan
Menetas 3 hari, larva 6 hari, terbentuk benang penutup 3 hari, istirahat 4 hari, perubahan larva menjadi pupa 1 hari, pupa / kepompong 7 hari. Total waktu untuk menjadi lebah 24 hari.
Selama menjadi larva, larva  larva dalam tabung akan makan madu dan tepung sari sebanyak – banyaknya. Periode ini disebut masa aktif, kemudian larva menjadi kepompong (pupa). Pada masa kepompong, lebah tidak makan dan minum. Di masa ini terjadi perubahan dalam tubuh pupa untuk menjadi lebah sempurna. Setelah sempurna lebah akan keluar sel menjadi lebah muda sesuai assal selnya.


6. Pemeliharaan Lebah
Pada pengelolaan lebah secara modern lebah ditempatkan pada kandang berupa kotak yang biasa disebut stup. Di dalam stup terdapat ruang untuk beberapa frame atau sisiran. Dengan sistem ini peternak dapat harus rajin memeriksa, menjaga dan membersihkan bagian – bagian stup seperti membersihkan dasar stup dari kotoran yang ada, mencegah semut / serangga masuk dengan memberi tatakan air di kaki stup dan mencegah masuknya binatang pengganggu. Pengontrolan yang meliputi menyingkirkan lebah dan sisiran sarang abnormal serta menjaga kebersihan stup perlu dilakukan.
7. Pemberian Pakan
Cara pemberian pakan lebah adalah dengan menggembala lebah ke tempat dimana terdapat banyak bunga. Jadi disesuaikan dengan musim bunga yang ada. Dalam penggembalaan, yang perlu diperhatikan yaitu perpindahan lokasi dilakukan pada malam hari saat lebah tidak aktif, bila jarak jauh perlu makanan tambahan (buatan). Tujuan utama dari penggembalaan ini adalah untuk menjaga kesinambungan produksi agar tidak menurun secara drastis. Pemberian pakan tambahan diluar pakan pokok bertujuan untuk mengatasi kekurangan pakan akibat musim paceklik / saat melakukan pemindahan stup saat penggembalaan. Pakan tambahan tidak meningkatkan produksi, tetapi hanya berfungsi untuk mempertahankan kehidupan lebah. Pakan tambahan dapat dibuat dari  bahan gula dan air dengan perbandingan 1:1 dan adonan tepung dari bahan ragi, tepung kedelai dan susu kering dengan perbandingan 1:3:1 ditambah madu secukupnya.
Hama Dan Penyakit Lebah
a. Penyakit Lebah
Di daerah tropis penyakit lebah jarang terjadi dibandingkan dengan daerah sub tropis / daerah beriklim salju. Iklim tropis merupakan penghalang terjalarnya penyakit lebah. Beberapa penyakit pada lebah antara lain :


1. Foul Brood
Ada dua macam penyakit ini yaitu American foul brood yang disebabkan oleh bacillus larva dan European foul brood. Penyebab penyakit foul brood ini yaitu bakteri streptococcus pluton. Penyakit ini menyerang sisiran dan tempayak lebah.
2. Chalk Brood
Penyebabnya adalah jamur pericustis apis. Jamur ini tumbuh pada tempayak dan menutupnya hingga mati.
3. Stone Brood
Penyebabnya yaitu jamur aspergillus flavus link ex Fr dan aspergillus fumigatus fress. Tempayak yang diserang berubah menjadi seperti batu yang keras.
b. Hama Lebah
Hama yang sering mengganggu lebah antara lain :
- Burung. Sebagai hewan yang juga pemakan serangga menjadikan lebah sebagai salah satu makanannya
- Semut. Membangun sarang dalam stup dan mengambil makanan lebah.
- kupu – kupu. Telur kupu – kupu yang menetas dalam sisiran menjadi ulat yang dapat merusak sisiran.
c. Pencegahan Serangan Penyakit dan Hama Lebah
Tindakan preventif yang perlu dilakukan yaitu dengan pembersihan stup setiap hari; memperhatikan abnormalitas tempayak, sisiran dan kondisi lebah; kaki – kaki stup harus diberi air untuk mencegah serangan semut; pintu masuk dibuat seukuran lebah.



Panen
1. Hasil Utama
Madu merupakan hasil utama dari lebah yang bernilai ekonomi tinggi. Pengambilan madu dilaksanakan pada 1 – 2 minggu setelah musim bunga. Ciri – ciri madu siap dipanen adalah sisiran telah tertutup oleh lapisan lilin tipis. Sisiran yang akan dipanen dibersihkan dulu dari lebah yang masih menempel kemudian lapisan penutup sisiran dikupas. Setelah itu sisiran diekstraksi untuk diambil madunya.
Urutan proses panen :
a. mengambil dan mencuci sisiram yang siap panen, lapisan penutup dikupas dengan pisau.
b. sisiran yang telah dikupas diekstraksi dalam ekstraktor madu.
c. hasil disaring dan dilakukan penyortiran.
d. disimpan dalam suhu kamar untuk menghilangkan gelembung udara.
e. pengemasan madu dalam botol.
2. Hasil Tambahan
Hasil tambahan yang punya nilai dan manfaat yaitu royal jelly (susu ratu), pollen (tepung sari), malam (lilin lebah), dan propolis (perekat lebah).