Selasa, 31 Juli 2018

pneumonia pada sapi

Pneumonia

Pneumonia (Radang Paru-Paru) merupakan penyakit yang menyerang paru-paru pada bagian parenkhim, sehingga menyebabkan gangguan pada fungsi sistem pernapasan. Penyakit ini menyerang hampir setiap hewan yang kadang banyak ditemukan bersamaan dengan radang bronchus hingga terjadi bronchopneumonia.
Penyakit pneumonia yang disebabkan oleh bakteri biasanya akibat virus pasteurella multocida, Stretococcus sp, Mycobacterium tuberculosa. Yang disebabkan oleh virus biasanya bersifat akut.
Penyakit ini sering terjadi pada sapi, khususnya sapi bali yang dikirim melalui jalur laut seperti NTT dan Sumatra ke pulau Jawa. Karena perjalanan waktu tempuh yang lama serta sapi mendapatkan cuaca yang berbeda-beda, menyebabkan sapi stress sehingga daya tahan tubuh menurun. Pada saat sapi tiba di kandang penyebab lainnya yang dapat memperparah peneumonia antaranya:
Tempat yang lembab atau berdebu,
Ventilasi udara yang jelek,
Penempatan hewan dari berbagai umur dalam satu tempat,
Jumlah hewan yang berlebihan dalam satu kandang,
Hewan yang berdesak-desakan (over crowding),
Pemasukan hewan-hewan yang tidak beraturan (besar kecil dicampur)

Gejala Umum Penyakit Pneumonia/Radang Paru-Paru Pada Ternak Sapi :
Terlihat kesulitan dalam bernafas
Nafas pendek dan cepat (terengah-engah)
Batuk
Keluar cairan seperti ingus pada hidung
Demam dengan suhu 42 derajat celcius
Tidak banyak bergerak, terlihat lesu dan sering berbaring dilantai
Terlihat gelisah
Nafsu makan dan minum berkurang

Pencegahan yang dapat dilakukan dengan melakukan sanitasi kandang yang benar, pengawasan yang ketat terhadap sapi yang sehat. Pisahkan sapi yang sakit pada kandang karantina. Segera berikan vaksin antibiotic untuk memutus siklus pertumbuhan penyebab pneumonia seperti vaksin tylocin dan vitamin (Biodin). Bila telat penanganan sapi dalam beberapa jam dapat mati.

Adapun spesifitas agen penyebab pneumonia adalah :
Virus : Infectious Bovine Rhinotracheitis, Malignant Catharhal Fever, Bovine Fever, Bovine Herpes V-4, Adenovirus, Parainfluenza-3, Bovine respiratory Virus, Bovine Virus Diarrhea-Mucosal Disease, Rhino-virus, Rota-virus.
Bakteri : Pasteurella multocida,Pasturella hemolitica, Streptococcus sp, Mycobacterium tuberculosa, Corynobacterium pyogenes, Hemophilus somnus
Jamur: Chlamydia psittaci
Mycoplasma : Mycoplasma mycoides, Mycoplasma dispar, Mycoplasma bovis
Parasit : Dictocaulus viviparus

Cara Mengobati Pneumonia Pada Ternak Sapi
Pengawasan pada hewan yang masih sehat sangatlah penting, penderita ditempatkan dikandang yang bersih, hangat dan ventilasi yang baik. Pemberian Ca boroglukonat dan vitamin C serta penangan dehidrasi sangat berguna untuk terapi pneumonia.

Terapi sangat efektif dilakukan jika telah mengetahui agen penyebab pneumonia. Pengobatan dengan antibiotik berspektrum luas.

Senin, 16 Juli 2018

penggemukan sapi potong menggunakan bahan pakan lokal

PENGGEMUKAN SAPI POTONG BERBASIS PAKAN LOKAL

PENDAHULUAN

Sapi potong merupakan salah satu komoditas ternak strategis yang dapat mendukung stabilitas nasional. Pada tahun 2017, produksi daging nasional baru tercapai 354.770 ton sedangkan perkiraan kebutuhan mencapai 604.968 ton, sehingga untuk memenuhi kekurangannya 30 – 40 % harus dipenuhi dari impor baik dalam bentuk sapi bakalan maupun dalam bentuk daging. Pasokan impor daging diprediksikan semakin meningkat dan mencapai 70% pada tahun 2020. Peningkatan impor sapi potong dan daging merupakan indikasi peningkatan permintaan daging atau ketidaksanggupan pemenuhan kebutuhan yang harus disuplai dari sapi potong dalam negeri. Pemaksaan pemenuhan kebutuhan daging dari sapi lokal merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan pengurasan sapi potong lokal.
Pencapaian program kecukupan daging nasional pada tahun 2015 juga bergantung kepada ketersediaan sapi potong yang berkualitas. Dengan penyediaan bibit unggul diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sapi potong lokal. Sapi potong lokal sangat potensial dengan berbagai keunggulannya di daerah tropis.
Hasil – hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 70% produktivitas ternak dipengaruhi oleh faktor lingkungan, sedangkan faktor genetik hanya mempengaruhi 30%. Diantara faktor lingkungan tersebut, aspek pakan mempunyai pengaruh paling besar yaitu sekitar 60%. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun potensi genetik ternak tinggi namun apabila pemberian tidak memenuhi persyaratan kuantitas dan kualitas maka produksi yang tinggi tidak akan tercapai. Disamping pengaruhnya yang besar terhadap produktivitas ternak, faktor pakan juga merupakan biaya terbesar dalam usaha peternakan. Biaya pakan ini dapat mencapai 60 – 80 % dari keseluruhan biaya produksi.
Dalam perjalanannya kondisi sapi potong lokal sekarang ini telah mengalami degradasi produksi dan banyak didapatkan dalam bentuk kecil. Penurunan diakibatkan oleh turunnya mutu genetik sapi potong lokal. Kesemuanya ini antara lain diakibatkan oleh pemotongan ternak yang memiliki kondisi baik yang digunakan seebagai standar pasar ternak sapi potong dan jumlah pemotongan induk/ betina produktif mencapai 40%. Genotip sapi potong lokal yang ada memiliki keragaman yang luas, sehingga cukup memiliki potensi genetik yang unggul dan siap untuk ditingkatkan potensi genetiknya secara maksimal untuk mendapatkan keturunan superior.
Potensi sumber daya usaha sapi potong di indonesia seperti pakan dan bangsa sapi lokal merupakan faktor yang penting sebagai sumber keunggulan komparatif usaha sapi potong. Berkenaan dengan pakan, pola pemeliharaan sistem gembala bebas atau gembala diikat walaupun lebih mengandalkan pakan hijauan, ternyata mampu memberikan keunggulan dalam ketersediaan pakan yang mudah. Hal tersebut tercermin dari nilai DHC usaha sapi potong sistem gembala yang kurang dari satu. Ketersediaan limbah pertanian sebagai asupan pakan juga merupakan sumber daya saing usaha sapi potong di indonesia.
Pakan adalah semua yang bisa dimakan oleh ternak dan tidak mengganggu kesehatannya. Pakan merupakan sumber energi dan materi bagi pertumbuhan dan kehidupan makhluk hidup. Pakan lokal adalah setiap bahan baku yang merupakan sumber daya lokal yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan secara efisien oleh ternak, baik sebagai suplemen, komponen konsentrat atau pakan dasar. Pakan alami adalah pakan yang berasal dari alam, sedangkan pakan buatan adalah pakan yang disiapkan oleh manusia dengan bahan dan komposisi tertentu yang sengaja disiapkan oleh manusia.
Efisiensi usaha pembesaran pejantan sangat dipengaruhi oleh faktor sapi bakalan dan tata laksana pemeliharaan terutama pakan. Bagi usaha pembesaran pejantan komersial seperti halnya feedlot atau usaha yang dilaksanakan secara intensif maka kualitas pakan diatur sedemikian rupa agar dapat memenuhi kebutuhan untuk mendapatkan tingat pertumbuhan (PBBH) yang optimal. Pakan lokal untuk ternak ruminansia di indonesia masih didominasi oleh limbah pertanian. Secara umum, limbah pertanian mempunyai kualitas yang rendah (rendah kandungan protein, energi, vitamin, dan mineral) sebaliknya mengandung serat kasar yang tinggi sehingga salah satu cara mengoptimalkan pemanfaatannya adalah dengan meningkatkan kapasitas saluran pencernaan yang meliputi rekayasa komposisi mikroorganisme dan serta optimalisasi fungsi saluran pencernaan ( Nur A. Yenny, 2004)..
Silase dan daun pelepah sawit bisa mensubtitusi sebagian penggunaan hijauan rumput dalam pemeliharaan sapi simental. Meskipun tingkat palatabilitas silase pelepah dan daun sawit lebih rendah dibandingkan hijauan rumput namun tidak mempengaruhi tingkat pertumbuhan ternak. Perlu meningkatkan palatabilitas silase pelepah dan daun sawit sehingga pemanfaatannya sebagai sumber pakan dasar bisa meningkat. Hal ini bermanfaat untuk menghadapi kekurangan produksi hijauan rumput alam dalam pemeliharaan sapi simental (A.D. Ratna, 2013).

PEMBAHASAN

Kebutuhan daging sapi terus meningkat seiring makin baiknya kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi yang seimbang, pertambahan penduduk, dan meningkatnya daya beli masyarakat. Salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan daging dalam negeri yaitu dengan meningkatkan populasi, produksi, dan produktivitas sapi potong.
Perkembangan usaha sapi potong dalam bentuk penggemukan sapi (feedloot) didorong oleh permintaan daging yang terus menerus meningkat dari tahun ke tahun. Bentuk usaha ternak sapi potong ini bisa dilakukan secara perorangan maupun dalam bentuk perusahaan skala besar, namun ada juga yang mengusahakan penggemukan sapi ini secara berkelompok.
Indonesia sebagai negara kepulauan, tidak mempunyai areal yang luas untuk menggembalakan ternak, kecuali di NTT, NTB, dan beberapa wilayah lain di kawasan timur indonesia. Di samping itu, produksi biji – bijian masih sangat terbatas, bahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masih harus mengimpor dalam jumlah yang cukup besar. Oleh karena itu pengembangan ternak ruminansia di Indonesia harus memanfaatkan sumber serat, energi dan protein yang melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal yaitu limbah pertanian, perkebunan dan agroindustri. Limbah ini biasanya mengandung faktor anti nutrisi, atau kandungan serat yang tinggi, sehingga kurang baik untuk ternak.
Guna mencukupi kebutuhan nutrisi ternak sapi untuk pertumbuhan sesuai dengan kemampuan genetik, maka perlu dilengkapi dengan ransum yang memenuhi kebutuhan nutrien tersebut. Formulasi ransum dapat dilakukan menggunakan bahan – bahan pakan yang tersedia di lokasi seperti dedak padi kualitas rendah, jagung afkir, bungkil kelapa yang kurang layak untuk monogastrik, bungkil inti sawit, dan lain sebagainya.
Inovasi teknologi pakan murah berbasis sumberdaya lokal dan limbah pertanian, perkebunan dan agro industri perlu dilakukan dalam rangka menyediakan sumber bahan baku pakan bagi ternak ruminansia (sapi) secara berkelanjutan. Hal ini menjadi bahan dasar dalam penyusunan pakan komplit yang murah dan berkualitas sehingga terjangkau oleh masyarakat. Inovasi sistem integrasi tanaman-ternak melalui pendekatan zero waste perlu dilakukan untuk dapat mencapai usaha peternakan yang  mendekati zero cost. Usaha cow calf operation yang terintegrasi dengan usaha pembesaran atau penggemukan hanya dapat terus berkembang apabila biaya pakan dapat ditekan serendah mungkin, atau eksternal input diminimalkan (Dwiyanto et al, 20004).
Produksi jerami padi yang melimpah merupakan sumber pakan ternak ruminansia yang cukup menjanjikan. Namun, disebabkan oleh kandungan protein yang rendah serta tingginya silika dan lignin mengakibatkan rendahnya kecernaan pada ruminansia. Nilai nutrisi jerami padi dapat ditingkatkan dengan berbagai metode perlakuan. Meskipun demikian, berbagai metode perlakuan tersebut tampaknya tidak mampu memenuhi kebutuhan basal ternak sehingga tidak dapat digunakan sebagai pakan tunggal kecuali diberikan tambahan pakan dari sumber yang lain (Yanuartono, 2017).
Penggunaan jerami padi menggunakan bakteri selulolitik sebagai stok pakan dasar yang terkadang ditambahkan konsentrat berupa bekatul ditambah garam dan air dicomborkan. Perbaikan manajemen produksi dalam penggemukan sapi potong secara intensif dapat menggunakan bahan pakan limbah jerami padi difermentasi dahulu agar lebih berkualitas, bergizi dan palatabel untuk meningkatkan pertumbuhan yang berdampak pada pendapatan dan keuntungan peternak (Ali U, 2017).


Jerami padi hasil fermentasi dengan menggunakan probion berpeluang sebagai pakan pengganti rumput Gajah dan mampu mempertahankan konsumsi, kecernaan, pertambahan bobot hidup harian serta efisiensi penggunaan pakan sapi Simmental (Antonius, 2009).

Pengembangan pertanian melalui program intensifikasi pertanian untuk menjaga ketahanan pangan menyebabkan produksi pangan meningkat sekaligus produksi limbah tanaman pangan juga meningkat, hal ini membuat semakin meningkatnya ketersediaan hijauan makanan ternak. Program intesifikasi tanaman pangan ini tentunya sangat menguntungkan bagi penyediaan hijauan makanan ternak. Selain itu juga pemanfaatan limbah tanaman pangan sebagai pakan ternak akan mengurangi pencemaran lingkungan (Umela, 2016).

Pakan adalah kebutuhan mutlak yang harus selalu diperhatikan dalam pemeliharaan ternak ruminansia yaitu sapi, kerbau, kambing, dan domba. Namun ketersediaan pakan selalu menjadi kendala terutama di saat musim kemarau, pakan berupa hijauan segar sulit didapatkan, yang ada hanya sisa – sisa tanaman berupa jerami. Satu diantaranya adalah jerami jagung yang menjadi potensi besar sebagai sumber pakan, hanya saja kualitasnya rendah. Untuk meningkatkan kualitas dan manfaat jerami jagung maka diperlukan teknologi yang mudah dan sederhana yang dapat dilakukan petani. Oleh karena itu diperlukan perlakuan agar kualitasnya dapat ditingkatkan antara lain dengan teknologi amoniasi-molase. Amoniasi adalah cara perbaikan mutu pakan melalui pemberian urea sebagai NPN (Non protein nitrogen), sedangkan molase adalah hasil samping agroindustri dalam proses pembuatan gula (tetes tebu) yang bermanfaat sebagai sumber energi yang sangat dibutuhkan oleh ternak (Bahar S, 2016).

Pada penelitian kecernaan jerami jagung manado kuning dan jerami jagung hibrida jaya 3 pada sapi PO di dapatkan bahwa konsumsi bahan kering, kecernaan bahan kering, kecernaan protein kasar dan kecernaan NDF jerami jagung manado kuning lebih tinggi dibanding dengan jerami jagung hibrida jaya 3 (Tuwaidan N.W.H, 2015).

Pakan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam penggemukan sapi potong. Rumput raja  dan tebon jagung merupakan hijauan yang sering diberikan pada sapi potong. Pemberian rumput raja dalam ransum maksimal 50% dan pemberian tebon jagung  minimal 50% dapat memberikan performans yang baik pada sapi PO betina (Heryanto, 2016).
Kulit buah kakao mengandung senyawa polifenol dan flavanoid. Senyawa polifenol dan flavanoid ini memiliki aktivitas antioksidan. Senyawa aktif yang diekstraksi dari kulit buah kakao baik dari buah yang masak maupun yang masih muda ditentukan aktivitas antioksidannya menggunakan metode DPPH. Aktivitas antioksidan kulit buah kakao masak yang tertinggi diperoleh dari fraksi etil asetat (A. Jusmiati, 2015).

Fermentasi merupakan salah satu teknologi unntuk meningkatkan nilai gizi pakan berserat tinggi. Fermentasi dapat menghidrolisis protein, lemak, sellulosa, lignin, dan polisakarida lain. Sehingga bahan yang akan difermentasi akan mempunyai daya cerna yang lebih tinggi dan dapat meningkatkan total TDN. Manfaat fermentasi buah kakao adalah meningkatkan daya cerna, meningkatkan kadar protein, menurunkan kadar lignin, menekan efek buruk racun theobromine pada kulit buah kakao, dan meningkatkan nilai gizi pakan.  Untuk ternak sapi dan kambing pemberian fermentasi kulit buah kakao dapat diberikan sebanyak 0,7 – 1 % BB (Anas S., 2011).

Pemanfaatan pakan lokal dalam bentuk hijauan dan konsentrat yang diberikan pada sapi bali dara memberikan pengaruh pertambahan bobot badan harian (PBBH) yang lebih baik dibandingkan dengan hanya diberi hijauan saja. Demikian juga dengan analisis ekonomi menunjukkan bahwa pemberian hijauan dan konsentrat memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan hanya diberi hijauan saja (Nurhayu, 2011).

Sapi potong pada kelompok tani ternak di pedesaan ditujukan untuk menghasilkan pedet dan bakalan (cow-calf operation) serta usaha penggemukan (fattening). Produktivitas sapi cow-calf operation menujukkan hasil sangat rendah dengan produktivitas pedet 6% pada kebuntingan kedua dan tingkat kematian pedet mencapai 25%. Hasil penggemukan sapi potong belum mencapai optimal yang diindikasikan kondisi BCS berkisar 3 sampai 6 dengan modus 4 (Peranakan Ongole dan Sumba Ongole) dan 5 (Persilangan Simental dan Charolois). Penerapan Good Farming Practice dengan perhatian khusus pada aspek pemilihan bibit dan penguatan pakan sangat direkomendasikan untuk meningkatkan produktivitas sapi potong pada kelompok tani ternak di pedesaan (Sodiq, 2012).

Produktivitas hijauan padang penggembalaan musim kemarau yang didominasi oleh rumput alang-alang. Perhitungan kapasitas tampung pada kecamatan Mata Usu masih under grazing dan Lantari Jaya dengan jumlah ternak yang digembalakan cenderung berlebihan (Over Grazing). Pola pemeliharaan yang tidak terkontrol sehingga berpengaruh langsung pada rendahnya produktivitas ternak, terlihat masih tingginya angka ternak terserang penyakit serta angka kematian anak dan dewasa masih tinggi. Pemberian pakan tambahan tidak berpengaruh terhadap pertambahan berat badan ternak (Rauf, 2015).

Sebaik apapun inovasi teknologi yang diberikan, tanpa bimbingan yang berkesinambungan sampai petani peternak mempraktikan dan merasakan manfaat dari penerapan teknologi tersebut, maka penyuluhan yang dilakukan hanya akan sebatas teori saja. Percontohan budidaya rumput dilaksanakan di lahan kelompok peternak Desa Purwadadi Barat. Pembuatan Urea Molasses Blok belum dilaksanakan karena merupakan hal yang baru bagi peternak di Pasirbungur dan Purwadadi Barat, sehingga umumnya mereka belum berani untuk mencobanya sebelum melihat sendiri praktek dan keberhasilannya di peternak sekitar mereka. yang telah memfasilitasi dan mendanai kegiatan, serta aparat Desa Pasirbungur dan Purwadadi Barat yang telah membantu kelancaran kegiatan ini (Susilawati, 2014).

KESIMPULAN

1. Sapi potong merupakan salah satu komoditas ternak strategis yang dapat mendukung stabilitas nasional.
2. Bagi usaha pembesaran pejantan komersial seperti halnya feedlot atau usaha yang dilaksanakan secara intensif maka kualitas pakan diatur sedemikian rupa agar dapat memenuhi kebutuhan untuk mendapatkan tingat pertumbuhan (PBBH) yang optimal.
3. Pakan adalah semua yang bisa dimakan oleh ternak dan tidak mengganggu kesehatannya.
4. Pakan lokal adalah setiap bahan baku yang merupakan sumber daya lokal yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan secara efisien oleh ternak, baik sebagai suplemen, komponen konsentrat atau pakan dasar.
5. Penggunaan pakan lokal dapat menghemat biaya pakan dan ketersediaannya mudah di dapat.


Daftar Pustaka
Dwiyanto K., D. Sitompul, I. Manti, I. W. Mathius, dan Soentoro. 2004. Pengkajian Pengembangan Usaha Sistem Integrasi Kelapa Sawit – Sapi. Pros. Lokakarya Nasional Sistem Integrasi Kelapa Sawit Sapi.
Dwiyanto K., dan P. Atien. 2008. Keberhasilan Pemanfaatan Sapi Bali Berbasis Pakan Lokal Dalam Pengembangan Usaha Sapi Potong Di Indonesia. Jurnal Wartazoa Vol. 18 No. 1 Th. 2008.
Ali U. Dan M. Badat. 2017. Upaya Pengembangan Sapi Potong Menggunakan Pakan Basal Jerami Padi di Desa Wonokerto, Dukun, Gresik. Jurnal Dedikasi, ISSN 1693 – 3214. Volume 14, Mei 2017.
Heryanto, K. Maaruf, S.S. Malalantang, M. R. Waani. 2016. Pengaruh Pemberian Rumput Raja (Pennisetum Purpupoides) dan Tebon Jagung Terhadap Performans Sapi Peranakan Ongole (PO) Betina. Jurnal Zootek (“Zootek”Journal) Vol. 36 No.1 : 123 – 130 ISSN 0852 – 2626.
Anas S, Zubair A., dan R. Dwi. 2011. Kajian Pemberian Pakan Kulit Kakao Fermentasi Terhadap Pertumbuhan Sapi Bali. Jurnal Agrisistem Vol. 7 No. 2 : 79 – 86.
Nur A. Yenny, dan U. Uum. 2004. Pemberian Pakan Berbahan Biomass Lokal Pada Peternak Sapi Potong Komersial : Studi Perbaikan Pakan Pada Usaha Penggemukan. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2004.
A. D. Ratna, Y. Hendri, dan A. M. Bamualim. 2013. Respon Pertumbuhan Sapi Simental Yang Diberi Pakan Hasil Ikutan Industri Sawit di Sumatera Barat. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2013.
A. Jusmiati, Rusli R., dan R. Laode. 2015. Aktivitas Antioksidan Kulit Buah Kakao Masak dan Kulit Buah Kakao Muda. Jurnal Sains dan Kesehatan.2015. Vol. 1 No. 1. P-ISSN: 2303-0267, e_ISSN: 2407-6082.
Umela S., dan B. Nurfitriyanti. 2016. Daya Dukung Jerami Jagung Sebagai Pakan Ternak Sapi Potong. Jurnal Jtech 2016, 4(1) 64 – 72.
Bahar S. 2016. Teknologi Pengolahan Jerami Jagung Untuk Pakan Ternak Ruminansia. Buletin Pertanian Perkotaan Volume 6 Nomor 2, 2016.
Tuwaidan N.W.H., Waani M.R., Rustandi, dan Malalantang S.S. 2015. Konsumsi Kecernaan Jerami Jagung Manado Kuning dan Jerami Jagung Hibrida Jaya 3 Pada Sapi PO. Jurnal Zootek (“Zootek”Journal) Vol. 35 No. 2 : 328-334 (Juli 2015) ISSN 0852 – 2626.

Jumat, 08 Juni 2018

ekstoparasit pada hewan dan kerugian yang ditimbulkannya


  1. Mengenal ekstoparasit pada hewan dan potensi kerugian yang ditimbulkannya

Ektoparasit (ektozoa) merupakan parasit yang berdasarkan tempat manifestasi parasitismenya terdapat di permukaan luar tubuh inang, termasuk di liang-liang dalam kulit atau ruang telinga luar. Kelompok parasit ini juga meliputi parasit yang sifatnya tidak menetap pada tubuh inang, tetapi datang - pergi di tubuh inang. Adanya sifat berpindah inang tentu tidak berarti ektoparasit tidak mempunyai preferensi terhadap inang. Seperti parasit lainnya, ektoparasit juga memiliki spesifikasi inang, inang pilihan, atau inang kesukaan.
Proses preferensi ektoparasit terhadap inang antara lain melalui fenomena adaptasi, baik adaptasi morfologis maupun biologis yang kompleks. Proses ini dapat diawali dari nenek moyang jenis ektoparasit tersebut, kemudian diturunkan kepada progeninya. Menurut teori heterogenitas, ektoparasit dan inang adalah dua individu yang berbeda jenis dan asal usulnya (Brotowidjoyo, 1987). Walaupun ektoparasit memilih inang tertentu untuk kelangsungan hidupnya, namun bukan berarti pada tubuh inang tersebut hanya terdapat kelompok ektoparasit yang sejenis. Weber (1982), menemukan dua kelompok artropoda ektoparasit, yaitu serangga (pinjal dan kutu), serta tungau (larva tungau, tungau dewasa, dan caplak) pada rodensia, khususnya tikus, baik tikus domestik, peridomestik, maupun silvatik.
Tungau, caplak, kutu dan pinjal tergabung dalam satu filum yang sama yaitu Arthropoda. Tungau dan caplak berada dibawah satu kelas (Arachnida) dan anak kelas yang sama yaitu Acari, namun keduanya tergolong dalam suku yang berbeda.  Caplak termasuk dalam golongan suku Ixodidae dan Argasidae sedangkan suku yang lain disebut tungau saja (Krantz, 1978).
Bagaimana dengan posisi kutu dan pinjal dalam klasifikasi?  Menurut Borror dkk. (1996) kutu dan pinjal termasuk dalam kelas Insekta (serangga) namun berbeda bangsa. Kutu seringkali dibagi menjadi dua bangsa yang terpisah yaitu Mallophaga (kutu penggigit) dan Anoplura (kutu penghisap). Kutu penghisap sering pula disebut “tuma” oleh masyarakat Indonesia. Ahli entomologi dari Inggris, Jerman dan Australia hanya mengenali satu bangsa tunggal yaitu Phthiráptera, dengan empat anak bangsa (salah satunya Anoplura).
Pinjal termasuk dalam bangsa Siphonaptera. Beberapa suku yang terdapat di Indonesia antara lain Pulicidae, Ischnopsyllidae, Hystrichopsyllidae, Pygiopsyllidae, Ceratophyllidae dan Leptosyllidae. Pinjal tikus dan kucing yang umum ditemukan termasuk dalam Pulicidae.




Tungau (Mite) dan Caplak (Tick)
Tungau merupakan binatang yang sangat kecil seperti kutu dan tidak tampak oleh mata. Tungau adalah sekelompok hewan kecil bertungkai delapan yang bersama-sama dengan caplak, menjadi anggota superordo Acarina.
Sama seperti anggota arachnida lainnya (laba-laba, kalajengking dll.), tubuh tungau dan caplak terbagi menjadi dua bagian, yaitu: bagian depan disebut cephalothorax (prosoma) dan bagian belakang tubuh disebut abdomen (ophistosoma).Meskipun demikian, tidak terdapat batas yang jelas diantara dua bagian tubuh tersebut. Tungau dan caplak dewasa mempunyai alat-alat tubuh pada arachnida seperti khelisera dan palpus (alat sensori) yang terdapat di bagian , dan enathosoma/capitulum, dan empat pasang kaki (Kendall, 2008).
Sebagian besar tungau berukuran sangat kecil, memiliki panjang kurang dari 1 mm. Namun ada pula tungau besar yang dapat mencapai panjang 7.000 µm. Pada gnathosoma tungau terdapat epistoma, tritosternum (berfungsi dalam transport cairan tubuh), palpus yang beruas- ruas, khelisera, corniculi, hipostoma berseta yang  masing-masing sangat beragam dalam hal bentuk dan jumlah ruasnya tergantung pada kelompoknya.
Khelisera pada tungau teradaptasi untuk menusuk, menghisap atau mengunyah. Tubuh dilindungi oleh dorsal shield/scutum. Tungau memiliki stigma (alat pertukaran O2 dan CO2) yang letaknya bervariasi yaitu di punggung dorsal, antara pangkal kaki/ coxa 2 dan 3, di sebelah coxa ke tiga atau diantara khelisera.
Letak stigma menjadi kunci penting untuk membedakan bangsa tungau. Caplak memiliki ukuran lebih besar dari pada tungau. Panjang tubuh dapat mencapai 2.000-30.000 µm. Selain ukurannya, caplak dibedakan dari tungau berdasarkan letak stigma yang berada di bawah coxa (pangkal kaki) ke empat. Caplak juga memiliki karakter-karakter khas tersendiri pada hipostoma memiliki ocelli/mata, tetapi tidak memiliki epistoma, corniculi dan tritosternum. Caplak dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu caplak berkulit keras/ hard tick (Ixodidae) dan caplak berkulit lunak/soft tick (Argasidae) karena tidak memiliki scutum (Krantz, 1978; Evans, 1992).
Hipostoma pada caplak merupakan suatu struktur yang terdiri dari gigi- gigi yang tersusun teratur dan menonjol. Struktur inilah yang digunakan untuk menusuk tubuh induk semang ketika caplak menghisap darah. Hipostoma dilindumgi oleh khelisera (Vredevoe, 1997).

Kutu (Lice)
kutu adalah insekta yang tubuhnya pipih dorso-ventral, memiliki 6 ( 3 pasang) kaki, tidak bersayap, bersifat hospes  spesifik (hanya bisa hidup pada hospes  tertentu) dan umumnya pada tempat yang tertentu pula. Kutu dapat dibedakan menjadi : (1) kutu penggigit (“bitting lice”) yang kepalanya besar dan melebar, memakan epidermis kulit, remukan bulu, sisik bulu, kerak kulit dan sedimen yang mengering dan (2) kutu penghisap (“sucking lice”) dengan bentuk kepala yang kecil dan meruncing, makanannya adalah darah atau cairan. Dua kelompok kutu yaitu kutu penghisap/ tuma dan kutu penggigit memiliki ciri-ciri morfologiyang berbeda. Ukuran tubuh kutu penghisap mencapai 0,4-6,5 mm; kepala kutu penghisap biasanya lebih sempit daripada protoraksnya; sungut beruas-ruas; mata mereduksi dan bagian-bagian mulut haustellat. Tuma memiliki tiga stilet penusuk (dorsal, tengah dan ventral) pada bagian mulutnya dan satu rostrum pendek pada ujung anterior kepala (Borror dkk., 1996).
Dari tempat itu tiga stilet penusuk dijulurkan. Stilet tersebut kira-kira panjangnya sama dengan kepala dan apabila tidak dipakai dapat ditarik masuk ke dalam satu struktur seperti kantung panjang di bawah saluran pencernaan. Stilet dorsal berfungsi sebagai saluran makanan. Stilet tengah mengandung air liur dan berfungsi sebagai hipofaring, sedangkan stilet ventral sebagai penusuk utama diperkirakan berfungsi sebagai labium. Kaki-kaki kutu penghisap pendek dan memiliki cakar pengait yang termodifikasi untuk melekat pada induk semang. Kutu penggigit bertubuh pipih; berukuran tubuh 2-6 mm; bagian mulut mandibulat; mata majemuk mereduksi; lebar kepala sama atau lebih dengan protoraksnya; tarsi beruas 2-5 dan tidak memiliki cerci (Elzinga, 1978).

Pinjal (Flea)
Pinjal merupakan salah satu parasit yang paling sering ditemui pada hewan kesayangan baik anjing maupun kucing. Meskipun ukurannya yang kecil dan kadang tidak disadari pemilik hewan karena tidak menyebabkan gangguan kesehatan hewan yang serius, namun perlu diperhatikan bahwa dalam jumlah besar kutu dapat mengakibatkan kerusakan kulit yang parah bahkan menjadi vektor pembawa penyakit tertentu  (Anonim, 2015).
Pinjal berukuran kecil dengan panjang 1,5-3,3 mm dan bergerak cepat. Biasanya berwarna gelap (misalnya, cokelat kemerahan untuk kutu kucing). Pinjal merupakan serangga bersayap dengan bagian-bagian mulut seperti tabung yang digunakan untuk menghisap darah host mereka. Kaki pinjal berukuran panjang, sepasang kaki belakangnya digunakan untuk melompat (secara vertikal sampai 7 inch (18 cm); horizontal 13 inch (33 cm)). Pinjal merupakan kutu pelompat terbaik diantara kelompoknya. Tubuh pinjal bersifat lateral dikompresi yang memudahkan mereka untuk bergerak di antara rambut-rambut atau bulu di tubuh inang. Kulit tubuhnya keras, ditutupi oleh banyak bulu dan duri pendek yang mengarah ke belakang, dimana bulu dan duri ini memudahkan pergerakan mereka pada hostnya (Anonim, 2015).

III.4. Siklus Hidup
Proses reproduksi pada tungau dan caplak bervariasi. Siklus hidup yang dijalaninya berupa: telur-larva-nimpha-tungau/caplak dewasa. Larva tungau dan caplak hanya memiliki 3 pasang kaki. Larva caplak, setelah makan darah induk semang, akan tumbuh menjadi nimpha yang memiliki 4 pasang kaki. Nimpha makan darah dan akan tumbuh menjadi caplak dewasa. Setelah makan satu kali sampai kenyang, caplak dewasa betina akan bertelur kemudian ia mati. Caplak betina setelah kenyang menghisap darah dapat membengkak sampai 20-30 kali ukuran semula. Caplak memerlukan + 1 tahun untuk menyelesaikan satu siklus hidup di daerah tropis dan lebih dari satu tahun di daerah lebih dingin (Levine,1994).
Caplak dapat bertahan hidup selama berbulan- bulan tanpa makan jika belum mendapatkan induk semangnya. Caplak dapat hidup pada 1-3 induk semang berbeda selama fase pertumbuhannya sehingga dikenal dengan sebutan caplak berinduk semang satu, berinduk semang dua dan berinduk semang tiga (Vredevoe, 1997).
Kutu menjalani proses metamorfosa yang tidak sempurna, yaitu telur-nimpha-individu dewasa. Seluruh siklus hidup terjadi di tubuh induk semang. Telur kutu akan menempel pada rambut induk semang dengan bantuan zat perekat yang dihasilkannya. Sedangkan siklus hidup yang dijalani pinjal merupakan metamorfosa sempurna yaitu telur-larva-pupa-dewasa. Larva yang baru menetas tidak memiliki kaki. Fase pupa adalah fase yang tidak memerlukan makanan (Kadarsan dkk., 1983).

Potensi Kerugian yang Ditimbulkan
Dermatosis
Infestasi ektoparasit dapat mengakibatkan kerusakan kulit atau dermatosis sehingga menurunkan kualitas kulit. Infestasi ektoparasit juga menghilangkan rambut penutup dan menimbulkan suatu jaringan nekrotik pada kulit.

Penyebaran Berbagai Penyakit.
Ektoparasit berperan dalam penularan dan pemindahan berbagai penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus, protozoa, dan rickettsia. Beberapa diantaranya bersifat zoonosis. Seperti yang dijelaskan diberbaga sumber, contohnya Caplak berinang satu menularkan agen penyakit secara transovarial (melalui telur) sedangkan caplak berinang dua dan tiga secara transtadial (dari larva ke nimfa dan dari nimfa ke caplak dewasa) (Soulsby, 1982). Peran caplak sebagai penular penyakit dari hewan ke manusia telah banyak diketahui. Beberapa penyakit yang ditularkan caplak pada manusia adalah demam Q, demam hemoragi Crimean-Congo, penyakit lyme. Penyakit yang dapat ditularkan oleh caplak pada sapi antara lain anaplasmosis, babesiosis, theileriosis, ensefalitis, ehrlichiosis, dan lain-lain. Penyakit babesiosis yang ditularkan berbagai caplak dapat menyebabkan kematian 80-90% sapi dewasa yang tidak diobati dan 10-15% ternak muda umur satu sampai dua tahun. Kerugian lain yang timbul akibat penyakit ini adalah penurunan berat badan, penurunan produksi susu.
Beberapa penyakit yang ditimbulkan akibat infestasi caplak dan tungau antara lain: scrub thypus, rocky mountain spotted fever, tularemia, Lyme disease (Krantz, 1978). Infestasi pinjal bahkan pernah menyebabkan epidemi pes di daerah Boyolali, Jawa Tengah pada akhir 1960an. Hal ini disebabkan karena pinjal dapat menularkan bakteri Yersinia pestis, penyebab penyakit pes, dari tikus ke manusia (Kadarsan dkk., 1983).

Iritasi dan Penurunan Produksi
Gigitan Ektoparasit menyebabkan iritasi dan kegelisahan sehingga aktivitas dan waktu istirahat inang akan berkurang. Gigitan juga akan memperbesar faktor “stress” yaitu banyak energi yang terbuang, sehingga akan menurunkan efisiensi makanan dan sekaligus menghambat laju pertumbuhan badan dan daya produksi.

Pengendalian Ektoparasit
Pencegahan Penyakit Ektoparasit
Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan memperhatikan perkandangan yang baik misalnya ventilasi kandang, lantai kandang juga kontak dengan ternak lain yang sakit dan orang yang sakit. Sanitasi merupakan usaha pencegahan penyakit dengan cara menghilangkan atau mengatur faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dengan perpindahan dari penyakit tersebut. Prinsip sanitasi yaitu bersih secara fisik, kimiawi dan mikrobiologi.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam sanitasi
1.      Ruang dan alat yang akan disanitasi
2.      Metiode sanitasi yang digunakan.
3.      Bahan/zat kimia serta aplikasinya.
4.      Monitoring program sanitasi.
5.      Harga bahan yang digunakan.
6.      Ketrampilan pekerja
7.      Sifat bahan/produk dimana kegiatan akan dilakukan.
Prinsip-prinsip dalam pencegahan penyakit yaitu pencegahan lebih baik daripada mengobati, ternak baru yang akan dimasukkan ke kandang harus dipastikan bebas dari berbagai penyakit, lingkungan kandang harus bersih dan kering, pembersihan kandang dan peralatan dilakukan setiap hari, pengendalian parasit internal (cacingan) dan eksternal (caplak, lalat dan pinjal). Jika ternak telah terinfeksi ektoparasit maka dapat dilakungan pembersihan dengan diambil satu-satu atau dengan cara Memandikan dalam hal ini tidak hanya dalam arti membersihkan dari kotoran yang melekat dibadan tapi juga sekaligus dilakukan pengobatan eksternal terhadap kuku, parasit, jamur, kudis, dan lain - lain yang sifatnya mengganggu kesehatan kulit. Untuk memandikan ternak sapi ini perlu disediakan fasilitas seperti dipping atau spraying. Akan tetapi hanya tindakan spraying yang sering dilakukan di peternakan tersebut, dan dipping tidak dilakukan dikarenakan tidak memiliki bak untuk memandikan ternak sapi. Dipping merupakan tindakan menyelamatkan ternak sapi ke dalam  ternak sapi yang berisi air dan zat kimia pembunuh eksternal parasit. Sapi akan berenang sepanjang bak tersebut dan badannya akan basah oleh air yang mengandung zat kimia.
Spraying adalah tindakan menyemprotkan zat kimia pembunuh eksternal parasit ke badan sapi secara mekanis maupun manual. Tujuan Dipping dan spraying pada dasarnya adalah sama yakni unutk membunuh eksternal parasit yang terdapat pada badan sapi. Akan tetapi, penggunaan dipping lebih ekonomis kerana cairan zat kimia dapat digunakan berulang-ulang, tetapi perlu diperhatikan apabila hujan turun dosis zat kimia akan menurun dan tidak efektif lagi akibat bertambahnya air. Keuntungan spraying adalah tidak berubahnya dosis zat kimia. Selain itu, penyemprotan dapat mencapai bagian tubuh yang mungkin terlewat apabila dilakukan dengan cara dipping, misalnya bagian telinga, dasar tanduk, dan bagian tepi lainnya.

Senin, 28 Mei 2018

praktikum pembuatan yoghurt dan uji kualitas susu segar

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Susu merupakan makanan sumber protein hewani yang berasal dari sapi sedang laktasi. Susu mempunyai nilai gizi tinggi yang yang dibutuhkan oleh tubuh seperti protein,lemak, hidrat arang, vitamin, dan mineral. Protein susu mempunyaimnilai biologis tinggi karena mengandung asam amino essensial yang lengkap dan seimbang sehingga lebih mudah dicerna tubuh.
Nilai biologis susu yang tinggi menyebabkan susu mudah terserang mikroorganisme, sehingga susu mudah rusak dan tidak tahan lama disimpan dalam bentuk segar. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan pengolahan lanjutan untuk susu menjadi produk yang lebih tahan lama namun tidak merusak nilai gizi yang terkandung di dalamnya.
Yoghurt merupakan salah satu bentuk pengolahan lanjutan dari susu yang dapat meningkatkan daya simpan susu dan juga meningkatkan nilai gizi yang terkandung didalamnya. Yoghurt dibuat dengan memeram susu yang diinokulasikan menggunakan bakteri asam laktat. Bakteri asam laktat yang dapat digunakan sebagai starter untuk inokulasi yoghurt adalah lactobacillus bulgarius dan streptococcus thermophilus.
Penggunaan bakteri asam laktat sebagai starter yoghurt menyebabkan yoghurt yang dihasilkan menjadi asam. Proses fermentasi selain memberi efek pengawetan juga merubah rasa susu menjadi asam juga merubah struktur dan cita rasa susu. Hal ini membuat produk fermentasi lebih menarik, mudah dicerna, dan bergizi. Penambahan bahan lain seperti ekstrak buah, kacang, dan flavour dapat dilakukan untuk menambah cita rasa yoghurt agar lebih menarik.

Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum pembuatan yoghurt yaitu :
1. mahasiswa dapat mengetahui dan dapat membuat yoghurt.
2. mahasiswa dapat mengetahui bahan yang digunakan dalam pembuatan yoghurt.

Manfaat
Manfaat yang didapatkan dari kegiatan praktikum ini adalah dapat menambah pengetahuan dan wawasan mahasiswa mengenai pengolahan lanjutan untuk susu menjadi produk yang lebih tahan lama namun tidak merusak nilai gizi yang terkandung di dalamnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Yoghurt merupakan minuman berasal dari air susu yang telah mengalami proses fermentasi dengan menggunakan jasa mikroba (SNI, 1992). Proses fermentasi tersebut dapat mencegah pertumbuhan mikroba patogen dalam produk yang dihasilkannya, meningkatkan nilai gizi yang lebih tinggi dibandingkan dengan bahan asalnya dan dapat memecah laktosa susu menjadi senyawa yang lebih sederhana, sehingga mudah dicerna, juga terjadi penambahan beberapa vitamin seperti riboflavin, vitamin B12, dan provitamin A yang disintesis oleh mikroba pada proses fermentasi tersebut. Aktivitas enzim dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana enzim pada yoghurt dapat memecah lemak dan protein (andriani, 2008).

Yoghurt merupakan produk hasil fermentasi susu dengan menggunakan Streptococcus thermophilus dan lactobacillus bulgaricus sebagai starternya. Sebagai akibat dari inokulasi kedua starter tersebut dimungkinkan terjadinya degradasi laktosa dan produksi asam laktat yang berakibat pada penurunan pH dan terbentuknya gumpalan yoghurt. Degradasi laktosa menjadi glukosa dan galaktosa dengan sendirinya menurunkan potensi terjadinya intoleransi laktosa. Pada saat yang bersamaan, produksi asam laktat mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen penyebab berbagai penyakit terkait pangan. Saat ini, berbagai produk yoghurt dikembangkan dengan penambahan probiotik dan sering disebut bio – yoghurt (Indratiningsih, 2004).
Yoghurt dikenal memiliki peranan penting bagi kesehatan tubuh, di antaranya bermanfaat bagi penderita lactose intolerance yang merupakan gejala malabsorbsi laktosa yang banyak dialami oleh penduduk, khususnya anak-anak, di beberapa negara Asia dan Afrika. Yogurt juga mampu menurunkan kolesterol darah, menjaga kesehatan lambung dan mencegah kanker saluran pencernaan. Berbagai peranan tersebut terutama karena adanya bakteri yang digunakan dalam proses fermentasi yogurt (Andayani, 2007).
Tipe yoghurt dapat dibagi menjadi beberapa kategori, umurnnya berdasarkan kandungan lemak, metode pembuatan dan flavor. Yoghurt berdasarkan kandungan lemaknya dibedakan dalam tiga kategori yaitu: 1) yoghurt yang mengandung minimum 3,25oh lemak susu:2) yoghurt yang mengandung lemak susu 1-3,25Yo; dan 3) yoghurt rendah lemak yaitu bila mengandung lemak susu kurang dari l% (Tamime, 1990). Berdasarkan metode pembuatannya. tipe yoghurt dibagi menjadi set yoghurt dan stined yoghurt.

Susu yang akan difermentasi dipanaskan terlebih dulu dan pemanasan ini sangat bervariasi, baik dalam penggunaan susu maupun lama pemanasannya. Tapi pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk menurunkan populasi mikroba dalam susu dan memberikan kondisi yang baik bagi pertumbuhan biakan yoghurt. Selain itu, pemanasan susu sebelum dibuat yoghurt juga bertujuan untuk mengurangi airnya, sehingga akan diperoleh yoghurt yang lebih padat.



Menurut Dewipadma (1978) bahwa mula-mula susu dipanaskan pada api yang kecil sampai volumenya menjadi 2/3 atau 1/2 dari volume semula, kemudian didinginkan sampai suhu 45 °C dan selanjutnya diinokulasi starter sebanyak 2 - 5 persen . Lalu diinkubasikan pada suhu 45 0C selama 4 – 6 jam, sampai keasaman mencapai 0,7 – 1,0 persen asam laktat .
Secara tradisional, yoghurt dibuat dari susu yang dipanaskan pada suhu tinggi selama beberapa waktu untuk menguapkan sebagian kandungan airnya sampai 1/3 bagian dari volume asal, namun sekarang proses penguapan dapat dilakukan pada suhu rendah dalam keadaan vakum.

Menurut Argandhina P. (2014) bahwa mutu yoghurt dapat dinilai dari beberapa parameter yang diantaranya yaitu pH, kekentalan, cita rasa, dan kesukaan. Nilai pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki suatu larutan. Nilai pH dipengaruhi oleh pertumbuhan bakteri asam laktat dalam proses fermentasi asam laktat dalam proses fermentasi yoghurt.
Kekentalan susu merupakan kontribusi dari keberadaan kasein atau misein dan globula lemak yang terdapat pada susu tersebut, selain itu ikatan diantara protein dan lemak dapat memberikan pengaruh terhadap kekentalan, perubahan kasein susu yang mempunyai sifat hidrophilik yang sama dengan jenis protein lain menyebabkan kekentalan meningkat (Sunarlim et al., 2007). Asam laktat yang dihasilkan selama proses fermentasi dapat meningkatkan cita rasa dan meningkatkan keasaman atau menurunkan pH nya (Winarno, 2007).

BAB III
MATERI DAN METODE
A. Alat dan Bahan
1. Alat
a.gelas ukur k. Thermometer
b. tabung reaksi l. corong
c. kapas m. kompor
d. waterbath n. Beaker glass
 e. Laktodesimeter o. pengaduk
f. erlenmeyer p. panci
g. buret q. Labu ukur
h. panci r. Pipet tetes
i. pengaduk s. Rak tabung
j. toples
2. Bahan
a. Susu Segar 0,5 liter g. Susu skim 50 gr
b. alkohol 70% 5 ml h. Yoghurt plan 3 sendok
c. phenopthaline 10 tetes
d. NaOH
e. methylene blue
f. Air

B. Cara Kerja
1. Pembuatan Yoghurt
Memanaskan susu pada suhu 900C .
Menambahkan susu skim
Mendinginkan hingga suhu 450C
Menginokulasi dengan streptococcus thermophilus dan lactobacillus bulgaricus dengan perbandingan 1 : 1
Menuangkan dalam wadah / toples
Menginkubasi pada suhu 450C selama 4 – 6 jam atau pada suhu kamar selama 12 jam
yoghurt
2. Uji Kimia Susu
a. Uji Reduktase (MBRT)
Mengambil 10 ml Susu dan menambahkan 2 tetes methylene blue

Menghomogenkan

Menyimpan ke dalam waterbath selama 2 – 4 jam.
b. Uji Alkohol
Mengambil 5 ml susu dan manambahkan 5 ml alkohol

Menghomogenkan

Mengamati hasil
c. Uji Keasaman (Acidity Test)
Mengambil 9 ml susu dan menambahkan 10 tetes indikator PP (Phenopthaline)

Mentitrasi dengan NaOH hingga berwarna merah muda

3. Uji Fisik Susu
a. Uji BJ
Mengambil sampel susu 2/3 volume gelas ukur (60 ml)

Memasukkan alat laktodesimeter

Mengamati hasilnya
b. Uji Rebus
mengambil sampel 5 ml

merebus dalam air mendidih selama 5 menit

mengamati hasilnya

4. Uji Organoleptik
a. Warna, Bau, Rasa, dan Tekstur
menuangkan susu ke dalam gelas kimia lalu mengamati warna susu, melakukan penciuman susu
menuangkan susu ke tangan atau langsung ke mulut dan merasakan susu.
b. Kebersihan
mengambil susu 5 ml, 2 kali ulangan

menyaring susu diatas kapas

mengamati kebersihan pada kapas





BAB IV
HASIL dan Pembahasan
Uji Organoleptik Yoghrt :
Yoghurt Pabrik :
Warna : Putih susu
Tekstur : Kental
Rasa : Asam sepat dan sedikit manis
Bau : Aroma khas asam
Yoghurt hasil Praktikum :
Warna : Putih Kekuningan
Tekstur : Kental (Lebih encer)
Rasa : asam, gurih susu
Bau : Aroma Khas susu asam (seperti santan)
Hasil praktikum kelompok 2 :
Warna : putih kecoklatan
Tekstur : menggumpal/ kental
Rasa : asam, asin
Bau : keamisan
Hasil praktikum kelompok 3 :
Warna : putih kekuningan
Tekstur : cair, halus
Rasa : hambar, tawar, sedikit asam
Hasil praktikum kelompok 4 :
Warna : putih kekuningan
Tekstur : lebih encer dan lembut
Rasa : lebih asam
Bau : alkohol sangat menyengat
Hasil dari Praktikum uji kualitas susu
1. Uji Kimia
a. Uji Reduktase (MBRT)
b. Uji Alkohol
Hasil dari uji alkohol yang dilakukan yaitu tidak terjadi penggumpalan di dinding tabung reaksi atau hasil uji negatif.
c. Uji Keasaman
hasil dari uji keasaman yaitu :
Asam Laktat = V. NaOH x N (NaOH) x 90/1000 x 100%
V. Sampel
= 2,02 x 0,1 x 0,09   X 100%
9
= 0,202%
Starndar keasaman susu segar yaitu 0,18 – 0,24 %. Jadi keasaman susu masih normal.
2. Uji Fisik
a. Uji BJ
hasil dari uji BJ yaitu :
BJ = 1 + skala/1000 + [(T-27,5) x 0,0002]
= 1 + 24/1000 + [(27 – 27,5) x 0,0002]
= 1 + 0,024 – 0,0001
= 1,0239
BJ susu maksimal yaitu 1,027 – 1,035. Jadi BJ susu masih normal
b. Uji Rebus
Hasil dari uji rebus yang dilakukan yaitu susu tidak menggumpal, tidak pecah, dan encer. Jadi susu baik untuk dikonsumsi.
3. Uji Organoleptik
a. Uji Warna = putih kekuningan (warna susu)
Uji Bau = bau khas susu sapi
Uji Rasa = Gurih, Asin, Agak Manis
Uji Tekstur = cair
b. Uji Kebersihan
hasil dari uji kebersihan yang dilakukan yaitu pada kapas tidak terdapat kotoran dengan nilai 8.

PEMBAHASAN
Yoghurt merupakan produk hasil fermentasi susu dengan menggunakan Streptococcus thermophilus dan lactobacillus bulgaricus sebagai starternya. Sebagai akibat dari inokulasi kedua starter tersebut dimungkinkan terjadinya degradasi laktosa dan produksi asam laktat yang berakibat pada penurunan pH dan terbentuknya gumpalan yoghurt. Degradasi laktosa menjadi glukosa dan galaktosa dengan sendirinya menurunkan potensi terjadinya intoleransi laktosa. Pada saat yang bersamaan, produksi asam laktat mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen penyebab berbagai penyakit terkait pangan. Saat ini, berbagai produk yoghurt dikembangkan dengan penambahan probiotik dan sering disebut bio – yoghurt (Indratiningsih, 2004).
Pada saat memasukkan yoghurt plan suhu susu harus didinginkan terlebih dahulu dari suhu saat pemanasan susu yaitu 900C menjadi sekitar 450C – 550C. Hal ini sangat penting karena jika yoghurt plan dimasukkan pada saat suhu susu masih  tinggi  sekitar 900C, maka bakteri yang terkandung dalam yoghurt plan tersebut akan mati sehingga pembuatan yoghurt akan mengalami kegagalan.
Pemanasan bertujuan untuk mematikan semua mikroba patogen yang ada pada susu yang dapat menghambat bakteri starter. Disamping itu juga untuk menurunkan kandungan air pada susu sehingga akhirnya akan diperoleh yoghurt dengan konsistensi yang cukup padat.
Proses pendinginan bertujuan untuk memberi kan kondisi yang optimum bagi bakteri starter. Pendinginan dilakukan sampai suhu 450C - 550C. Setelah suhu tercapai, maka bakteri starter dapat ditambahkan.
Lactobacillus lebih berperan dalam pembentukan aroma, sedangkan stertococcus lebih berperan dalam pembentukan cita rasa. Komponen susu yang paling berperan dalam pembuatan yoghurt adalah laktosa dan kasein. Laktosa yang merupakan carbohydre susu digunakan sebagai sumber energi selama pertumbuhan biakan bakteri dan akan menghasilkan asam laktat. Terbentuknya asam laktat dari hasil fermentasi laktosa menyebabkan keasaman susu meningkat atau pH menurun, kasein merupakan komponen terbanyak dalam susu yang sangat peka terhadap asam. Dalam kondisi keasaman yang rendah maka kasein menjadi tidak stabil sehingga kasein akan terokaqulasi membentuk padatan yang disebut yoghurt. Pada umumnya yoghurt yang baik memiliki total asam laktat 0,85% - sampai 0,95 % atau derajat keasaman 4 – 4,5.
Dari hasil praktikum yang dilakukan didapatkan yoghurt berwarna putih kekuningan, tekstur kental, rasa asam, gurih susu, dan memiliki bau khas susu asam. Menurut Argandhina P. (2014) bahwa mutu yoghurt dapat dinilai dari beberapa parameter yang diantaranya yaitu pH, kekentalan, cita rasa, dan kesukaan. Yoghurt yang baik memiliki ciri – ciri yaitu berwarna kekuningan dan berbau asam. Asam laktat yang dihasilkan selama proses fermentasi dapat meningkatkan cita rasa dan meningkatkan keasaman atau menurunkan pH nya (Winarno, 2007).
Mutu susu dapat diidentifikasi dengan menggunakan berbagai metode uji seperti uji reduktase, uji alkohol, uji keasaman, uji berat jenis, uji rebus, uji warna, iju bau, uji rasa, uji tekstur, dan uji kebersihan.
Hasil uji reduktase yang dilakukan yaitu warna biru hilang dan menjadi warna putih. Menurut sudarwanto (2005) menyatakan bahwa beberapa jenis bakteri dapat melakukan fermentasi padda susu sehingga merubah laktosa menjadi asam laktat sehingga susu tersebut mengalami penggumpalan jika masih menyatu dan homogen maka susu tersebut baik dan layak untuk dikonsumsi.
Hasil dari uji alkohol yang dilakukan yaitu tidak terjadi penggumpalan di dinding tabung reaksi atau hasil uji negatif. Prinsip dasar pada uji alkohol merupakan kestabilan sifat kolodial protein susu tergantung pada selubung atau mantel air yang menyelimuti butir – butir protein terutama kasein. Terdapat pada penambahan 5 ml alkohol 70% ke dalam susu segar setelah dihomogenkan tidak adanya gumpalan susu berarti negatif atau kualitas susu baik untuk dikonsumsi (Sudarwanto, 2005).
Derajat keasaman susu bernilai 0,202%, berarti susu dalam keadaan baik. Menurut SNI (1998) bahwa susu segar umumnya mempunyai derajat keasaman sekitar 0,18% sampai 0,24 %, penentuan derajat keasaman dapat dilakukan dengan menggunakan titrasi asam basa.
Dari hasil praktikum uji BJ yang dilakukan didapatkan BJ susu yaitu 1,0239. Menurut soeparno (2011) menyatakan bahwa variasi bobot spesifik susu yang baik yaitu berkisar antara 1, 027 sampai 1,035.
Dari uji rebus yang dilakukan yaitu susu tidak menggumpal, tidak pecah, dan encer. Sudarwanto (2005) menyatakan bahwa beberapa jenis bakteri dapat dilakukan fermentasi pada susu sehingga merubah laktosa menjadi asam laktat sehingga susu tersebut mengalami penggumpalan jika masih menyatu dan homogen maka susu tersebut baik dan layak untuk dikonsumsi.
Dari praktium yang dilakukan didapatkan bahwa warna susu yaitu putih kekuningan. Menurut maheswari (2004) bahwa warna susu yang normal adalah putih kekuningan. Warna putih disebabkan karena refleksi sinar matahari dengan adanya butiran – butiran lemak, protein, dan garam – garam di dalam susu. Warna kekuningan merupakan cerminan warna karoten dalam susu.
Hasil dari pengamatan dengan indra pembau didapatkan bau susu memiliki bau khas susu sapi. Menurut lukman (2009) bahwa susu segar yang normal mempunyai bau yang khas terutama karena adanya asam – asam lemak. Bau dapat mengalami perubahan dikarenakan adanya pertumbuhan mikroba dan bau dari sekeliling susu.
Dari hasil praktikum yang dilakukan yaitu susu berasa gurih, asin dan sedikit manis. Diyert (1997) menyatakan bahwa susu yang bagus dan layak dikonsumsi sedikit ada rasa manisnya selain untuk rasa juga dapat meningkatkan selera untuk minum susu.
Dari pengamatan yang dilakukan  bahwa susu dalam keadaan bersih karena tidak terdapat kotoran pada permukaan kapas. Soeparno (2011) menyataan bahwa susu dalam keadaan bersih yaitu susu yang apabila dilakukan penyaringan tidak terdapat kotoran.

KESIMPULAN
A. Kesimpulan
1. Yoghurt merupakan produk hasil fermentasi susu dengan menggunakan Streptococcus thermophilus dan lactobacillus bulgaricus sebagai starternya.
2. Pada saat memasukkan yoghurt plan suhu susu harus didinginkan terlebih dahulu dari suhu saat pemanasan susu yaitu 900C menjadi sekitar 450C – 550C. Hal ini sangat penting karena jika yoghurt plan dimasukkan pada saat suhu susu masih  tinggi  sekitar 900C, maka bakteri yang terkandung dalam yoghurt plan tersebut akan mati sehingga pembuatan yoghurt akan mengalami kegagalan.
3. uji kualitas susu segar dapat dilakukan dengan uji secara kimia, uji fisik, dan uji organoleptik.
4. uji secara kimia terdiri dari uji reduktase (MBRT), uji alkohol, dan uji keasaman.
5. uji secara fisik meliputi uji berat jenis dan uji rebus.
6.  uji secara organoleptik meliputi uji warna, bau, rasa, tekstur, dan uji kebersihan.
B. Saran
Dalam kegiatan praktikum sebaiknya dilakukan secara hati – hati, fokus, dan sesuai dengan SOP yang berlaku. Karena kegagalan berawal dari ketidak hati – hatian.


Daftar pustaka
Andriani, Indrayati L., Tanuwiria U. H., Mayasari N. 2008.  Aktivitas Lactobacillus acidophilus dan Bifidobacterium Terhadap Kualitas Yoghurt dan Penghambatannya pada Helicobacter pylori. Jurnal Bionatura, Vol. 10, No. 2, Juli 2008 : 129 – 140.

Dwipadma J. K. 1978. Pekerjaan Laboratorium Mikrobiologi Pangan. Departemen Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Mekanisasi dan Teknologi Hasil Pertanian IPB.
H. Maria. 2014. Pembuatan Yoghurt Menggunakan Starter Lactobacillus Bulgaricus dan Streptococcus Thermophilus. Pembekalan Alumni 3 Desember 2014. Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman.

Indratiningsih, Widodo, Oktavia S. S. I., dan W. Endang. 2004. Produksi Yoghurt Shitake (Yoshitake) Sebagai Pangan Kesehatan Berbasis Susu. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, Vol XV, No. 1, Th. 2004.
S. K. Dian, dkk. 2016. Pembuatan dan Aktivitas Anti Bakteri Yoghurt Hasil Fermentasi Tiga Bakteri (Lactobacillus Bulgaricus, Streptococcus Thermophilus, Lactobacillus Acidophilus). Jurnal Al – Kimia, Vol. 4, No. 2.
 Lukman D. W,. Dkk. 2009. Pemerahan dan Penanganan. Bogor : FKH, IPB.
Maheswari RRA. 2004.

Minggu, 27 Mei 2018

penggemukan sapi potong menggunakan pakan lokal

PENGGEMUKAN SAPI POTONG MENGGUNAKAN PAKAN LOKAL
SEBAGAI TUGAS MATA KULIAH TEKNOLOGI FEEDLOT

PENDAHULUAN

Sapi potong merupakan salah satu komoditas ternak strategis yang dapat mendukung stabilitas nasional. Pada tahun 2017, produksi daging nasional baru tercapai 354.770 ton sedangkan perkiraan kebutuhan mencapai 604.968 ton, sehingga untuk memenuhi kekurangannya 30 – 40 % harus dipenuhi dari impor baik dalam bentuk sapi bakalan maupun dalam bentuk daging. Pasokan impor daging diprediksikan semakin meningkat dan mencapai 70% pada tahun 2020. Peningkatan impor sapi potong dan daging merupakan indikasi peningkatan permintaan daging atau ketidaksanggupan pemenuhan kebutuhan yang harus disuplai dari sapi potong dalam negeri. Pemaksaan pemenuhan kebutuhan daging dari sapi lokal merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan pengurasan sapi potong lokal.
Pencapaian program kecukupan daging nasional pada tahun 2015 juga bergantung kepada ketersediaan sapi potong yang berkualitas. Dengan penyediaan bibit unggul diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sapi potong lokal. Sapi potong lokal sangat potensial dengan berbagai keunggulannya di daerah tropis.
Hasil – hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 70% produktivitas ternak dipengaruhi oleh faktor lingkungan, sedangkan faktor genetik hanya mempengaruhi 30%. Diantara faktor lingkungan tersebut, aspek pakan mempunyai pengaruh paling besar yaitu sekitar 60%. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun potensi genetik ternak tinggi namun apabila pemberian tidak memenuhi persyaratan kuantitas dan kualitas maka produksi yang tinggi tidak akan tercapai. Disamping pengaruhnya yang besar terhadap produktivitas ternak, faktor pakan juga merupakan biaya terbesar dalam usaha peternakan. Biaya pakan ini dapat mencapai 60 – 80 % dari keseluruhan biaya produksi.
Dalam perjalanannya kondisi sapi potong lokal sekarang ini telah mengalami degradasi produksi dan banyak didapatkan dalam bentuk kecil. Penurunan diakibatkan oleh turunnya mutu genetik sapi potong lokal. Kesemuanya ini antara lain diakibatkan oleh pemotongan ternak yang memiliki kondisi baik yang digunakan seebagai standar pasar ternak sapi potong dan jumlah pemotongan induk/ betina produktif mencapai 40%. Genotip sapi potong lokal yang ada memiliki keragaman yang luas, sehingga cukup memiliki potensi genetik yang unggul dan siap untuk ditingkatkan potensi genetiknya secara maksimal untuk mendapatkan keturunan superior.
Potensi sumber daya usaha sapi potong di indonesia seperti pakan dan bangsa sapi lokal merupakan faktor yang penting sebagai sumber keunggulan komparatif usaha sapi potong. Berkenaan dengan pakan, pola pemeliharaan sistem gembala bebas atau gembala diikat walaupun lebih mengandalkan pakan hijauan, ternyata mampu memberikan keunggulan dalam ketersediaan pakan yang mudah. Hal tersebut tercermin dari nilai DHC usaha sapi potong sistem gembala yang kurang dari satu. Ketersediaan limbah pertanian sebagai asupan pakan juga merupakan sumber daya saing usaha sapi potong di indonesia.
Pakan adalah semua yang bisa dimakan oleh ternak dan tidak mengganggu kesehatannya. Pakan merupakan sumber energi dan materi bagi pertumbuhan dan kehidupan makhluk hidup. Pakan lokal adalah setiap bahan baku yang merupakan sumber daya lokal yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan secara efisien oleh ternak, baik sebagai suplemen, komponen konsentrat atau pakan dasar. Pakan alami adalah pakan yang berasal dari alam, sedangkan pakan buatan adalah pakan yang disiapkan oleh manusia dengan bahan dan komposisi tertentu yang sengaja disiapkan oleh manusia.
Efisiensi usaha pembesaran pejantan sangat dipengaruhi oleh faktor sapi bakalan dan tata laksana pemeliharaan terutama pakan. Bagi usaha pembesaran pejantan komersial seperti halnya feedlot atau usaha yang dilaksanakan secara intensif maka kualitas pakan diatur sedemikian rupa agar dapat memenuhi kebutuhan untuk mendapatkan tingat pertumbuhan (PBBH) yang optimal. Pakan lokal untuk ternak ruminansia di indonesia masih didominasi oleh limbah pertanian. Secara umum, limbah pertanian mempunyai kualitas yang rendah (rendah kandungan protein, energi, vitamin, dan mineral) sebaliknya mengandung serat kasar yang tinggi sehingga salah satu cara mengoptimalkan pemanfaatannya adalah dengan meningkatkan kapasitas saluran pencernaan yang meliputi rekayasa komposisi mikroorganisme dan serta optimalisasi fungsi saluran pencernaan ( Nur A. Yenny, 2004)..
Silase dan daun pelepah sawit bisa mensubtitusi sebagian penggunaan hijauan rumput dalam pemeliharaan sapi simental. Meskipun tingkat palatabilitas silase pelepah dan daun sawit lebih rendah dibandingkan hijauan rumput namun tidak mempengaruhi tingkat pertumbuhan ternak. Perlu meningkatkan palatabilitas silase pelepah dan daun sawit sehingga pemanfaatannya sebagai sumber pakan dasar bisa meningkat. Hal ini bermanfaat untuk menghadapi kekurangan produksi hijauan rumput alam dalam pemeliharaan sapi simental (A.D. Ratna, 2013).



PEMBAHASAN

Kebutuhan daging sapi terus meningkat seiring makin baiknya kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi yang seimbang, pertambahan penduduk, dan meningkatnya daya beli masyarakat. Salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan daging dalam negeri yaitu dengan meningkatkan populasi, produksi, dan produktivitas sapi potong.
Perkembangan usaha sapi potong dalam bentuk penggemukan sapi (feedloot) didorong oleh permintaan daging yang terus menerus meningkat dari tahun ke tahun. Bentuk usaha ternak sapi potong ini bisa dilakukan secara perorangan maupun dalam bentuk perusahaan skala besar, namun ada juga yang mengusahakan penggemukan sapi ini secara berkelompok.
Indonesia sebagai negara kepulauan, tidak mempunyai areal yang luas untuk menggembalakan ternak, kecuali di NTT, NTB, dan beberapa wilayah lain di kawasan timur indonesia. Di samping itu, produksi biji – bijian masih sangat terbatas, bahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masih harus mengimpor dalam jumlah yang cukup besar. Oleh karena itu pengembangan ternak ruminansia di Indonesia harus memanfaatkan sumber serat, energi dan protein yang melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal yaitu limbah pertanian, perkebunan dan agroindustri. Limbah ini biasanya mengandung faktor anti nutrisi, atau kandungan serat yang tinggi, sehingga kurang baik untuk ternak.
Guna mencukupi kebutuhan nutrisi ternak sapi untuk pertumbuhan sesuai dengan kemampuan genetik, maka perlu dilengkapi dengan ransum yang memenuhi kebutuhan nutrien tersebut. Formulasi ransum dapat dilakukan menggunakan bahan – bahan pakan yang tersedia di lokasi seperti dedak padi kualitas rendah, jagung afkir, bungkil kelapa yang kurang layak untuk monogastrik, bungkil inti sawit, dan lain sebagainya.
Inovasi teknologi pakan murah berbasis sumberdaya lokal dan limbah pertanian, perkebunan dan agro industri perlu dilakukan dalam rangka menyediakan sumber bahan baku pakan bagi ternak ruminansia (sapi) secara berkelanjutan. Hal ini menjadi bahan dasar dalam penyusunan pakan komplit yang murah dan berkualitas sehingga terjangkau oleh masyarakat. Inovasi sistem integrasi tanaman-ternak melalui pendekatan zero waste perlu dilakukan untuk dapat mencapai usaha peternakan yang  mendekati zero cost. Usaha cow calf operation yang terintegrasi dengan usaha pembesaran atau penggemukan hanya dapat terus berkembang apabila biaya pakan dapat ditekan serendah mungkin, atau eksternal input diminimalkan (Dwiyanto et al, 20004).
Produksi jerami padi yang melimpah merupakan sumber pakan ternak ruminansia yang cukup menjanjikan. Namun, disebabkan oleh kandungan protein yang rendah serta tingginya silika dan lignin mengakibatkan rendahnya kecernaan pada ruminansia. Nilai nutrisi jerami padi dapat ditingkatkan dengan berbagai metode perlakuan. Meskipun demikian, berbagai metode perlakuan tersebut tampaknya tidak mampu memenuhi kebutuhan basal ternak sehingga tidak dapat digunakan sebagai pakan tunggal kecuali diberikan tambahan pakan dari sumber yang lain (Yanuartono, 2017).
Penggunaan jerami padi menggunakan bakteri selulolitik sebagai stok pakan dasar yang terkadang ditambahkan konsentrat berupa bekatul ditambah garam dan air dicomborkan. Perbaikan manajemen produksi dalam penggemukan sapi potong secara intensif dapat menggunakan bahan pakan limbah jerami padi difermentasi dahulu agar lebih berkualitas, bergizi dan palatabel untuk meningkatkan pertumbuhan yang berdampak pada pendapatan dan keuntungan peternak (Ali U, 2017).


Jerami padi hasil fermentasi dengan menggunakan probion berpeluang sebagai pakan pengganti rumput Gajah dan mampu mempertahankan konsumsi, kecernaan, pertambahan bobot hidup harian serta efisiensi penggunaan pakan sapi Simmental (Antonius, 2009).

Pengembangan pertanian melalui program intensifikasi pertanian untuk menjaga ketahanan pangan menyebabkan produksi pangan meningkat sekaligus produksi limbah tanaman pangan juga meningkat, hal ini membuat semakin meningkatnya ketersediaan hijauan makanan ternak. Program intesifikasi tanaman pangan ini tentunya sangat menguntungkan bagi penyediaan hijauan makanan ternak. Selain itu juga pemanfaatan limbah tanaman pangan sebagai pakan ternak akan mengurangi pencemaran lingkungan (Umela, 2016).

Pakan adalah kebutuhan mutlak yang harus selalu diperhatikan dalam pemeliharaan ternak ruminansia yaitu sapi, kerbau, kambing, dan domba. Namun ketersediaan pakan selalu menjadi kendala terutama di saat musim kemarau, pakan berupa hijauan segar sulit didapatkan, yang ada hanya sisa – sisa tanaman berupa jerami. Satu diantaranya adalah jerami jagung yang menjadi potensi besar sebagai sumber pakan, hanya saja kualitasnya rendah. Untuk meningkatkan kualitas dan manfaat jerami jagung maka diperlukan teknologi yang mudah dan sederhana yang dapat dilakukan petani. Oleh karena itu diperlukan perlakuan agar kualitasnya dapat ditingkatkan antara lain dengan teknologi amoniasi-molase. Amoniasi adalah cara perbaikan mutu pakan melalui pemberian urea sebagai NPN (Non protein nitrogen), sedangkan molase adalah hasil samping agroindustri dalam proses pembuatan gula (tetes tebu) yang bermanfaat sebagai sumber energi yang sangat dibutuhkan oleh ternak (Bahar S, 2016).

Pada penelitian kecernaan jerami jagung manado kuning dan jerami jagung hibrida jaya 3 pada sapi PO di dapatkan bahwa konsumsi bahan kering, kecernaan bahan kering, kecernaan protein kasar dan kecernaan NDF jerami jagung manado kuning lebih tinggi dibanding dengan jerami jagung hibrida jaya 3 (Tuwaidan N.W.H, 2015).

Pakan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam penggemukan sapi potong. Rumput raja  dan tebon jagung merupakan hijauan yang sering diberikan pada sapi potong. Pemberian rumput raja dalam ransum maksimal 50% dan pemberian tebon jagung  minimal 50% dapat memberikan performans yang baik pada sapi PO betina (Heryanto, 2016).
Kulit buah kakao mengandung senyawa polifenol dan flavanoid. Senyawa polifenol dan flavanoid ini memiliki aktivitas antioksidan. Senyawa aktif yang diekstraksi dari kulit buah kakao baik dari buah yang masak maupun yang masih muda ditentukan aktivitas antioksidannya menggunakan metode DPPH. Aktivitas antioksidan kulit buah kakao masak yang tertinggi diperoleh dari fraksi etil asetat (A. Jusmiati, 2015).

Fermentasi merupakan salah satu teknologi unntuk meningkatkan nilai gizi pakan berserat tinggi. Fermentasi dapat menghidrolisis protein, lemak, sellulosa, lignin, dan polisakarida lain. Sehingga bahan yang akan difermentasi akan mempunyai daya cerna yang lebih tinggi dan dapat meningkatkan total TDN. Manfaat fermentasi buah kakao adalah meningkatkan daya cerna, meningkatkan kadar protein, menurunkan kadar lignin, menekan efek buruk racun theobromine pada kulit buah kakao, dan meningkatkan nilai gizi pakan.  Untuk ternak sapi dan kambing pemberian fermentasi kulit buah kakao dapat diberikan sebanyak 0,7 – 1 % BB (Anas S., 2011).

Pemanfaatan pakan lokal dalam bentuk hijauan dan konsentrat yang diberikan pada sapi bali dara memberikan pengaruh pertambahan bobot badan harian (PBBH) yang lebih baik dibandingkan dengan hanya diberi hijauan saja. Demikian juga dengan analisis ekonomi menunjukkan bahwa pemberian hijauan dan konsentrat memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan hanya diberi hijauan saja (Nurhayu, 2011).

Sapi potong pada kelompok tani ternak di pedesaan ditujukan untuk menghasilkan pedet dan bakalan (cow-calf operation) serta usaha penggemukan (fattening). Produktivitas sapi cow-calf operation menujukkan hasil sangat rendah dengan produktivitas pedet 6% pada kebuntingan kedua dan tingkat kematian pedet mencapai 25%. Hasil penggemukan sapi potong belum mencapai optimal yang diindikasikan kondisi BCS berkisar 3 sampai 6 dengan modus 4 (Peranakan Ongole dan Sumba Ongole) dan 5 (Persilangan Simental dan Charolois). Penerapan Good Farming Practice dengan perhatian khusus pada aspek pemilihan bibit dan penguatan pakan sangat direkomendasikan untuk meningkatkan produktivitas sapi potong pada kelompok tani ternak di pedesaan (Sodiq, 2012).

Produktivitas hijauan padang penggembalaan musim kemarau yang didominasi oleh rumput alang-alang. Perhitungan kapasitas tampung pada kecamatan Mata Usu masih under grazing dan Lantari Jaya dengan jumlah ternak yang digembalakan cenderung berlebihan (Over Grazing). Pola pemeliharaan yang tidak terkontrol sehingga berpengaruh langsung pada rendahnya produktivitas ternak, terlihat masih tingginya angka ternak terserang penyakit serta angka kematian anak dan dewasa masih tinggi. Pemberian pakan tambahan tidak berpengaruh terhadap pertambahan berat badan ternak (Rauf, 2015).

Sebaik apapun inovasi teknologi yang diberikan, tanpa bimbingan yang berkesinambungan sampai petani peternak mempraktikan dan merasakan manfaat dari penerapan teknologi tersebut, maka penyuluhan yang dilakukan hanya akan sebatas teori saja. Percontohan budidaya rumput dilaksanakan di lahan kelompok peternak Desa Purwadadi Barat. Pembuatan Urea Molasses Blok belum dilaksanakan karena merupakan hal yang baru bagi peternak di Pasirbungur dan Purwadadi Barat, sehingga umumnya mereka belum berani untuk mencobanya sebelum melihat sendiri praktek dan keberhasilannya di peternak sekitar mereka. yang telah memfasilitasi dan mendanai kegiatan, serta aparat Desa Pasirbungur dan Purwadadi Barat yang telah membantu kelancaran kegiatan ini (Susilawati, 2014).


kolostrum atau susu jolong

Kolostrum (dari bahasa latin colostrum) atau jolong adalah susu yang dihasilkan oleh kelenjar susu dalam tahap akhir kehamilan dan beberapa hari setelah kelahiran bayi. Kolostrum manusia dan sapi warnanya kekuningan dan kental. Kolostrum penting bagi bayi mamalia (termasuk manusia) karena mengandung banyak gizi dan zat-zat pertahanan tubuh.
Kolostrum (IgG) mengandung banyak karbohidrat, protein, dan antibodi, dan sedikit lemak (yang sulit dicerna bayi). Bayi memiliki sistem yang belum sempurna, dan kolostrum memberinya nutrisi dalam konsentrasi tinggi di seiap tetesnya. Kolostrum juga mengandung zat yang mempermudah bayi buang air besar pertama kali, yang disebut meconium. Karakter kolostrum ini sangat bermanfaat unntuk membersihkan tubuh bayi dari bilirubin, yaitu sel darah merah yang mati yang diproduksi ketika kelahiran.
Kolostrum adalah cairan pra-susu yang dihasilkan oleh induk mamalia dalam 0-48 jam pertama setelah melahirkan (pasca-persalinan). Kolostrum mensuplai berbagai faktor kekebalan (faktor imun) dan faktor pertumbuhan pendukung kehidupan dengan kombinasi zat gizi (nutrien) yang sempurna untuk menjamin kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan kesehatan bagi bayi yang baru lahir. Namun karena kolostrum manusia tidak selalu ada, maka kita harus bergantung pada sumber lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolostrum sapi (bovine colostrum) sangat mirip dengan kolostrum manusia dan merupakan suatu alternatif yang aman. Bahkan ada laporan yang menyatakan bahwa kolostrum sapi empat ratus kali lebih kaya akan faktor imun daripada kolostrum manusia.
Ada lebih dari 90 bahan bioaktif alami dalam kolostrum. Komponen utamanya dikelompokkan menjadi dua yaitu faktor imun dan faktor pertumbuhan. Kolostrum juga mengandung berbagai jenis vitamin, mineral, dan asam amino yang seimbang. Semua unsur ini bekerja secara sinergis dalam memulihkan dan menjaga kesehatan tubuh.
Faktor Imunitas Tubuh
Adanya berbagai penyakit degeneratif (keturunan) dan infeksi yang menyerang manusia adalah disebabkan oleh lemahnya sistem imunitas tubuh. Penelitian secara medis menunjukkan bahwa kolostrum : * Mempunyai faktor imunitas yang kuat (Immunoglobulin, Lactoferin, Lactalbumin, Glycoprotein, Cytokines dll) yang membantu melawan virus, bakteri, jamur, alergi dan toksin. * Membantu mengatasi berbagai masalah usus, auto imunitas, arthritis, alergi HIV. * Membantu menyeimbangkan kadar gula dalam darah dan sangat bermanfaat bagi penderita diabetes. * Kaya akan kandungan TgF-B yang mendukung terapi penderita kanker, pembentukkan tulang dan mencegah penyakit herpes. Mengandung Immunoglobulin yang telah terbukti dapat berfungsi sebagai anti virus, anti bakteri, anti jamur dan anti toksin. == Faktor Pertumbuhan == Kolostrum mengandung faktor pertumbuhan alami yang berfungsi untuk : * Meningkatkan sistem metabolisme tubuh. * Memperbaiki sistem DNA & RNA tubuh. * Mengaktifkan sel

Faktor Nutrisi
Kalsium, Protein, Vitamin, Tenaga, Lain – lain
Beberapa manfaat utama Kolostrum adalah :
meningkatkan rasa bugar secara keseluruhan
mengurangi lemak tubuh tanpa diet
menguatkan tonus dan tekstur kulit
meningkatkan daya ingat
menghilangkan kerutan
meningkatkan pertumbuhan rambut pada pria
tingkat energi lebih tinggi
meningkatkan kekuatan dan jumlah otot
meningkatkan suasana hati (mood)
meningkatkan fleksibilitas punggung
meningkatkan toleransi dan ketahanan latihan
kapasitas pemulihan lebih cepat dan pemulihan kembali dari cedera lama
memperbaiki fungsi imun sehingga meningkatkan perlindungan terhadap penyakit terkait dengan kekebalan tubuh.

Rabu, 02 Mei 2018

kolibasilosis

Kolibasilosis

Kolibasilosis merupakan kelompok penyakit pada unggas yang disebabkan sejumlah serotype Escherischia coli yang bersifat pathogen dan mampu menyerang ayam pada semua umur. Infeksi E.coli dapat berbentuk kematian embrio pada telur tetas, infeksi yolk sac, omfalitis, kolisepticemia, air sacculitis, enteritis, infeksi saluran reproduksi, arthriid, panoptalmitis dan bursitis sternalis. Colibacillosis adalah penyakit pada hewan, terutama yang berumur muda yang disebabkan oleh bakteri Escherichia coli (E.coli). E.coli pertama diisolasi oleh Escheric pada tahun 1885 dan feses manusia pada anak muda. Penyebaran bakteri ini sangat luas, lazim ditemukan dalam usus (terutama usus bagian bawah) baik pada hewan maupun manusia. Bakteri sering dihubungkan dengan berbagai kejadian seperti infeksi pusar, infeksi persendian, mastitis, pylonephritis, cervicitis dan metritis pada sapi serta pada babi dikenal penyakit "gut oedema". Penyakit ini, berkembang cepat dengan derajat kematian tinggi pada semua spesies. Derajat kematian pada anak sapi dapat mencapai 25 – 30 %, pada anak kuda dan anak babi mencapai 25 %.  Kejadian penyakit Kuman E.coli merupakan penghuni normal dalam saluran pencernaan ayam sehingga adanya bakteri tersebut dalam air minum merupakan suatu petunjuk pencemaran oleh feses. Banyak ditemukan di usus terutama pada usus halus bagian tengah (jejunum), bagian bawah (ileum) dan sekum. Kuman tersebut juga dapat ditemukan pada oesophagus dan trachea. Faktor pendukung timbulnya kolibasilosis meliputi sanitasi, desinfeksi sub optimal, sumber air minum yang tercemar oleh bakteri, system perkandangan dan peralatan yang kurang memadai, dan adanya penyakit immunosupresif (terutama Gumboro).

 Etiologi Kolibasilosis disebabkan oleh bakteri Escherischia coli yang tergolong Gram negative, tidak tahan asam, tercat uniform, merupakan basilus yang tidak membentuk spora dan memiliki bentuk dan ukuran yang bervariasi. E.coli bersifat motil karena memiliki flagella. E.coli disebut juga “ opportune pathogens” karena penyakit yang ditimbulkannya biasanya bersifat sekunder mengikuti stress atau penyakit lain, misalnya Gumboro. Bakteri ini tumbuh pada temperature 38-44 C atau lebih rendah. Bakteri E.coli yang bersifat pathogen memiliki struktur dinding sel yang disebut pili. Faktor virulensi bakteri ini dipengaruhi oleh ketahanan terhadap fagositosis, kemampuan perlekatan pada epitel saluran pernafasan, dan ketahanan terhadap daya bunuh serum. Serotipe yang paling sering menyebabkan penyakit pada unggas antara lain 01,02,035, dan 078.

 Cara penularan Infeksi E.coli dapat menyerang ayam muda maupun ayam dewasa. Penyakit ini biasanya ditemukan pada lingkungan yang kotor dan berdebu atau pada kelompok ayam yang terserang penyakit immunosupresif atau stres lingkungan. Bakteri ini dapat ditemukan pada litter, kotoran ayam, debu/kotoran dalam kandang dan lingkungan, pakan dan air minum. Penularan dapat secara kontak langsung antara ayam yang sakit dengan ayam yang sensitive. Penularan secara tidak langsung dapat terjadi melalui kontak antara ayam yang sensitive dengan bahan-bahan tercemar oleh leleran tubuh atau feses penderita kolibasilosis. Penularan biasanya terjadi secara oral melalui pakan, minuman atau debu yang tercemar oleh E.coli. Debu atau kotoran yang telah terkontaminasi E.coli dapat terhirup melalui saluran pernafasan dan mungkin akan terjadi infeksi pada saluran tersebut.

Gejala Klinis pada anak sapi, dikenal 3 (tiga) bentuk colibacillosis pada anak sapi yang masing-masing dapat berdiri sendiri atau bersama-sama, sebagai berikut : (1) Enteric-toxaemic colibacillosis. Anak sapi yang terserang dapat kolaps dan akhirnya mengalami kematian dalam waktu 2-6 jam. Gejala Klinis yang menonjol adalah koma, suhu normal, selaput lendir pucat, sekitar mulut basah, denyut jantung tak teratur dan lambat, disertai gerakan konvulasi ringan, tidak disertai diare; (2) Septicaemic colibacillosis. Sering dijumpai pada anak hewan berumur sampai 4 hari. Penyakit ini bersifat akut, kematian dapat terjadi dalam 24-96 jam tanpa gejala-gejala klinis yang jelas. Bila terdapat tanda-tanda klinis, hewan akan menjadi lemah dan depresi, tidak nafsu makan, suhu tubuh dan denyut jantung yang semula naik dengan cepat menurun hingga subnormal berbarengan dengan adanya diare. Gejala lain yang mungkin dilihat antara lain lumpuh, sendi bengkak dan sakit, miningitis diikuti dengan panophthalmitis; (3) Enteric colibacillosis. Paling sering dijumpai pada anak sapi umur seminggu sampai 3 minggu. Feses encer atau serupa pasta, berwarna putih sampai kuning dan mengandung noda darah. Feses berbau tengik serta mengotori sekitar anus dan ekornya. Denyut nadi dan suhu tubuh naik mencapai 40,5°C. Penderitaan terlihat apatis, lemah, berhenti minum dan secara cepat mengalami dehidrasi. Pada palpasi perut ditemukan reaksi nyeri. Tanpa pengobatan, hewan dapat mati dalam waktu 3-5 hari.
Pada kejadian colibacillosis jangan lupa untuk memperhatikan terhadap kemungkinan peradangan pusar dan jaringan sekitarnya. Gejala Klinis pada anak Domba. Manifestasi penyakit pada anak domba hampir selalu sama dalam bentuk septisemik yang perakut, walaupun beberapa menunjukkan bentuk enterik yang kronik. Dua kelompok umur yang rentan terhadap penyakit yaitu anak domba umur 1-2 hari dan umur 3-8 minggu. Kejadian perakut ditandai dengan kematian mendadak tanpa gejala klinis. Kejadian akut ditandai dengan jalan kaku pada awalnya, kemudian hewan rebah. Terdapat hyperaestesia dan konklusi tetanik. Kejadian kronik ditandai dengan arthritis. Gejala Klinis pada anak Babi. Gejala yang terlihat berupa depresi, anoreksia, demam yang berlangsung beberapa hari dan diare. Selain itu ditemukan kulit sedikit kebiruan. Babi terserang biasanya dalam kondisi bagus dengan mendapat ransum yang terdiri dari biji-bijian. Perubahan mendadak baik dalam pemberian pakan atau pengelolaannya, mengundang timbulnya penyakit ini.

Pengobatan. Untuk pengobatan colibacillosis, bermacam-macam antibiotik diketahui memberikan hasil baik terhadap kejadian colibacillosis, diantaranya tetracycline, neomycin dan streptomycin. Kebiasaan memberikan antibitik kepada anak ternak sering menimbulkan resistensi. Pemberian antibiotik pada ternak potong dihentikan sekurang-kurangnya 7 hari sebelum dipotong. Selain pemberian antibiotik atau sulfonamide, obat-obatan penunjang lainnya, sebaiknya diberikan juga infus dengan NaCl fisiologis. Pencegahan, Pengendalian dan Pemberantasan. Dalam hal ini, hindari keadaan penuh sesak di kandang, usaha ternak terbagi dalam kelompok kecil dan terdiri dari umur yang sama. Pengendalian colibacillosis pada anak ternak adalah dengan manajemen kandang dan hygiene yang baik. Lantai kandang terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan. Disinfektan kandang dilakukan setiap ada pergantian kelompok ternak. Tempat pakan dan air minum diletakkan sedemikian rupa sehingga terhindar dari pencemaran feses. Untuk anak sapi yang baru lahir harus segera mendapatkan kolustrum. Tempat pakan dan minum segera disucihamakan setiap habis dipakai. Pemberian pakan atau minum pada anak-anak sapi oleh pekerja hendaknya dilakukan dari luar kandang untuk mencegah kemungkinan infeksi melalui sepatu, pakaian ataupun peralatan kandang lainnya. Sedangkan ternak baru harus dilakukan tindakan karantina dan lebih baik lagi disertai pengobatan profilaktik pada saat kedatangan. Sebaiknya dihindari pembelian ternak baru umur muda. Bagi peternakan yang sering mengalami kejadian colibacillosis dapat dianjurkan untuk melakukan vaksinasi pada induk 2-4 minggu menjelang partus (dengan vaksin autagenous) yang bertujuan untuk mengurangi jumlah kematian yang biasanya tinggi dan mendadak.